Namun ilmu pengetahuan "dengan bijaksana"
cenderung mengabaikan dalih-dalih filsafat semacam
ini. Apa pun yang terjadi, Hawking dan para kosmolog
lainnya tetap melaksanakan penelitian mereka. Mung-
kin kita memang tidak bisa melihat apa yang ada dalam
lubang hitam, di mana hukum-hukum fisika tidak lagi
berlaku, namun kita masih bisa memperkirakan apa
yangterjadi di "wilayah terlarang" ini. Asal-usulnya telah
dijelaskan — sekarang tinggal masalah menjelaskan
kelanjutan eksistensinya.
Di seberang Atlantik, Wheeler tidak hanya "mem-
baptis" lubang hitam, namun juga muncul dengan
membawa sebuah perkiraan yang dikenal dengan
sebutan "teorema tanpa-rambut". Menurut teorema
ini, sebuah lubang hitam dengan cepat memasuki
keadaan stasioner di mana hanya tiga parameter yang
berlaku, yaitu: massa, pergerakan siku-siku, dan muatan
listrik. Apa pun yang masuk ke dalam lubang hitam,
hanya ketiga parameter ini yang masih tetap
bertahan.
Pada tahun 1974, Hawking dan kelompoknya ber
hasil membuktikan "teorema tanpa-rambut". (Rambut
maksudnya di sini yaitu koordinat-koordinat dimensi
yang menonjol keluar, yang "dicukur habis" saat me
masuki lubang hitam — sehingga hanya bagian-bagian
yang "gundul", massa bermuatan listrik dan selalu
bergerak, yang ada di dalamnya.) Hawking menun-
jukkan bagaimana relativitas menjelaskan perkiraan
Wheeler. Hukum fisika mungkin tidak berlaku dalam
lubang hitam, namun yang terjadi di dalamnya juga
bukan keadaan yang kacau sama sekali.
Selama t ahun akademik 1974 sampai 1975,
Hawking menerima undangan untuk menghabiskan
waktu selama satu tahun di Caltech. Ini yaitu sebuah
"pemukiman" ilmiah paling prestisius di West Coast
— tempat para pakar, termasuk ahli kimia Linus
Pauling, dan juga sekelompok pemenang hadiah Nobel.
(Di antaranya yaitu fisikawan yang juga pemain bongo
Richard Feynman, dan Murray Gell-Mann yang bisa
jadi mampu menciptakan penemuan baru cukup dengan
membaca kutipan James Joyce atau teks agama
Buddha.)
Hawking menyenangi California, sebab berkesem-
patan memakai teleskop paling canggih di Mount
Wilson, dan berhasil menolak ajakan orang-orang untuk
pergi ke Disneyland — meskipun dia punya poster
Marilyn Monroe berukuran besar yang dipajang di
kantornya di Cambridge.
Saat itu penyakit ALS-nya mencapai "plateau"
[yakni, periode di mana hanya sedikit atau tiada
kemajuan sama sekali yang dicapai menuju ke-
sembuhan, peny.] lainnya, dan dia terpaksa harus
memakai kereta dorong. Suaranya juga mulai tidak
bisa dibedakan dari erangan, sehingga hanya rekan-
rekan dekatnya saja yang bisa memahami ucapannya.
Dalam keadaan seperti ini dia menjadi ayah untuk yang
ketiga kalinya pada tahun 1979. Seperti yang dikatakan
oleh salah seorang rekan dekatnya saat memperkenalkan
Hawking di sebuah kuliah: "Dari fakta bahwa anak
bungsunya, Timothy, berusia kurang dari separuh
penyakitnya, maka jelas tidak semua bagian tubuh
Stephen lumpuh!" Para mahasiswa yang mendengarnya
tersipu malu dan Hawking tersenyum lebar.
Pada usia tiga puluh dua tahun, Hawking dipilih
sebagai anggota Royal Society, salah satu anggota ter-
muda dalam sejarah. Penghargaan lain mulai berdatang-
an. Kata Jane, penghargaan-penghargaan ini
"seperti gula-gula yang membeku di atas kue." Dan
hidup bersama Hawking tidak mudah baginya: "Sulit
bagi saya untuk membayangkan hari-hari yang kami
alami di rumah ini — dari kedalaman lubang hitam
sampai semua penghargaan mewah ini."
' Dan sekitar saat-saat itulah Hawking mengalami
"peristiwa eureka", yang mengarahkannya pada pene-
muan besarnya. Suatu malam, saat beranjak tidur, dia
mulai memikirkan tentang permukaan lubang hitam.
Keinginan Hawking yang kuat untuk melakukan
sesuatu tanpa bantuan orang lain berarti bahwa tidur
baginya yaitu sebuah proses yang panjang dan
menyusahkan —jadi dia memiliki waktu yang cukup
lama untuk berpikir sebelum tidur.
Hawking mulai membayangkan apa yang terjadi pada
cahaya yang berada di horizon peristiwa sebuah lubang
hitam. Dia tahu bahwa cahaya yang membentuk
horizon peristiwa (permukaan lubang hitam) tidak
pernah saling mendekat — sebab tertahan, tidak bisa
terlepas dan tidak bisa terserap ke dalam lubang hitam.
Tiba-tiba dia menyadari arti dari hal ini. Permukaan
lubang hitam tidak pernah berkurang atau menyusut.
Dengan kata lain, sekalipun ada dua lubang hitam yang
berdekatan, keduanya tidak akan saling menelan satu
sama lain. Sebaliknya, luas seluruh permukaan kedua
nya tetap sama atau bertambah, tapi tidak mungkin
berkurang. Ini mungkin sulit dipahami — juga tidak
terlalu menarik ataupun penting. Namun implikasi-
implikasinya mampu mengubah pandangan kita tentang
apa yang disebut sebagai lubang hitam. Hawking
merasakan hal ini, dan dia memperoleh kegiatan baru
sebelum tidur. Bahkan kadang tidak tidur semalaman.
Dia menyadari bahwa sifat permukaan lubang hitam
memiliki kemiripan yang cukup aneh dengan hukum
termodinamika kedua. Hukum ini menyatakan bahwa
entropi (atau ketidakberaturan) dalam sistem terisolasi
akan selalu sama atau bertambah; dan jika ada dua
sistem semacam ini yang tergabung, maka jumlah
entropi total lebih besar dibandingkan jumlah entropi
sebelumnya. Pendeknya, ini berarti bahwa jika segala
sesuatu dibiarkan begitu saja, maka ketidakberaturan
yang terjadi akan tetap sama atau meningkat, tidak
mungkin berkurang. (Hawking sendiri memberi
contoh sebuah rumah. Jika anda tidak rajin merawatnya,
maka ketidakberaturan atau kekacauan dalam rumah
anda bertambah. Untuk menciptakan keberaturan, atau
mengatasi ketidakberaturan, diperlukan tambahan
energi lain.)
Hukum ini menjelaskan mengapa ada proses-proses
tertentu yang tidak bisa dibalik. Jika anda menjatuhkan
sebuah gelas dan pecah, maka gelas itu tidak bisa
menempel dan utuh kembali dengan sendirinya —
sebab itu berarti mengurangi entropi, jika kita melihat
gelas ini sebagai satu sistem terpisah. Entropi
menentukan arah dari proses yang tidak bisa dibalik.
Dalam suatu cara, ia menunjukkan arah berjalannya
waktu.
Jadi mengapa sifat lubang hitam mirip dengan hu
kum termodinamika kedua? Apakah itu berarti bahwa
hukum ini berlaku di lubang hitam — yang sebelum-
nya dianggap sebagai suatu tempat di mana hukum-
hukum semacam itu tidak berlaku?
Sampai sekarang, perhitungan-perhitungan tentang
lubang hitam didasarkan pada relativitas, yang dalam
hal ini memang ditujukan untuk menilai sifat dari
objek-objek berukuran besar. Pengaruh-pengaruh pada
tingkat subatom, yang dijelaskan dengan memakai
teori kuantum, tidak diperhitungkan. Pengaruh-
pengaruh tingkat subatom dianggap sangat tidak tepat
bila diterapkan pada objek-objek raksasa seperti bintang
dan lubang hitam. Dan Hawking selanjutnya akan
menunjukkan betapa salahnya asumsi ini. Mekanika
kuantum memberikan petunjuk penting terhadap sifat
lubang hitam yang sesungguhnya.
Pertama, kita perlu mengerti sedikit tentang meka
nika kuantum. Salah satu gagasan paling mendasar dan
paling menarik dalam fisika kuantum dikemukakan
tahun 1927 oleh fisika wan Jerman, Werner Heisenberg,
saat dia masih berusia 26 tahun namun sudah menjadi
pakar teori kuantum. Penemuan terbesar Heisenberg
yaitu prinsip ketidakpastian, yang menyatakan bahwa
kita tidak pernah bisa menentukan secara simultan
posisi dan momentum yang tepat dari sebuah partikel.
Heisenberg menyatakan bahwa hal itu tidak bisa
dilakukan, bahkan secara teoretis, sebab gagasan ten
tang posisi dan kecepatan sesungguhnya tidak ada
artinya di alam. (Pernyataan ini berlaku untuk segala
sesuatu di alam, mulai dari partikel subatom sampai
galaksi paling besar — namun pada tingkat atom dan
di bawahnya, perbedaan-perbedaan yang ada menjadi
penting.)
Satu ilustrasi sederhana yaitu jika kita berusaha
menentukan posisi yang tepat dari sebuah elektron.
Partikel ini sedemikian kecil sehingga hanya bisa di-
deteksi dengan sesuatu yang memiliki panjang
gelombang yang cukup kecil, seperti sinar gamma.
Namun saat sinar gamma ini menabrak elektron, ia
juga mempengaruhi momentum dalam suatu cara yang
tidak bisa diperkirakan. Jadi tidak mungkin kita bisa
menentukan posisi sebuah elektron tanpa mengubah
momentumnya. Dan apabila kita berusaha menentu-
kannya dengan lebih tepat (dengan memakai
gelombang-gelombang yang lebih pendek), maka
semakin besar pula pengaruhnya pada momentum
elektron ini . Demikian juga, bila momentum
ini tidak banyak terpengaruh, maka penilaian kita
atas posisi elektron itu juga kurang tepat.
Seperti halnya pada partikel, hal itu juga berlaku
untuk bidang — yang bisa dianggap terdiri dari berbagai
partikel. Prinsip ketidakpastian Heisenberg mem-
berikan hasil-hasil yang menakjubkan bila diterapkan
untuk ruang (angkasa).
— Ruang juga merupakan bidang.
Tapi bagaimana? sebab menurut definisinya ruang
yaitu kosong, hampa.
— Menurut prinsip ketidakpastian Heisenberg, ini
tidak mungkin.
Mengapa tidak?
— Kita tahu bahwa tidak mungkin mengukur secara
simultan nilai sebuah bidang, beserta tingkat
perubahannya, dengan ketepatan yang mutlak. Ini
berlaku untuk bidang, seperti halnya untuk partikel.
Jadi?
— Ini berarti bahwa tidak ada bidang yang nilainya
persis nol. sebab nilai ini yaitu ukuran pasti
dari nilai bidang ini serta tingkat perubahan
nya. Tidak mungkin, menurut prinsip ketidak
pastian. Namun jika kita benar-benar memiliki
ruang kosong, maka bidang ini nilai persisnya yaitu
nol.
Jadi tidak ada yang namanya ruang kosong?
— Benar. (Atau mungkin hampir tepat!)
Jadi bagaimana?
— Menurut prinsip Heisenberg, bahkan di ruang
(angkasa) akan selalu ada ketidakpastian, meskipun
sangat-sangat kecil. Tapi apa artinya?
— Ketidakpastian ini bisa dibayangkan seperti per-
gerakan kecil, sedikit di atas dan di bawah nol —
tapi tidak pernah benar-benar nol.
Dan bagaimana ini terjadi?
— Kita perlu memikirkannya dengan cara berikut.
Tidak mungkin tidak ada apa-apa, jadi anggap saja
kita memiliki sepasang partikel virtual, yang
bergerak di sekitar nilai nol.
Tapi apa partikel itu, dan mengapa bisa bergerak?
— Pasangan partikel ini terdiri dari partikel dan anti-
partikel. Satu positif, satu negatif. Saat tergabung
keduanya saling meniadakan, dan pasangan partikel
virtual ini terus-menerus bergerak masuk dan keluar
realita, saling membentuk dan meniadakan satu
sama lain. Inilah yang mengakibatkan munculnya
pergerakan sedikit di atas dan di bawah nol.
Lalu apa kaitannya dengan lubang hitam?
— Lubang hitam terdapat di ruang (angkasa), yang
berarti bahwa proses ini terjadi di sekitarnya.
Hawking berspekulasi tentang apa yang terjadi di
permukaan lubang hitam, di horizon peristiwa. Ruang
di permukaan lubang hitam juga memiliki partikel-
partikel virtual ini, yang muncul ke dalam realita.
Namun sebelum saling meniadakan, keduanya terkena
pengaruh lubang hitam. Partikel yang negatif ditarik
dan yang positif ditolak lalu berubah menjadi radiasi.
Jadi lubang hitam memancarkan radiasi thermal (yakni,
panas). sebab nya memiliki suhu yang bisa diukur.
Demikian juga, partikel entropi-tinggi yang masuk
ke dalam lubang hitam menyebabkan permukaannya
bertambah. (Seperti yang telah kita lihat, permukaan
lubang hitam ini disebut sebagai radius Schwarzschild,
yang bergantung pada massanya.) Peningkatan yang
terjadi di permukaan lubang hitam, meskipun mungkin
sangat kecil, menandai peningkatan entropi lubang
hitam. Namun jika lubang hitam memiliki entropi
maka otomatis juga memiliki suhu.
Suhu ini dalam realita mungkin hampir tidak berarti
— sepersatu juta derajat di atas nol — tapi yang pasti
ada. Hawking menunjukkan bahwa lubang hitam
sebenarnya tidak "hitam". la memancarkan radiasi —
panas, seakan-akan memang panas.
Implikasi dari hal ini mengubah sepenuhnya konsepsi
kita tentang lubang hitam. Lubang hitam bukanlah
sebuah lubang di angkasa, di mana materi, ruang-
waktu, dan hukum-hukum fisika tidak ada dan tidak
berlaku. Lubang hitam bisa dilihat sebagai objek yang
ada dalam semesta. la tunduk pada hukum termodi-
namika kedua. la memiliki entropi. Ini berarti ia
bahkan memiliki waktu. Ia tidak lagi tidak dapat dilihat
— sebab ia bisa "dilihat" oleh hukum-hukum fisika.
Tapi ini belum semua. Dalam menggabungkan gaya
berat lubang hitam dengan perilaku atau sifat partikel
virtual, Hawking berarti menggabungkan mekanika
kuantum dan relativitas untuk yang pertama kalinya.
sesudah itu tersebar kabar bahwa Hawking telah
berhasil menemukan beberapa gagasan yang "mengubah
segala sesuatu". Dan pada bulan Februari 1974, dia
diundang untuk memberikan ceramah dalam kon-
ferensi di Oxford dengan topik lubang hitam. Kon-
ferensi ini diadakan oleh matematikawan John Taylor,
yang juga dianggap sebagai salah satu pakar lubang
hitam. sesudah beberapa pembicara lain selesai me-
nyampaikan gagasan mereka, Hawking dengan kursi
rodanya didorong menuju ke depan aula. Dia mulai
berbicara dengan suara yang hampir tidak bisa di-
mengerti dan para peserta konferensi hampir tidak
percaya dengan apa yang dikatakannya. Jika apa yang
dikatakan Hawking benar maka berarti itu akan
mengubah segala sesuatu. Lubang hitam memiliki wak-
tu, memiliki entropi, dan entropi ini semakin bertam-
bah seperti yang lainnya. Ini berarti bahwa pada akhir-
nya lubang hitam akan menguap menjadi radiasi.
Dengan kata lain, pada akhirnya lubang hitam akan
"meledak".
Para peserta konferensi menyambut pembicaraan
Hawking dengan diam terpesona. Lalu Taylor berdiri
dan mengatakan: "Maaf Stephen, tapi itu sama sekali
tidak mungkin." Tanpa berkata apa-apa Hawking me-
mutar kursi rodanya dan keluar ruangan.
Sebulan kemudian dia menulis sebuah paper yang
menjelaskan tentang hasil-hasil temuannya dan
diterbitkan dalam Nature dengan judul: "Black Hole
Explosion?" Paper ini oleh mantan tutor sekaligus
kolaborator Hawking, David Sciama sebagai "salah satu
yang terbaik dalam sejarah fisika" dan dianggap seban-
ding dengan paper relativitas Einstein, meskipun
signifikansinya lebih kecil. Tapi sama-sama mampu
menciptakan tanggapan antagonistik yang cukup besar
dari orang-orang yang menolak memahaminya. Bebe-
rapa bulan kemudian Taylor menulis tanggapan dalam
Nature yang isinya mengejek gagasan Hawking tentang
lubang hitam yang meledak. Gagasan Taylor, seperti
halnya teori statis Hoyle yaitu bukan zamannya lagi.
Dunia ilmu pengetahuan tidak pernah terlepas dari
evolusi. Dan di sini berlaku prinsip yang kuat menang
— sekalipun itu tidak selalu merupakan spesimen
terbaik.
Saat itu penyakit Hawking sudah mencapai tingkat
yang mengkhawatirkan. Dia tidak bisa berjalan, sekali
pun dibantu, dan terpaksa memakai kursi roda
bermesin. Dia tidak bisa makan sendiri, dan saat
kepalanya tertunduk ke depan, dia bahkan tidak bisa
menegakkannya kembali. Ini yaitu pukulan yang
sangat berat bagi seseorang yang berkemauan keras dan
mencintai kebebasan. Namun ada beberapa perkem-
bangan lain yang bahkan lebih tidak menyenangkan.
Suara Hawking semakin parah — bahkan teman-teman
dekatnya kesulitan dalam berusaha mendengar apa yang
dikatakannya. Pada saat yang sama dia juga mulai tidak
bisa menulis. Dan saat itu pikirannya telah mencapai
puncak — lalu bagaimana dia mengomunikasikan pikir-
an-pikiran ini ?
Tapi apa yang bisa diharapkan? Saat itu sudah lima
betas tahun semenjak Hawking divonis hanya hidup
sampai dua tahun. Hidupnya memang ajaib — hampir
sama ajaibnya dengan penemuan-penemuannya dalam
bidang kosmologi. Hubungan antara keduanya memang
tidak terlalu menguntungkan namun tetap menun-
jukkan adanya karakteristik pikiran dan kemauan yang
luarbiasa.
Pada tahun 1979, saat berusia tiga puluh tujuh tahun,
Hawking terpil ih sebagai Lucasian Professor of
Mathematics di Cambridge. Ini yaitu jabatan paling
prestisius — yang sebelumnya dipegang oleh Isaac
Newton, dan selanjutnya oleh Babbage, bapak kom-
puter. Hawking merasa sangat dihormati. Beberapabu-
lan kemudian, sesudah dia sadar belum menandatangani
daftar bersejarah para profesor Lucasian, dia dengan
susah payah menandatanganinya, dan kemudian berkata:
"Itu yaitu terakhir kalinya aku menuliskan nama."
Meskipun mengalami berbagai kesulitan, Hawking
tetap bersosialisasi di Cambridge. Dia dan Jane sering
pergi ke restoran, ke pesta, dan sang profesor Lucasian
baru dengan cepat memperoleh reputasi sebagai tuan
rumah yang ramah. Semua itu tidak akan pernah terjadi
tanpa Jane, yang oleh salah seorang temannya dianggap
sebagai "wanita yang menakjubkan. Jane melihat bahwa
Hawking mampu melakukan segala sesuatu yang bisa
dilakukan oleh manusia normal. Mereka pergi ke setiap
tempat dan melakukan segala hal." Apa yang paling
mengecewakan Hawking yaitu dia tidak bisa mene-
mani anak-anaknya saat bermain. Hawking juga mulai
memanfaatkan ketenarannya untuk melakukan kampa-
nye bagi orang-orang cacat. Sifatnya yang suka menen-
tang memperoleh penyaluran yang tepat dalam surat-
suratnya ke Dewan Kota Cambridge, tentang berbagai
masalah seperti pemasangan pagar sampai pelebaran
trotoar. Keberhasilannya dalam usaha ini membuatnya
memperoleh penghargaan "man of the year" dari Royal
Association for Disability and Rehabilitation.
Penyakit ALS Hawking mungkin telah mencapai
plateau, namun banyak rekan-rekannya yang saat itu
merasa bahwa dia tidak akan mampu bertahan lebih
lama. Masa-masa terakhir telah tiba. Hawking dengan
gayanya yang khas menjawab kekhawatiran teman-
temannya dalam sambutan pelantikannya sebagai
profesor Lucasian, dengan judul "Is the End in Sight
for Theoretical Physics?" Banyak sekali yang datang,
dan sambutannya dibacakan oleh salah seorang
mahasiswanya.
Di sini Hawking menyampaikan sebuah topik yang
selanjutnya menjadi pembicaraan hangat. Yaitu sebuah
"teori tentang segala sesuatu". Teori ini akan memberi-
kan sebuah deskripsi yang terpadu, konsisten, dan
lengkap atas segala sesuatu. (Tentu saja segala sesuatu
yang dimaksud di sini yaitu semua partikel elementer
dan semua interaksi fisik di semesta raya — yang
semuanya dimasukkan dalam satu rangkaian per-
samaan.) Teori ini menandai "akhir" dari fisika teoretis.
Hawking mengakui bahwa sesudah ini memang masih
"banyak yang harus dilakukan," tapi itu akan seperti
"mendaki gunung sesudah Everest."
"Penjelasan terakhir" seperti ini merupakan tanda
dari imajinasi yang sangat kuat. Filsuf Yunani kuno
pertama, Thales dari Miletus, yang hidup di abad ke-6
S.M., merasa yakin telah menemukannya (air). Dan
selama berabad-abad sesudahnya, para filsuf dan ilmu-
wan terus merasa yakin bahwa mereka telah menemu
kannya, atau hampir menemukannya. Apa yang mereka
anggap sebagai penjelasan terakhir termasuk: api, nafas,
atom, aksioma geometri, monad, gravitasi, atom lagi,
bahasa logis, dan masih banyak lagi. Saat menjabat
sebagai profesor Lucasian, Hawking memperkirakan
bahwa kemungkinan besar teori tentang segala sesuatu
ini akan telah ditemukan pada akhir abad (abad ke-
20). Dia bahkan memperkenalkan calon unggulannya
yaitu N = 8 (supergravitasi). Telah beberapa lama
58
KEHIDUPAN DAN KARYANYA
diperkirakan bahwa kuncinya yaitu sebuah gravitasi
dalam bentuk tertentu, sebab konstanta gravitasi (G)
terlihat sebagai penentu struktur semesta, dan mungkin
proporsional terhadap usianya. Namun pada akhirnya
teori ini te rbukt i lebih kompleks dibandingkan
komprehensif.
Hawking sendiri merevisi gagasannya dan meng-
ajukan teori superstring, yang menyatakan bahwa objek-
objek dasar yang membentuk semesta yaitu objek-
objek satu-dimensi berbentuk string, bukan partikel-
partikel kecil. Objek yang sangat tipis ini diperkirakan
memiliki panjang 10-35 meter, namun mampu mengga-
bungkan semua partikel dan gay a yang diketahui. Dan
Hawking memperkirakan bahwa teori superstring me-
merlukan waktu setidaknya dua puluh tahun untuk
bisa dijelaskan. Dan sesudah itu kita berarti telah ber-
hasil menyelesaikan masalah terakhir — kita bisa
mengetahui segala sesuatu.
Namun demikian, untuk saat ini mungkin kita perlu
mengingat kembali kata-kata Wittgenstein saat dia
beranggapan telah mencapai "solusi" terakhir atas
persoalan-persoalan filsafat. Dan selanjutnya dia
menyadari "betapa sedikit yang dicapainya saat dia
berhasil menyelesaikan masalah-masalah ini ."
Tidak seperti ilmu pengetahuan, filsafat mencapai masa
kedewasaannya di abad ke-20 dengan membawa sebuah
kesadaran, yaitu tidak ada yang bisa disebut sebagai
kebenaran terakhir. Tidak ada dalam filsaf at, dan juga
tidak ada dalam ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan
dan filsafat hanyalah sistem yang kita temukan, dan
pandangan kita atas sistem-sistem ini terus ber-
kembang. Namun kedua sistem ini didasarkan pada
pemikiran kita tentang kebenaran. Keduanya didasarkan
pada apa yang berguna bagi kita, dan sesuai dengan
bagaimana cara kita melihat dunia. Sebagai sebuah
kebenaran, teori superstring kemungkinan juga tidak
lebih dari api atau atom. (Atau, di lain pihak, teori ini
akan terlihat benar hanya pada masanya.)
Meskipun sakit, Hawking tetap suka bepergian. Dia
saat itu telah menjadi figur ilmuwan internasional, dan
memutuskan untuk memainkan perannya dalam
panggung ilmiah internasional. Dia berkunjung ke
Switzerland, Jerman, dan Amerika. Kondisi fisiknya
memaksa dirinya untuk lebih bergantung pada ingat-
annya. Dan dengan keuletannya, dia berhasil melatih
ingatannya sampai pada taraf fenomenal. Dalam sebuah
seminar di Caltech dia membuat kagum para mahasiswa
sebab mampu mengingat sebuah persamaan yang
terdiri dari empat puluh bagian. Saat itu si jagoan
kuantum Gell-Mann juga hadir, dan merasa perlu
menyatakan bahwa jika ingatan Hawking benar maka
dia berarti melupakan satu bagian. Selanjutnya terbukti
bahwa Gell-Mann benar. Di mana ada supergravitasi
dan superstring, maka pasti juga ada supermemory.
Pada awal tahun 1980-an Hawking mulai mendik-
tekan beberapa gagasan untuk ditulis dalam sebuah
buku tentang kosmologi. Dia ingin memperoleh tam-
bahan uang untuk biaya sekolah anak perempuannya.
Pada tahun 1985 dia menyelesaikan draft pertama, dan
memutuskan untuk membacanya sekali lagi selama
liburan musim panas. Saat itu dia tengah berada di
sebuah apartemen sewaan di Jenewa, dan dijaga oleh
seorang perawat yang juga asistennya, sementara Jane
berlibur di Jerman. Selama mengedit naskahnya, dia
juga mengunjungi CERN, sebuah pusat penelitian
nuklir Eropa yang kebetulan berada tidak jauh dari
apartemennya. Di tempat ini beberapa akselerator
partikel berukuran besar (dengan panjang keliling
sampai beberapa kilometer) memberikan beberapa
informasi praktis baginya tentang partikel-partikel
subnuklir.
Suatu malam, saat perawatnya memeriksa keadaan-
nya jam 3 pagi, dia melihat ada yang sama sekali tidak
beres. Wajah Hawking berwarna ungu dan kesulitan
bernapas. Ada suara mendeguk yang terdengar dari
lehernya.
Hawking dilarikan ke rumah sakit, dan langsung
dipasangi alat bantu pernapasan. Para dokter mendapati
bahwa saluran pernapasannya tersumbat dan menderita
pneumonia — sebuah gejala yang biasa terjadi pada
penderita ALS tahap akhir. Selama beberapa saat
terlihat seakan-akan dia tidak akan mampu bertahan
sampai pagi. Beberapa orang langsung menghubungi
nomor-nomor telepon yang ditinggalkan Jane, dan
akhirnya Jane ditemukan berada di Bonn, yang jaraknya
hampir empat ratus mil.
Saat Jane tiba di siang hari, Hawking sudah melewati
masa kritis, meskipun masih dirawat secara intensif.
Jane dihadapkan pada sebuah keputusan yang sangat
sulit. Hawking memerlukan respirator untuk bernapas
dan tidak mungkin dia bisa selamat kecuali jika dia
menjalani t racheotomy — operasi bedah dengan
membuka batang tenggorokan dan memasukkan alat
yang memungkinkannya untuk bernapas. Operasi itu
mampu menyelamatkannya namun juga berarti mem-
buatnya tidak bisa bicara sama sekali. Apakah Jane
bersedia "membungkam" salah seorang ilmuwan
terbaik di zamannya? Jane memutuskan bahwa nyawa
suaminya lebih penting dari apa yang mungkin akan
dikatakannya, sekalipun hal itu sangat "mengguncang-
semesta". Hawking dioperasi dan kehilangan kemam-
puan berbicara.
Saat kembali ke Cambridge, keluarga Hawking
harus berbenah. Hawking memerlukan perawatan
penuh dengan biaya paling mahal, biaya yang tidak
sanggup mereka bayar. (Dinas Pelayanan Kesehatan
Nasional menyarankan agar Hawking dibawa ke rumah
sakit khusus tempat para penderita penyakit yang tidak
dapat disembuhkan.) Dan satu-satunya cara Hawking
dalam berkomunikasi yaitu melalui kedipan mata,
dengan menunjuk huruf-huruf yang diletakkan di
sebuah papan di depannya.
Jane menulis surat ke berbagai organisasi di seluruh
dunia untuk meminta bantuan dana. Untungnya ada
sebuah organisasi di Amerika yang bersedia membantu-
nya. Berita tentang penderitaan Hawking tersebar ke
seluruh komunitas ilmiah. Dan seorang pakar kom
puter dari California, Walt Woltoz mengirimkan sebuah
program komputer yang baru saja ditulisnya. Program
ini , yang bernama Equalizer, memungkinkan
Hawking memilih salah satu kata dari sekitar tiga ribu
kata dari menu di layar komputer. Program beserta
perangkat komputernya disesuaikan dengan kursi roda
Hawking oleh David Mason, yang istrinya juga menjadi
salah satu perawat Hawking. Bagian sensor dari mesin
kursi roda ini bisa digerakkan dengan melalui
saklar kecil, yang hanya memerlukan sedikit gerakan
jari tangan ; sebab memang hanya itu yang bisa di-
lakukan. Saat sebuah kalimat telah disusun, selanjutnya
disuarakan dengan program synthesizer.
Semua ini perlu praktik. Namun sesudah beberapa
waktu, salah satu pemikir terbaik di zamannya ini
mampu "menuliskan" sampai sepuluh kata dalam satu
menit. (Dengan kata lain, kalimat di atas memerlukan
waktu "penulisan" sekitar dua menit, dengan meng-
gunakan shortcut.) "Sedikit lambat," kata Hawking,
"tapi aku lalu berpikir pelan-pelan, dan tampaknya
cukup cocok."
Namun pernyataan di atas tidaklah sepenuhnya
benar. Kenyataannya, dia tidak suka dengan synthesizer
itu. Dalam salah satu pernyataan penulis biografinya,
Michael White dan John Gribben: "Sebenarnya tidak
terlalu mirip suara robot." Dan menurut Jane: "Ada
hari-hari di mana aku merasa menderita sebab aku
tidak tahu bagaimana menghadapinya."
Sementara itu Hawking terus melanjutkan pencari-
annya atas "penjelasan terakhir". Dan untuk memper-
oleh penjelasan ini perlu dilakukan penggabungan
atas empat gaya yang sejauh ini ditemukan di semesta.
Yaitu:
1. Gravitasi. Gaya ini mengendalikan struktur se
mesta, termasuk galaksi, bintang, dan planet-
planet. (Gaya gravitasi ini pernah diajukan sebagai
salah satu judul karya Newton abad ke-17 —
sebagai pengganti mesin jam, seperti yang
diusulkan oleh beberapa ilmuwan-filsuf Perancis
dan Jerman dari generasi sebelumnya.)
2. Gaya elektromagnetik. Ini yaitu "lem" yang
mengikat semua atom. Sekaligus juga bertanggung
jawab atas semua reaksi kimia.
3. Gaya nuklir kuat. Gaya ini mengikat neutron
dan proton dalam inti atom, serta menjelaskan
reaksi-reaksi seperti fisi dan fusi nuklir.
4. Gaya nuklir lemah. Gaya ini bertanggung jawab
atas kerusakan radioaktif pada nukleus, saat
partikel-partikel alpha dan beta secara spontan
dipancarkan.
Keempat gaya ini saling terpisah dan menjadi entitas
yang berbeda saat semesta berusia kurang dari satu
nanodetik (Satu nanodetik sama dengan seperti satu
milyar(10-9)detik.)
Seperti yang telah kita lihat, gagasan-gagasan seputar
teori tentang segala sesuatu memiliki sejarah yang
cukup panjang (hampir sama tuanya dengan ilmu pe-
ngetahuan itu sendiri). Namun demikian, teori ini
memiliki bentuknya seperti sekarang baru pada abad
ke-20 — saat teori kuantum dan relativitas mengubah
pandangan kita atas semesta. Pada tahap ini orang-
memprediksikan keberadaan tiga partikel subnuklir
yang belum diketahui (W+, W-, dan Z0). Pada tahun
1983, ketiganya ditemukan dalam akselerator partikel
di CERN, Jerman. Dua dari keempat gaya yang di
ketahui telah digabungkan, dan sekarang menjadi tiga.
QED saat itu menjadi pusat perhatian. Para pakar
fisika berusaha mengembangkan sebuah teori serupa
yang mampu memasukkan gaya nuklir kuat — yang
mengikat neutron dan proton dalam inti atom.
Namun sayangnya, partikel-partikel nuklir dasar ini,
proton dan neutron, sekarang berhasil dipecah lebih
jauh. Di Caltech, Gell-Mann menemukan bahwa par
tikel-partikel dasar ini terdiri dari partikel-partikel yang
lebih dasar lagi. Dan dia menamakannya sebagai
"quark", yang diambil dari "Three quarks for Muster
MarkI" (Frase ini terdapat dalam Finnegans Wake
karya James Joyce — sebuah karya modernis besar
yang sering dibaca Gell-Mann di waktu senggang, yang
dalam hal ini bahkan lebih sulit dipahami dibandingkan
semesta.)
Sekali lagi, pasir yang dianggap sudah berada di geng-
gaman pada ahli teori mulai berjatuhan. Quark memer-
lukan sebuah teori baru untuk menjelaskan bagaimana
mereka berinteraksi, dan telah dibuat (yang disebut
QCD) . Para ahli teori dengan cepat menggabungkan
QCD dengan teori elektro-lemah sebelum ada hal lain
orang memperkirakan bahwa hanya ada dua gaya ter-
pisah di semesta: gaya gravitasi dan elektromagnet.
Padatahun 1920-an, elektromagnetisme Maxwell
digabungkan dengan teori gravitasi dan menjadi elektro-
dinamika kuantum. Teori ini sebelumnya disebut QED
(kepanjangan dari quod erat demonstrandum yang
artinya "apa yang akan ditunjukkan", seperti yang
terlihat pada bagian akhir bukti geometri). QED di-
maksudkan untuk memberi penjelasan tentang segala
sesuatu. Sedemikian besar harapan akan teori ini
sehingga seorang profesor fisika di Gottingen yang
sekaligus pakar teori Jerman, Max Born tahun 1928,
mengatakan, "Fisika, seperti yang kita ketahui, akan
berakhir dalam waktu enam bulan."
Tapi Born tidak perlu khawatir, dia tidak akan ke-
hilangan pekerjaan. Saat QED memperoleh dasar-dasar
teoretis yang memadai (sehingga benar-benar menjadi
"apa yang akan ditunjukkan"), dua gaya baru ditemu-
kan. Gaya nuklir kuat dan gaya nuklir lemah diketahui
terdapat dalam tingkat nuklir.
Para ilmuwan dengan cepat memperhatikan adanya
kemiripan antara gaya nuklir lemah dengan gaya
elektromagnet. Menjelang tahun 1960-an, sebuah teori
matematika muncul yang menjelaskan kedua gaya ini
dalam satu rangkaian persamaan. Dan selanjutnya
dikenal dengan nama teori elektro-lemah. Teori ini
yang bisa ditemukan. Serangkaian persamaan dibuat,
dan dinamakan Grand Unified Theory ( G U T ) .
Namun GUT ini pada kenyataannya tidak benar-benar
memadukan segala sesuatu dengan sangat baik, seperti
namanya. sebab para ahli teori ini tampaknya
melupakan sama sekali tentang gravitasi.
Hawking mengawali sebuah tugas berat dalam
berusaha memperbaiki hal ini, dengan membuat
serangkaian persamaan yang menghubungkan gravitasi
dengan gaya-gaya dasar lainnya. Seperti yang dikata-
kannya: "Jika kita bisa menemukan jawabannya, maka
itu berarti kemenangan terbesar nalar manusia —
sebab saat itu kita akan tahu pikiran Tuhan." (Penge-
tahuan tentang masalah seperti ini, dan bagaimana cara
kerjanya, juga memiliki sejarah panjang. Pythagoras,
di abad ke-5 S.M., yaitu orang pertama yang menyata-
kan bahwa pikiran Tuhan pastilah sejalan dengan
matematika.)
Perburuan terus dilanjutkan. Tapi bagaimana meng-
awalinya. Supergravitasi N = 8 dikesampingkan sebab
terlalu sulit dipergunakan, sebab mengasumsikan
adanya 154 jenis partikel elementer (dan hampir tiga
lusin di antaranya masih perlu dicari). Diketahui bahwa
bahkan perhitungan paling sederhana, dengan meng-
gunakan komputer canggih, sedikitnya memerlukan
waktu selama empat tahun.
Teori superstring maju ke depan sebagai tersangka
utama. Namun sekali lagi para ilmuwan pusing sebab
banyaknya kompleksitas. Termasuk di antara penggu-
naan atas tidak kurang dari dua puluh satu dimensi.
(Sebagai gambarannya, masing-masing ruang perlu
dilihat sebagai suatu simpul ruang dua puluh satu di
mensi yang melengkung dan sedemikian rapat sehingga
hanya bisa terlihat di bawah 10"13 [sepersepuluh triliun]
sentimeter.) Selanjutnya teori wormhole muncul.
Menurut teori ini, lubang hitam menghilang di semes-
ta, dan muncul kembali sebagai lubang putih yang me-
muntahkan semua yang telah ditelannya. (Untungnya,
teori ini berada jauh dari pembicaraan ilmiah saat ini.
Lubang putih memang tampaknya terlalu jauh. Tapi
teori wormhole terus menjadi bahan pemikiran yang
cukup menantang.)
Sekalipun telah berusaha melakukan berbagai
penyederhanaan, banyak yang menyerah mempertahan-
kan teori superstring sebagai calon teori segala sesuatu.
Dan memang, beberapa ilmuwan mulai bertanya-tanya
apakah usaha mereka selama ini sia-sia belaka —
meskipun mereka belum menyatakan menyerah total
seperti yang dilakukan oleh para filsuf?
Tabah atau bandel? Menurut para ilmuwan, G U T
pasti akan ditemukan suatu hari nanti. Hanya tinggal
satu hambatan. Yang dibutuhkan hanya sebuah ke-
ajaiban, meskipun mungkin hasilnya sedemikian rumit
sehingga tidak bisa dipahami. (Yang dalam hal ini
berarti kita kembali lagi ke awal.)
Tapi keajaiban memang terjadi. Tahun 1987 Hawking
akhirnya menyelesaikan buku kosmologinya, dan
diterima penerbit Bantam. Judul lengkap buku ter-
sebut yaitu A Brief History of Time: From the Big
Bang to Black Holes, dan diterbitkan pada hari April
mob tahun 1988. Bantam mungkin tidak berspesialisasi
menerbitkan buku-buku ilmiah, namun saat itu minat
terhadap bidang kosmologi semakin tinggi. Mereka
"secara yakin berharap" bahwa buku Hawking mampu
terjual beberapa puluh ribu kopi.
Sisanya tinggal sejarah. Mulai saat peluncuran
pertamanya, buku A Brief History of Time yaitu
keberhasilan gemilang. Dalam waktu sepuluh tahun,
buku ini diterjemahkan ke dalam tiga puluh
bahasa dan terjual sebanyak enam juta kopi di seluruh
dunia. Mengapa, tidak ada seorang pun yang tahu.
Segala macam teori diajukan. Semua orang merasa
mereka berhak tahu sedikit tentang ilmu pengetahuan,
dan ini yaitu kesempatan mereka untuk membeli
(meskipun mungkin tidak dibaca) sebuah buku populer
tentang topik yang ditulis oleh pemikir terbaik dalam
bidangnya. Buku ini memang mampu menambahkan
kesan intelektual pada pemiliknya saat diletakkan di
meja belajar. Bisa sebagai hadiah yang sangat menarik
untuk ulang tahun/Natal/ucapan terima kasih pada
kakek/nenek/cucu/keponakan/paman/dan juga orang-
orang yang mungkin hanya tertarik pada komputer atau
mendengarkan musik yang memekakkan terlinga. Buku
ini memang ramah-pemakai; dan ideal dipakai
sebagai hadiah. Saat ini manusia tengah memimpikan
Einstein baru. Kaum wanita memberikannya pada kaum
pria. Kaum wanita membacanya (sekalipun yang pria
tidak) ... Banyak teori yang muncul, dan para peneliti
pasar saling berlomba menyelidikinya. (Mereka ingin
mencari tahu bagaimana membuat buku seperti itu.)
Ada satu yang tampaknya disetujui semua orang:
Mereka membeli buku itu, namun tidak benar-benar
membacanya. Mereka terlalu sibuk, terlalu lelah,
memiliki tugas-tugas yang lebih penting dilaksanakan,
dan sebagainya. Namun itu semua tidak benar. Dari
jutaan kopi yang terjual, setidaknya ada beberapa yang
dibaca urut mulai dari halaman depan sampai belakang.
Pengaruhnya, khususnya pada kaum muda yang mem
bacanya sampai halaman 182, sangat menakjubkan.
Tidak berlebihan bila dikatakan bahwa buku ini telah
menciptakan generasi ilmuwan baru. Dan bukan tidak
mungkin para pemenang hadiah Nobel di masa depan
akan mengatakan: "Lalu suatu hari saya membacayl
Brief History of Time, dan saya langsung tahu apa yang
ingin saya lakukan." Inilah bagaimana sebuah buku
mampu mengubah dunia.
Lalu bagaimana dengan buku itu sendiri? Sebagai
awalnya, buku ini sangat mudah dibaca. Dan
sangat informatif. Konsep-konsepnya tentu saja sulit;
dan sulit disederhanakan tanpa membuatnya menjadi
simplistik. Hawking berhasil mengatasi hal ini. Dari
contoh-contoh judulnya sudah terlihat jelas apa
maksudnya: Semesta yang Meluas, Lubang Hitam, Asal-
Usul dan Masa Depan Semesta, Perpaduan Fisika.
Buku ini ditutup dengan membahas beberapa
persoalan filsafat "yang dianggap tidak mampu me-
nyaingi kemajuan teori-teori ilmiah." Kejeniusan
Hawking mampu menghilangkan beberapa "lubang
hitam" filsafat. Inilah bagaimana seorang ilmuwan mo
dern yang terdepan dalam bidangnya berpikir. Beberapa
asumsi filsafat yang dibuat oleh para ilmuwan modern
mungkin diragukan atau salah — tapi tetap diperguna-
kan, dan produktif. Asumsi-asumsi ini berhasil
menciptakan pemikiran terbaik di dunia. Jadi, apakah
filsafat penting bagi semua ilmu pengetahuan? Hawking
tampaknya berpikir demikian — pada akhirnya.
Dalam bagian kesimpulan A Brief History of Time,
Hawking membahas masalah-masalah seperti sifat
Tuhan dan teori-teori terpadu (teori segala sesuatu).
Masalah tentang apakah kedua entitas problematis ini
ada tidak dipelajari, atau bahkan mungkin dianggap
tidak relevan. (Hawking sendiri menganggap tidak
relevan.) Namun demikian, dia mengajukan sebuah
gagasan filsafat yang fundamental: "Pendekatan ke-
ilmuan u m u m dalam membentuk sebuah model
matematika tidak bisa menjawab pertanyaan tentang
mengapa harus ada sebuah model semesta untuk digam-
barkan." (Wittgenstein, filsuf yang diejek Hawking,
juga mengajukan pernyataan serupa sekitar tujuh puluh
tahun lalu: "Yang aneh bukanlah bagaimana segala
sesuatunya di dunia, tapi bahwa ia ada.")
Hawking bertanya: "Apakah teori terpadu semacam
ini sedemikian menarik sehingga mampu menciptakan
eksistensinya sendiri?" Sekali lagi, ini juga bukan gagas
an baru. Para filsuf abad pertengahan menyatakan bah
wa gagasan tentang kesempurnaan haruslah mencakup
gagasan tentang eksistensi, dengan mengklaim hal ini
sebagai bukti dari keberadaan Tuhan. Dalam semesta
Hawking (atau semesta-semesta: bentukjamakyang
kelihatannya tidak mungkin tapi perlu) tidak ada banyak
ruang bagi Tuhan. Meskipun Dia mempunyai pilihan
dalam menciptakan semesta, sekalipun pilihan-pilihan
ini akhirnya menjadi "tidak ada pilihan" — sebab
semesta harus diciptakan, dan harus diciptakan dalam
cara seperti yang telah tercipta. Mengapa? "Mungkin
hanya ada satu, atau beberapa teori terpadu yang
lengkap, seperti teori string heterotik, yang konsisten
dan memungkinkan adanya eksistensi struktur-struktur
yang rumit seperti manusia yang mampu mempelajari
hukum-hukum semesta dan bertanya tentang sifat
Tuhan." Teori terpadu seperti ini seperti layaknya
seekor ular yang menelan ekornya sendiri.
sesudah bukunya terbit, Hawking dengan cepat menjadi
selebritis. Pria kecil di atas kursi roda itu ditunjuk
sebagai salah satu tokoh terkemuka Cambridge. Tentu
saja saat dia berada di sana. sebab Hawking sekarang
menjadi orang yang paling "dicari" di seluruh dunia.
Perjalanan ke luar negeri, dan penghargaan, tidak jarang
diperoleh. Sementara itu Jane menjadi pengajar, yang
berarti dia harus tetap berada di Cambridge sepanjang
tahun akademik, dan Hawking selalu ditemani pe-
rawatnya, Elaine Mason. Posisi Jane berubah. Sebuah
film TV dibuat tentang Hawking dengan judul Master
of the Universe. Jane menganggap perannya hanyalah
"untuk mengatakan pada Hawking bahwa dia bukan
Tuhan."
Akibatnya mungkin memang tidak bisa dihindarkan.
Pada tahun 1990, Jane dan Hawking bercerai. Hawking
pindah ke sebuah flat bersama perawatnya, Elaine, yang
masih menjadi istri David Mason, sang teknisi kom-
puter.
Kesedihan juga tidak bisa dihindari. Tidak ada
seorang pun (artinya: semua orang) patut dipersalahkan.
Semuanya sangat ilmiah: Semakin kompleks sebuah
situasi, maka semakin sulit pula dihadapi. Dan tidak
ada teori terpadu untuk emosi manusia. (Mungkin
teori tentang segala sesuatu akan berakhir sebagai teori
tentang segala sesuatu kecuali yang penting-penting.)
Dari superstring sampai kertas timah. Pada tahun
1990 Hawking berakhir di Hollywood, di mana dia
bertemu Stephen Spielberg. Keduanya saling menga-
gumi karya mereka satu sama lain. Spielberg berjanji
mensponsori sebuah film tentang A Brief History of
Time. Hawking mengusulkan judulnya yaitu Back to
the Future 4. Mereka berjanji untuk tetap saling ber-
komunikasi.
Proses pembuatan film diawali di Elstree Studios,
dekat London, lengkap dengan penggambaran kantor
Hawking di DAMTP. Saat kembali ke Cambridge
sambil istirahat bersama para aktor lainnya, Hawking
mulai bertanya-tanya tentang kesempatannya mem
peroleh Oscar — sebagai "pemeran pendukung terbaik
semesta". Namun sayangnya, pihak Universal Studios
hanya memberikan penghargaan Nobel (semacam
Oscar bagi orang-orang yang tidak berhasil memperoleh
Oscar yang sesungguhnya). Hawking jelas sangat
tertarik untuk memperoleh hadiah Nobel (Nobel yang
Theoretical Physics). Jika teorinya dibuktikan, maka
teori ini menjadi praktis dan dia bisa kehilangan
pekerjaan. Di kantor inilah Hawking memperoleh
pemikiran-pemikiran besarnya (yang pada bagian
pintunya tertulis HARAP TENANG, BOS SEDANG
TIDUR). Mungkin inilah bagaimana kita bisa meng-
gambarkan dirinya. Seorang pria bertubuh kecil yang
tidak berdaya di atas kursi roda bermesin, dengan layar
komputer, cerniin, berbagai macam kabel, saklar-saklar
kecil; Hawking diam-diam mengerjakan berbagai
perhitungan rUmit tentang sebuah teori besar. Di atas
meja di hadapannya, terdapat layar komputer lainnya,
dan setumpukkertas. Agak jauh ke depan sebuah poster
besar Marilyn Monroe menatap ke arahnya. Tanpa
mempedulikan keadaan sekelilingnya, Hawking me-
layangkan pikirannya ke batas-batas semesta. Kadang
seorang asisten atau perawat masuk diam-diam, dan
keluar lagi tanpa sepengetahuannya.
Tepat jam empat sore, saatnya melaksanakan ritus.
Minum teh. Hawking didorong melewati jalan kecil
menuju ruang bersama, di mana lukisan para profesor
Lucasian berjajar di dinding. Pembicaraan hangat terjadi
antara para peneliti muda yang berkumpul di sana.
Penampilan mereka seperti sebuah "kelompok musik
rock" yang salah tempat, dan bahasa mereka juga hampir
tidak bisa dipahami manusia normal. Tokoh utama
dalam kelompok ini duduk di atas kursi rodanya sambil
sesungguhnya), dan indeks untuk kata Nobel memiliki
jumlah paling banyak dalam^l Brief History of Time.
Namun kesempatannya untuk menang memang sangat
kecil.
Mengapa? Seperti halnya semua bidang ilmu penge-
tahuan lain, banyak sekali teori yang diajukan. Ada
yang berkata bahwa Alfred Nobel, raja dinamit Swedia
yang mendirikan lembaga yang memberikan pengharga-
an ini, ditinggal pergi oleh istrinya yang juga seorang
kosmologis. Semenjak saat itu dia menyatakan bahwa
penghargaan ini terbuka bagi semua ilmuwan segala
bidang kecuali kosmologi. Akan tef api, penghargaan
Nobel untuk bidang fisika beberapa kali diberikan pada
pakar kosmologi. Namun demikian, sumber lain yang
lebih resmi menyatakan bahwa penghargaan ilmiah
harus diberikan pada bidang ilmu pengetahuan. Di
masa lalu; sekitar pergantian abad ke-20 saat Nobel
mendirikan lembaga ini, ilmu pengetahuan hanya ter-
batas pada sesuatu yang bisa dibuktikan. Dan ini berarti
pengamatan atau eksperimen — argumen-argumen
teoretis dianggap tidak cukup. Dan karya Hawking
tidak bisa dibuktikan ("Saya ada di sana, say a melihat
awal mula semesta"). Bahkan ilmu pengetahuan masih
belum mampu membuktikan keberadaan lubang hitam.
Bukan tidak ada gunanya Hawking bekerja di
DAMTP (Department of Applied Mathematics and
mengenakan cukin atau kain alas dada. Seorang perawat
memegang cangkir tehnya, sedangkan tangan satunya
lagi memegang dahi, dan menundukkannya agar dia
bisa minum. Dia minum teh dengan agak kesulitan
sementara para peneliti muda lainnya saling berdebat
di sekitarnya. Kadang pembicaraan mereka terhenti ;
dan salah seorang dari mereka menulis sebuah rumus
matematika di atas meja Formica ("Bila kami ingin
menyimpan rumus ini , kami memfotokopi meja
itu," kata Hawking pada salah seorang pengunjung.)
Kadang mereka berpaling pada pria kecil di atas
kursi roda, dan dia memberikan jawaban yang selanjut-
nya terdengar dari syntheziser. Bila ada salah seorang
yang memberikan komentar agak aneh ; dia selalu
menunjukkan senyum lebarnya yang khas. Dia berada
dalam elemennya: menjadi pusat dari semesta mate-
matikanya, dan sudah melegenda.
PERISTIWA-PERISTIWA BESAR
DALAM SEJARAH SEMESTA
Sekitar 15 milyar Big Bang
tahun yang lalu
10~43 detik Gaya gravitasi terpisah
selanjutnya menjadi bagian tersendiri
dari gabungan daya semesta
10"36 detik Semesta berukuran sebesar
kacang polong
Dengan suhu 1028°C
10"35 detik Gaya elektromagnetik
memisahkan diri menjadi
entitas tersendiri
10'12 detik Proses pemuaian terjadi
Semesta sebagian besar
masih berupa radiasi
79
10-10detik
1 detik
5 detik
1.000 tahun
1.000.000 tahun
1 milyar tahun
5 milyar tahun
10 milyar tahun
14.999 milyar
tahun
15 milyar tahun
20 milyar tahun?
Gaya nuklir lemah terpisah
dari gaya elektromagnetik
Suhu turun menjadi 1010°C
Terbentuknya nukleus
pertama
Jumlah materi dalam
semesta lebih banyak dari
jumlah radiasi
Terbentuknya atom
pertama
Terbentuknya galaksi-
galaksi pertama
Terbentuknya galaksi Bima
Sakti (Milky Way)
Terbentuknya sistem Tata
Surya
Munculnya spesies yang
mirip manusia di bumi
Lahirnya Stephen Hawking
Semesta mencapai tingkat
pemuaian maksimum
35 milyar tahun?
40 milyar tahun?
Penyebaran singularitas
(lubang hitam) yang
semakin banyak
Big Crunch
REVOLUSI FISIKA (Dari Alam Gaib ke Alam Nyata)
Buku dengan judul Revolusi Fisika (Dari Alam Gaib ke Alam Nyata) ditulis oleh Gerry Van
Klinken. Beliau adalah seorang dosen fisika berkebangsaan Belanda pada Fakultas Teknik
Buku ini menceritakan sejarah fisika sejak 3000 tahun SM masehi di Sumeria sampai awal abad
ke 20 di mana umat manusiapada saat itu baru saja dihebohkan dengan teori kuantum dan
relativitas. Pilihan tema dari buku ini memang menarik. Apalagi belakangan ini buku-buku
dengan tema sejarah pemikiran jarang diterbitkan apalagi bidang yang dipilih adalah fisika.
Sehingga boleh kiranya Gerry Van Klinken dinobatkan sebagai volunteer. Memang ada buku
lain tentang sejarah pemikiran seperti “Dunia Sophie”, tapi yang benar-benar serius bercerita
tentang sejarah fisika dan juga bukan sebagai buku terjemahan hanyalah “Revolusi Fisika (Dari
Alam Gaib ke Alam Nyata)”
Disamping menjabarkan perkembangan teori fisika, buku ini dilengkapi juga dengan latar
belakang sosial budaya saat teori tersebut muncul. Seperti bagaimana saat jaman Yunani kuno
dahulu pekerjaan sebagai engineer memiliki kasta yang rendah, terbalik seratus delapan puluh
derajat dengan pemikir yang berkedudukan mulia dalam struktur sosial Yunani Kuno. Atau
bagaimana ilmuwan di abad 16 harus berhadapan dengan ajaran Aristotelian yang sudah
sangat kuno namun dilindungi oleh otoritas gereja pada saat itu.
Diterangkan juga bagaimana para ilmuwan menelurkan teori-teorinya. Dari proses kelahiran
suatu teori kita bisa melihat sosok ilmuwan secara lebih manusiawii. Berbeda sekali ketika kita
membaca buku pelajaran fisika di sekolah yang hanya memberikan rumus-rumus dan
penemunya tanpa memahami pergolakan pemikiran yang dialami oleh sang penemu menjelang
ditemukannya rumus-rumus tersebut. Sehingga terkesan para ilmuwan tersebut adalah
manusia setengah dewa yang dengan mudahnya menemukan suatu teori. Sedangkan Gerry
Van Klinken lebih memilih bercerita tentang bagaimana susah payahnya membuat suatu teori
fisika yang disegani.Walaupun ada juga ilmuwan-ilmuwan tersebut berteori tanpa dasar-dasar
ilmiah yang kuat dan cenderung spekulatif, seperti Descartes. Descartes meyakini bahwa
tidaklah mungkin ada ruang hampa, setiap ruang pasti mengandung materi maka seluruh ruang
antar planet tidaklah kosong melainkan mengandung sejenis fluida yang bernama eter. Uniknya
Descartes mengeluarkan teori ini hanya berdasarkan logika sendiri tanpa melalui percobaan
ilmiah. Walaupun begitu, pemikirannya tetap berpengaruh sampai awal abad ke-20.
Satu kredit lagi buat Gerry Van Klinken adalah dia mencoba menjelaskan sejarah fisika dengan
menghindari sebisa mungkin penulisan rumus-rumus yang bagi sebagian orang adalah cerita
horor. Sehingga siapa saja bisa membaca tulisannya, walaupun tidak berlatar belakang ilmu
alam. Namun tidak berarti semua perjalanan teori fisika ini akan sangat mudah dipahami karena
memang ada beberapa konsep fisika yang sulit dijelaskan dengan sederhana.Bagaimanapun
juga buku ini masih bisa menyampaikan garis besar isinya dengan baik.
Yang sangat disayangkan adalah, tokoh-tokoh fisika yang ditonjolkan hanyalah tokoh-tokoh dari
Eropa saja. Memang ada beberapa tokoh Arab yang disebut sebagai pelopor, akan tetapi
porsinya dalam buku ini sangat minim sekali bahkan terkesan hanya dipakai untuk pelengkap
cerita dari tokoh-tokoh Eropa tersebut.
Dengan hanya mengakhiri sejarah fisika sampai akhir Perang Dunia II, terasa perjuangan Gerry
van Klinken menjadi tanggung. Buku ini akan terasa tuntas jika melanjutkan ceritanya sampai
era Stephen Hawking. Di mana teori tentang Black Hole memegang peranan penting untuk
memahami gejala fisika alam semesta. Bukankah ada singularitas dan paradok dalam Black
Hole di mana hukum fisika yang berlaku sangat berbeda.
Juga akan lebih istimewa lagi jika penulis bisa menjelaskan dampak dari teori kuantum dan
relativitas secara lebih luas lagi. Sehingga teori tersebut tidak hanya sekedar untuk
menjelaskan keterbatasan dari teori fisika klasik. Tapi juga mempengaruhi bidang-bidang lain
seperti spiritualitas. Ada tokoh-tokoh lokal seperti Damardjati Supadjar dan Emha Ainun Nadjib
yang pernah meminjam istilah-istilah fisika kuantum dalam khotbahnya. Perlu juga dijelaskan
bagaimana teori fisika modern mempengaruhi hollywood. Film-film seperti Star Trek, Quantum
Leap, dsb sangat terilhami oleh teori-teori tersebut.
Terlepas dari kekurangan tersebut, karya Gerri ini sangat layak untuk dibaca siapa saja.
Sebelum membahas mengenai Revolusi Dalam Fisika seperti yang tertulis
pada judulnya. Terlebih dahulu kita harus mengetahui tentang Fisika itu sendiri.
Fisika (Bahasa Yunani: φυσικός (physikos), "alamiah", dan φύσις (physis),
"Alam") yaitu sains atau ilmu tentang alam dalam makna yang terluas. Fisika
mempelajari gejala alam yang tidak hidup atau materi dalam lingkup ruang dan
waktu. Fisikawan mempelajari perilaku dan sifat materi dalam bidang yang
sangat beragam, mulai dari partikel submikroskopis yang membentuk segala
materi (fisika partikel) hingga perilaku materi alam semesta sebagai satu
kesatuan kosmos.
Fisika yaitu cabang sains yang mempelajari materi (matter), energi,
ruang, dan waktu. Sebelum akhir abad ke 19, cabang sains ini lebih dikenal
dengan nama “filsafat alam” (natural philosophy, dari bahasa Yunani “physikos”).
Bisa dikatakan, fisika merupakan sains murni yang paling dasar (basic).
Temuan dari fisika pun menjalar dan mempengaruhi cabang sains lainnya. Tidak
heran, sebab fisika banyak mengulik materi dan energi yang pada hakekatnya
merupakan penyusun dasar (basic constituents) alam.
Seperti yang telah kita ketahui, bahwa perkembangan ilmu Fisika sangat
berpengaruh pada perkembangan di dunia. Baik itu dalam bidang industri,
teknologi, maupun bidang-bidang lainnya. Dalam pengaruh Fisika yang sangat
besar terhdap dunia ini, perlu kita ketahui bagimana perkembangan dlam Fisika
itu sendiri. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai Revolusi dalam Fisika
serta Sejarah Lahirnya Fisika. Dengan begitu, kita dapat mengetahui bagaimana
perkembangan Fisika di Dunia ini.
Beberapa sifat yang dipelajari dalam fisika merupakan sifat yang ada
dalam semua sistem materi yang ada, seperti hukum kekekalan energi. Sifat
semacam ini sering disebut sebagai hukum fisika. Fisika sering disebut sebagai
"ilmu paling mendasar", sebab setiap ilmu alam lainnya (biologi, kimia, geologi,
dan lain-lain) mempelajari jenis sistem materi tertentu yang mematuhi hukum
fisika. Misalnya, kimia yaitu ilmu tentang molekul dan zat kimia yang
dibentuknya. Sifat suatu zat kimia ditentukan oleh sifat molekul yang
membentuknya, yang dapat dijelaskan oleh ilmu fisika seperti mekanika
kuantum, termodinamika, dan elektromagnetika.
Fisika memiliki kaitan erat dengan matematika. Hal ini sebab matematika
mampu menyediakan kerangka logika di mana hukum-hukum fisika dapat
diformulasikan secara tepat. Definisi, teori, dan model fisika selalu dinyatakan
memakai hubungan matematis.
Sebagai ilmu dasar, fisika memiliki pengaruh pada banyak ilmu sains
lainnya. Salah satu contohnya pada ilmu kimia. Fisika banyak mempelajari
partikel renik semacam elektron. Bahasan tersebut ternyata juga dipelajari dan
dimanfaatkan pada ilmu kimia. Bahkan topik mekanika kuantum yang diterapkan
pada ilmu kimia telah melahirkan bidang baru yang dinamakan kimia kuantum
(quantum chemistry).
Selain itu, ilmu fisika yang diterapkan pada bidang ilmu lain ikut berperan
dalam melahirkan bidang studi baru yang menarik. Di antaranya yaitu biofisika
(fisika pada ilmu biologi), geofisika (fisika pada ilmu bumi), fisika medis (fisika
pada ilmu kedokteran), dan yang lebih baru yaitu ekonofisika (fisika pada ilmu
ekonomi).
Dalam membahas mengenai masalah Revolusi dalam Fisika, ada
beberapa hal atau masalah yang perlu dibahas mengenai hal-hal yang
berhubungan dengan Revolusi dalam Fisika itu sendiri. Beberapa permasalahan
yang akan dibahas dalam makalah ini yaitu sebagai berikut:
1. Bagaimana sejarah munculnya Fisika ?
2. Bagaiman revolusi dalam Fisika ?
3. Bagaimana Einstien merevolusi dunia Fisika ?
4. Apa dampak dari revolusi Fisika ?
3
Revolusi dalam ilmu Fisika membahas mengenai perubahan dalam ilmu
Fisika dimana sebelumnya dikenal istilah Fisika Klasik, dan sesudah mengalami
Revolusi, dikenal Fisika Kuantum. Dalam kasus pertama mengenai Revolusi
dalam Fisika dikembangkan oleh Einstein dan Maxwell yang tentunya teori dari
mereka berdua diangkat dari teori Newton. Teori dari Maxwell menyatakan
bahwa dalam suatu partikel dapat dibagi-bagi lagi menjadi bagian yang lebih
kecil dari pada ion-ion yang kita ketahui.
Pada kasus lain mengenai perkambangan Mekanika Klasik yang
merupakan bagian dari Fisika Klasik, Berubah menjadi Mekanika Kuantum
dalam Fisika Kuantum. Disini Einstien mengatakan bahwa cahaya, yang sampai
saat itu masih dianggap sebagai sebuah gelombang, berperilaku seperti sebuah
partikel. Cahaya, dengan kata lain, yaitu salah satu bentuk saja dari materi.
Materi, yang dianggap hanya terdiri dari partikel, selalu memiliki pula sifat-sifat
gelombang. Batasan antara materi dan energi telah dihapuskan untuk
selamanya. Materi dan energi yaitu sama. Ini yaitu kemajuan raksasa dari
ilmu pengetahuan. Dan dari sudut pandang Materialisme yang Dialektik, materi
dan energi yaitu sama. Massa itu sendiri mengandung jumlah energi yang luar
biasa. Kesetaraan massa dan energi dinyatakan dalam persamaan E = mc² di
mana c melambangkan kecepatan cahaya (sekitar 186.000 mil per detik atau
300.000 km per detik), E yaitu energi yang terkandung dalam sebuah benda
diam, dan m yaitu massanya. Energi yang terkandung dalam massa m yaitu
setara dengan massa ini yang dikalikan kuadrat dari kecepatan cahaya yang luar
biasa besar itu.
Persamaan Maxwell mengatakan bahwa tidak perduli kita berlari
mengejar atau menjauhi berkas cahaya, kecepatan cahaya tetap konstan, tidak
peduli betapa cepat kita berlari. Berbeda dengan hukum gerak benda Newton,
yang mengizinkan kita bisa mengejar kecepatan cahaya asal memiliki
percepatan yang cukup.
Disinilah Einstein merubah segala-galanya. Kecepatan yaitu sebuah
ukuran jarak tempuh dibagi oleh lama waktu tempuh, dan ini jelas tergantung
oleh ruang (space) dan waktu (time). Semua konsep fisika yang dibangun dari
dua teori unifikasi ini memandang ruang dan waktu yaitu dua hal yang tetap
dan tak-berubah oleh apapun fenomena di alam semesta. Ruang dan waktu
menjadi dua referensi utama dalam pengamatan dan pengukuran fenomena
alam.
Sejarah fisika sepanjang yang telah diketahui telah dimulai pada tahun
sekitar 2400 SM, saat kebudayaan Harappan memakai suatu benda
untuk memperkirakan dan menghitung sudut bintang di angkasa. Sejak saat itu
fisika terus berkembang sampai ke level sekarang. Perkembangan ini tidak
hanya membawa perubahan di dalam bidang dunia benda, matematika dan
filosofi namun juga, melalui teknologi, membawa perubahan ke dunia sosial
masyarakat. Revolusi ilmu yang berlangsung terjadi pada sekitar tahun 1600
dapat dikatakan menjadi batas antara pemikiran purba dan lahirnya fisika
klasik. Dan akhirnya berlanjut ke tahun 1900 yang menandakan mulai
berlangsungnya era baru yaitu era fisika modern. Di era ini ilmuwan tidak
melihat adanya penyempurnaan di bidang ilmu pengetahuan, pertanyaan demi
pertanyaan terus bermunculan tanpa henti, dari luasnya galaksi, sifat alami dari
kondisi vakum sampai lingkungan subatomik. Daftar persoalan dimana para
fisikawan harus memecahkannya, terus bertambah dari waktu ke waktu.
Fisika Awal
Sejak jaman dulu, manusia terus memperhatikan bagaimana benda-
benda di sekitarnya berinteraksi, kenapa benda yang tanpa disangga jatuh keb
bawah, kenapa benda yang berlainan memiliki sifat yang berlainan juga, dan
sebagainya. Mereka juga mengira-ira tentang misteri alam semesta, bagaimana
bentuk dan posisi bumi di tengah alam yang luas ini dan bagaima sifat-sifat dari
matahari dan bulan, dua benda yang memiliki posisi penting dalam kehidupan
manusia purba. Secara umum, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini
mereka secara mudah langsung mengaitkannya dengan pekerjaan dewa.
Akhirnya, jawaban yang mulai ilmiah namun tentu saja masih terlalu
berspekulasi, mulai berkembang. Tentu saja jawaban ini kebanyakan masih
salah sebab tidak didasarkan pada eksperimen, bagaimanapun juga dengan
begini ilmu pengetahuan mulai mendapat tempatnya. Fisika pada masa awal ini
kebanyakan berkembang dari dunia filosofi, dan bukan dari eksperimen yang
sistematis.
Kontribusi Islam
Saat itu kebudayaan didominasi oleh Kekaisaran Roma, ilmu medik dan
fisika berkembang sangat pesat yang dipimpin oleh ilmuwan dan filsuf dari
Yunani. Runtuhnya Kekaisaran Roma berakibat pada mundurnya perkembangan
ilmu pengetahuan di dataran Eropa. Bagaimanapun juga kebudayaan di timur
tengah terus berkembang pesat, banyak ilmuwan dari Yunani yang mencari
dukungan dan bantuan di timur tengah ini. Akhirnya ilmuwan muslim pun berhasil
mengembangkan ilmu astronomi dan matematika, yang akhirnya menemukan
bidang ilmu pengetahuan baru yaitu kimia. sesudah bangsa Arab menaklukkan
Persia, ilmu pengetahuan berkembang dengan cepat di Persia dan ilmuwan
terus bermunculan yang akhirnya dengan giatnya memindahkan ilmu yang telah
ada dari kebudayaan Yunani ke timur tengah yang saat itu sedang mundur dari
Eropa yang mulai memasuki abad kegelapan.
Dua ribu tahun lalu, orang berpikir bahwa hukum-hukum jagad telah
tercakup seluruhnya dalam geometrinya Euclides. Tidak ada sesuatupun yang
dapat ditambahkan kepadanya. Ini yaitu ilusi yang diderita tiap jaman. Untuk
waktu yang panjang sesudah wafatnya Newton, para ilmuwan berpikir bahwa ia
telah menyatakan segala sesuatu yang perlu dikatakan tentang hukum-hukum
alam. Laplace mengeluh bahwa hanya ada satu jagad, dan Newton telah
mendapat berkah besar sehingga ia telah menemukan semua hukum yang
mengaturnya.
Selama dua ratus tahun teori Newton tentang sifat partikel dari cahaya
diterima secara luas, dengan demikian menentang teori bahwa cahaya yaitu
gelombang, yang diajukan oleh fisikawan Belanda, Huygens. Kemudian teori
cahaya sebagai partikel dinegasi oleh orang Perancis itu, A. J. Fresnel, yang
teori gelombang cahayanya telah dikonfirmasi oleh percobaan J. B. L. Foucault.
Newton telah meramalkan bahwa cahaya, yang berjalan dengan
kecepatan 186.000 mil per detik (± 300.000 km/detik) di ruang hampa,
seharusnya berjalan lebih cepat dalam air. Para pendukung teori gelombang
cahaya meramalkan bahwa kecepatannya harusnya lebih rendah, dan
percobaan membuktikan bahwa mereka benar.
Terobosan besar untuk teori gelombang dicapai oleh ilmuwan cemerlang
dari Skotlandia James Clerk Maxwell, pada paruh kedua abad ke-19. Maxwell
mendasarkan dirinya pada kerja eksperimental dari Michael Faraday, yang
menemukan induksi elektromagnet, dan menyelidiki sifat-sifat magnet, dengan
kedua kutubnya, utara dan selatan, yang melibatkan gaya-gaya tak kasat mata
yang membentang di bumi dari ujung ke ujung.
Maxwell memberi penemuan empirik ini satu bentuk universal dengan
menerjemahkannya ke dalam persamaan matematika. Karyanya ini membimbing
orang ke dalam penemuan medan, yang kemudian menjadi dasar Einstein untuk
merumuskan teori relativitas umumnya. Satu generasi berdiri di atas bahu
generasi sebelumnya, saling menegasi dan memelihara penemuan yang
terdahulu, terus-menerus memeperdalamnya, dan memberinya bentuk-bentuk
dan hakikat yang lebih umum.
Tujuh tahun sesudah meninggalnya Maxwell, Hertz mendeteksi untuk
pertama kalinya gelombang elektromagnetik yang diramalkan oleh Maxwell.
Teori partikel, yang telah berkuasa sejak Newton, nampaknya dihantam hancur
oleh elektromagnetika Maxwell. Sekali lagi para ilmuwan percaya bahwa mereka
telah menggenggam satu teori yang akan dapat menjelaskan segala sesuatu.
Hanya ada beberapa masalah yang masih harus dibereskan, dan kita
akan segera mengetahui apa segala yang perlu diketahui tentang alam raya ini.
Tentu saja, ada beberapa ketidakcocokan yang mengganggu, tapi nampaknya
cukup kecil sehingga dapat diabaikan. Walau demikian, hanya beberapa
dasawarsa kemudian, beberapa ketidakcocokan "kecil" ini terbukti cukup untuk
menggulingkan seluruh struktur teori yang ada dan mendorong terjadinya
revolusi ilmiah yang kuat.
Partikel atau Gelombang?
Semua orang tahu gelombang itu apa. Ia yaitu hal umum yang
dihubungkan dengan air. Seperti halnya gelombang dapat dihasilkan oleh seekor
bebek yang bergerak di atas permukaan sebuah kolam, demikian pula sebuah
partikel, misalnya sebuah elektron, dapat memicu satu gelombang
elektromagnetik, saat ia bergerak melintasi ruang.
Gerakan bergetar dari elektron mengganggu medan listrik dan magnet,
memicu gelombang menyebar secara kontinyu, seperti riak dalam kolam.
Tentu saja analogi ini hanya mendekati saja. Ada perbedaan mendasar antara
gelombang air dan gelombang elektromagnetik. Gelombang yang disebut
terakhir ini tidak membutuhkan satu medium kontinyu yang harus dilaluinya
dalam perjalanan, seperti air misalnya.
Sebuah getaran elektromagnetik yaitu satu gangguan periodik yang
menjalarkan dirinya sendiri melalui struktur elektrik materi. Walau demikian,
perbandingan itu dapat memberi penjelasan yang lebih terang.
Fakta bahwa kita tidak dapat melihat gelombang ini tidaklah berarti bahwa
keberadaan mereka tidak dapat kita deteksi, bahkan dalam kehidupan sehari-
hari. Kita memiliki pengalaman langsung merasakan gelombang cahaya dan
gelombang radio, bahkan sinar-X. Satu-satunya perbedaan antara mereka
semua yaitu pada frekuensinya.
Kita tahu bahwa sebuah gelombang di air akan memicu satu objek
yang sedang mengapung terangkat naik-turun, lebih cepat atau lebih lambat,
tergantung kekuatan gelombang itu sendiri - riak yang disebabkan oleh seekor
bebek tentu jauh lebih lemah dibandingkan yang disebabkan oleh sebuah kapal
motor. Mirip dengan itu, osilasi elektron akan berbanding lurus dengan intensitas
gelombang cahaya.
Persamaan Maxwell, yang telah didukung oleh Hertz dan lain-lain,
menyediakan satu bukti yang kuat untuk mendukung teori bahwa cahaya
merupakan gelombang, yang memiliki sifat-sifat elektromagnetik. Walau
demikian, pada peralihan abad, orang mengumpulkan bukti-bukti bahwa teori
inipun keliru.
Di tahun 1900 Max Planck telah menunjukkan bahwa teori gelombang
klasik membuat beberapa ramalan yang tak dapat dibuktikan dalam praktek. Ia
mengajukan bahwa cahaya datang dalam partikel-partikel diskret atau dalam
"paket-paket" (kuanta). Situasinya menjadi lebih rumit lagi oleh adanya fakta
bahwa percobaan-percobaan lain membuktikan hal-hal yang bertentangan.
Dapatlah diperlihatkan bahwa sebuah elektron yaitu sebuah partikel dengan
menumburkannya pada layar fluorescent dan mengamati pendar yang dihasilkan
oleh tumburan itu; atau dengan mengamati jalur yang dibentuk elektron dalam
kamar gas; atau melalui titik-titik mini yang muncul dalam sebuah plat foto yang
sudah dicuci. Di pihak lain, jika dua lubang dibuat di sebuah layar, dan elektron
dialirkan melalui sebuah sumber tunggal, mereka akan membentuk pola
interferensi, yang menunjukkan bahwa elektron memiliki sifat gelombang.
Hasil yang paling aneh justru didapat dalam percobaan celah-ganda yang
terkenal itu, di mana sebuah elektron tunggal ditembakkan pada sebuah layar
yang mengandung dua celah dan sebuah plat foto di belakangnya. Pada celah
yang mana elektron tunggal itu akan lewat? Pola interferensi yang terbentuk
pada plat foto di belakang celah itu jelas yaitu pola yang hanya dapat dibentuk
oleh dua celah. Hal ini membuktikan bahwa elektron melewati kedua celah itu
sekaligus sehingga dapat membentuk sebuah pola interferensi. Ini tentunya
bertentangan dengan hukum-hukum nalar-sehat, tapi percobaan ini tak dapat
dibantah lagi kebenarannya. Sebuah elektron bersifat baik sebagai partikel
maupun sebagai gelombang. Ia berada dalam dua (atau lebih) tempat sekaligus,
dan dalam beberapa keadaan gerak sekaligus!
"Janganlah kita bayangkan," komentar Banesh Hoffmann, "bahwa para
ilmuwan menerima penemuan baru ini dengan sorak kemenangan. Mereka
menentang penemuan-penemuan ini dan menolaknya sejauh mereka dapat,
menciptakan segala jenis jebakan dan hipotesis alternatif dalam sebuah upaya
putus-asa untuk menyelamatkan diri dari keharusan menerima fakta itu sebagai
kebenaran. Tapi paradoks itu telah hadir dengan menyolok sejak 1905 dalam
kasus cahaya, dan bahkan lebih dulu lagi, dan tidak seorangpun memiliki
keberanian atau kecerdikan untuk menyelesaikan persoalan ini sampai
munculnya mekanika kuantum yang baru itu. Ide baru ini sangatlah sulit diterima
sebab kita terus secara insting berusaha membangun gambaran tentangnya
dalam bentuk-bentuk partikel tradisional, dengan mengabaikan prinsip
ketidakpastian Heisenberg. Kita terus menghindar dari penggambaran sebuah
elektron sebagai sesuatu yang, sembari memiliki gerak, mungkin tidak memiliki
posisi, dan sembari memiliki posisi, mungkin tidak mengenal konsep gerak atau
diam.
Di sini kita melihat bekerjanya negasi dari negasi. Pada pandangan
pertama, kita kelihatannya telah menempuh satu lingkaran penuh. Teori partikel
cahaya dari Newton telah dinegasi oleh teori gelombang Maxwell. Teori ini, pada
gilirannya, dinegasi pula oleh teori partikel yang baru, yang dikemukakan oleh
Planck dan Einstein. Tapi hal ini tidaklah berarti kembali pada teori Newtonian
lama, tapi menempuh lompatan kualitatif ke depan, dengan melibatkan satu
revolusi sejati dalam ilmu pengetahuan. Semua ilmu pengetahuan harus
dirombak total, termasuk hukum gravitasi Newton itu sendiri.
Revolusi ini tidaklah membuat persamaan Maxwell tidak berlaku lagi,
persamaan itu tetap sahih untuk sejumlah besar operasi tentang medan. Yang
ditunjukkan hanyalah, di luar batas tertentu, ide-ide fisika klasik tidak lagi
berlaku. Gejala dunia partikel sub-atomik tidaklah dapat dipahami dengan
metode-metode mekanika klasik. Di sini, ide-ide mekanika kuantum dan
relativitas bermain penuh. Pada sebagian besar waktu di abad ini, fisika telah
didominasi oleh teori relativitas dan mekanika kuantum yang, pada awalnya,
ditolak mentah-mentah oleh orang-orang yang mendominasi ilmu pengetahuan,
yang berpegangan erat-erat pada pandangan-pandangan lama. Ada pelajaran
yang penting di sini. Upaya apapun untuk memaksakan satu "solusi final"
terhadap pandangan kita atas alam raya ini pasti akan menemui kegagalan.
Mekanika Kuantum
Perkembangan fisika kuantum merupakan lompatan besar ke muka dalam
ilmu pengetahuan, satu pemisahan yang menentukan dengan determinisme
mekanik kuno dari fisika "klasik". (Metode "metafisik", yaitu istilah yang gemar
digunakan Engels untuk menggambarkannya). Sebagai gantinya, kita
mendapatkan satu pandangan atas alam yang lebih lentur dan dinamis - dengan
kata lain, dialektik.
Dimulai dengan penemuan Planck tentang keberadaan kuantum, yang
pada awalnya terlihat sebagai sebuah rincian yang remeh, hampir seperti
sebuah anekdot, seluruh wajah fisika mengalami perubahan. Di sini kita
mendapati sebuah ilmu pengetahuan baru yang dapat menjelaskan gejala
peluruhan radioaktif dan menelaah dengan sangat rinci data spektroskopi yang
kompleks itu. Secara langsung hal itu membawa kita pada pendirian sebuah ilmu
baru - kimia teoritik, yang mampu menyelesaikan masalah-masalah yang tadinya
tak terpecahkan.
Secara umum, serangkaian kesulitan teoritik tersingkirkan, sesudah satu
sudut pandangan baru diterima. Fisika baru telah mengungkap kekuatan maha
dahsyat yang tersimpan dalam inti atom. Hal ini membawa kita langsung pada
penyalahgunaan enerji nuklir - jalur yang penuh potensi pengrusakan atas
kehidupan di muka bumi - atau justru pada masa depan yang sampai sekarang
tak berani dibayangkan orang, dengan kelimpahan tanpa batas dan kemajuan
sosial melalui penggunaan fusi nuklir secara damai. Teori relativitas Einstein
menjelaskan bahwa massa dan energi yaitu dua hal yang setara. Jika massa
sebuah objek diketahui, dengan mengalikannya pada kuadrat kecepatan cahaya,
materi akan berubah menjadi energi.
Einstein menunjukkan bahwa cahaya, yang sampai saat itu masih
dianggap sebagai sebuah gelombang, berperilaku seperti sebuah partikel.
Cahaya, dengan kata lain, yaitu salah satu bentuk saja dari materi. Hal ini telah
dibuktikan di tahun 1919, saat ditunjukkan bahwa cahaya dibelokkan oleh gaya
gravitasi. Louis de Broglie kemudian menunjukkan bahwa materi, yang dianggap
hanya terdiri dari partikel, selalu memiliki pula sifat-sifat gelombang. Batasan
antara materi dan energi telah dihapuskan untuk selamanya. Materi dan energi
yaitu sama. Ini yaitu kemajuan raksasa dari ilmu pengetahuan. Dan dari
sudut pandang Materialisme yang Dialektik, materi dan energi yaitu sama.
Engels menggambarkan energi ("gerak") sebagai "cara mengada, ciri internal,
dari materi".
Argumen yang mendominasi fisika partikel selama bertahun-tahun,
apakah partikel sub-atomik seperti foton dan elektron yaitu partikel atau
gelombang akhirnya diselesaikan oleh mekanika kuantum yang menegaskan
bahwa partikel sub-atomik dapat, dan memang, berperilaku sebagai partikel dan
gelombang sekaligus.
Seperti sebuah gelombang, cahaya menghasilkan interferensi, tapi,
sebuah foton cahaya juga dapat memantul saat membentur sebuah elektron,
berlaku seperti sebuah partikel. Hal ini bertentangan dengan logika formal.
Bagaimana mungkin "nalar-sehat" menerima bahwa sebuah elektron dapat ada
di dua tempat sekaligus? Atau bahkan bergerak, pada kecepatan yang tinggi tak
terbayangkan, ke berbagai jurusan sekaligus? Cahaya yang berperilaku sebagai
gelombang dan partikel sekaligus akan dilihat sebagai kontradiksi yang tak
terselesaikan. Upaya untuk menjelaskan gejala kontradiktif dari dunia sub-atomik
dengan cara-cara logika formal akan membawa kita meninggalkan pemikiran
rasional sama sekali. Dalam kesimpulannya atas sebuah karya yang ditulis
tentang revolusi kuantum, Banesh Hoffmann sanggup menulis:
"Berapa sering lagi kita harus mengagumi karya Tuhan yang luar biasa,
yang menciptakan langit dan bumi dari sebuah hakikat primat dari sebuah rincian
yang demikian indah sehingga dengannya Ia dapat menciptakan otak dan pikiran
yang bernyala dengan berkah kemampuan meramal yang ilahiah untuk
menerobos misteri ciptaan-Nya sendiri. Jika pikiran dari seorang Bohr atau
Einstein membuat kita terkagum-kagum dengan kekuatannya, bagaimana kita
mulai memuja keagungan Tuhan yang menciptakannya?”.
Sayangnya, ini bukan satu contoh yang merupakan pengecualian.
Sejumlah besar literatur modern tentang ilmu pengetahuan, termasuk banyak
yang ditulis para ilmuwan itu sendiri, sangat kuat mengandung pandangan yang
mistis, religius atau kuasi-religius semacam ini. Ini yaitu hasil langsung dari
filsafat idealis yang masih dipegang, sadar atau tidak sadar, oleh banyak sekali
ilmuwan.
Hukum-hukum mekanika kuantum akan runtuh di hadapan "nalar-sehat"
(yaitu, logika formal), tapi akan berkesesuaian benar dengan materialisme
dialektik. Ambillah, misalnya, pandangan tentang sebuah titik. Seluruh geometri
tradisional diturunkan dari satu titik, yang selanjutnya menjadi garis, bidang,
kubus, dsb. Walau demikian, pengamatan yang lebih rinci menunjukkan bahwa
sebuah titik tidaklah memiliki keberadaan mandiri.
Titik dipandang sebagai pernyataan ruang yang terkecil, sesuatu yang
tidak memiliki dimensi. Pada kenyataannya, titik tersebut terdiri dari atom-atom,
elektron, inti atom, foton, dan partikel-partikel lain yang lebih kecil lagi. Pada
akhirnya, ia lenyap dalam sebuah flux gelombang kuantum yang tidak pernah
berhenti bergetar. Dan tidak ada akhir bagi proses ini. Tidak ada "titik" yang
dapat ditetapkan sama sekali. Inilah jawaban final bagi para idealis yang
berusaha mencari "bentuk" sempurna yang katanya ada "di luar" realitas
material yang dapat diamati.
Satu-satunya "realitas puncak" yaitu jagad material yang tidak
berhingga, abadi, dan terus berubah, yang jauh lebih indah dalam segala variasi
bentuk dan prosesnya yang tanpa henti ketimbang segala macam petualangan
ajaib dari fiksi ilmiah. Bukannya satu lokasi yang dapat ditentukan - satu "titik" -
tapi sebuah proses, sebuah flux yang tanpa henti. Segala upaya untuk
memaksakan batasan bagi hal ini, dalam bentuk awal atau akhir, pasti akan
menemui kegagalan.
Melenyapnya Materi ?
Jauh sebelum ditemukannya relativitas, ilmu pengetahuan telah
menemukan dua prinsip dasar - kekekalan energi dan kekekalan massa. Hukum
yang pertama ditemukan oleh Leibniz di abad ke-17, dan kemudian
dikembangkan di abad ke-19 sebagai sebuah hasil dari prinsip-prinsip mekanika.
Jauh sebelum itu, manusia jaman purba telah menemukan secara praktek
prinsip kesetaraan antara kerja dan panas, saat ia membuat api melalui
gesekan, dengan demikian mengubah sejumlah tertentu energi (kerja) menjadi
panas.
Pada awal abad ini, ditemukan bahwa massa hanyalah salah satu bentuk
energi. Satu partikel materi bukan lain yaitu energi, yang sangat terkonsentrasi
dan terlokalisasi. Jumlah energi yang terkonsentrasi dalam sebuah partikel
berbanding lurus dengan massanya, dan jumlah total energi yaitu selalu tetap.
Hilangnya sejumlah energi tertentu akan selalu diimbangi dengan didapatnya
sejumlah energi dalam bentuk lain. Sambil terus mengubah bentuknya,
bagaimanapun, energi akan tetap sama selamanya.
Revolusi yang disebabkan oleh Einstein yaitu satu pembuktian bahwa
massa itu sendiri mengandung jumlah energi yang luar biasa. Kesetaraan massa
dan energi dinyatakan dalam persamaan E = mc² di mana c melambangkan
kecepatan cahaya (sekitar 186.000 mil per detik atau 300.000 km per detik), E
yaitu energi yang terkandung dalam sebuah benda diam, dan m yaitu
massanya. Energi yang terkandung dalam massa m yaitu setara dengan
massa ini yang dikalikan kuadrat dari kecepatan cahaya yang luar biasa besar
itu.
Dengan demikian, massa yaitu bentuk energi yang teramat
terkonsentrasi, kekuatan yang boleh digambarkan oleh fakta bahwa energi yang
dilepaskan dalam sebuah ledakan atom dihasilkan saat hanya 10% dari
massanya diubah menjadi energi. Biasanya, energi raksasa yang terkunci dalam
materi ini tidak mewujud, dan dengan demikian tidak diperhatikan oleh manusia.
Tapi jika proses di dalam inti atom mencapai satu titik kritis, sebagian energi
akan dilepaskan, sebagai energi kinetik.
sebab massa hanyalah salah satu bentuk energi, baik materi maupun
energi tidak dapat diciptakan maupun dihancurkan. Bentuk-bentuk energi, di
pihak lain, sangatlah beragam. Sebagai contoh, saat proton di permukaan
matahari bersatu untuk membentuk inti atom helium, energi nuklir dilepaskan.
Pertama-tama ini mungkin nampak sebagai energi kinetik dari gerak inti atom,
yang kemudian memberi sumbangan pada energi panas yang dilepaskan
matahari.
Sebagian energi ini dipancarkan dari matahari dalam bentuk foton,
mengandung partikel-partikel energi elektromagnetik. Partikel-partikel ini, pada
gilirannya, diubah oleh proses fotosintesis menjadi energi kimia potensial yang
tersimpan dalam tumbuhan, yang pada giliran selanjutnya, diserap oleh manusia
dengan memakan tanaman, atau hewan yang hidup dari memakan tanaman,
untuk menyediakan kehangatan dan energi bagi otot, aliran darah, otak, dan lain-
lain.
Hukum-hukum fisika klasik secara umum tak dapat diterapkan pada
tingkat sub-atomik. Walau demikian, ada lah satu hukum yang tidak
mengenal pengecualian di alam - hukum kekekalan energi. Para fisikawan tahu
bahwa baik muatan positif maupun negatif tidaklah dapat diciptakan dari sebuah
ketiadaan. Fakta ini dinyatakan dalam hukum kekekalan muatan listrik. Dengan
demikian, dalam proses untuk menghasilkan partikel beta, lenyapnya neutron
(yang tidak bermuatan) memicu sepasang partikel yang muatannya
berlawanan - proton yang bermuatan positif dan elektron yang bermuatan
negatif. Bersama-sama, kedua partikel baru itu memiliki muatan gabungan
setara dengan nol.
Jika kita melakukan proses kebalikannya, saat sebuah proton
memancarkan sebuah positron dan berubah menjadi neutron, muatan dari
partikel asli (proton) yaitu positif dan partikel yang dihasilkan (neutron dan
posittron), bersama-sama, juga bermuatan positif. Dalam seluruh perubahan
yang beraneka ragam ini, hukum kekekalan muatan dipatuhi secara ketat,
seperti halnya hukum-hukum kekekalan yang lain. Tidak secuilpun energi yang
diciptakan atau dihancurkan. Dan gejala semacam itu juga tidak akan pernah
terjadi.
saat sebuah elektron dan anti-partikelnya, positron, saling
menghancurkan, massa mereka "hilang", yaitu, diubah menjadi dua partikel
cahaya (foton) yang terbang berhamburan ke arah yang berlawanan. Walau
demikian, keduanya memiliki energi total yang sama dengan kedua partikel yang
telah bersatu untuk menghasilkan mereka.
Kesetaraan massa dan energi, momentum linear dan muatan listrik
dipelihara dengan ketat. Gejala ini sama sekali tidak sama dengan pelenyapan
dalam makna penghancuran. Secara dialektik, elektron dan positron dinegasi
dan dipelihara pada saat bersamaan. Materi dan energi (yang hanya merupakan
dua cara untuk menyatakan hal yang sama) tidak akan pernah dapat diciptakan
maupun dihancurkan, hanya diubah.
Dari sudut pandang materialisme dialektik, materi yaitu realitas objektif
yang diberikan kepada kita dalam persepsi-inderawi. Ini mencakup bukan saja
objek yang "solid" melainkan juga cahaya. Foton yaitu sama materialnya
dengan elektron atau positron. Massa terus-menerus diubah menjadi energi
(termasuk cahaya - foton) dan energi menjadi massa. "Penghancuran" sebuah
positron dan elektron menghasilkan sepasang foton, tapi kita juga melihat proses
yang kebalikannya: saat dua foton bertemu, sebuah elektron dan sebuah
positron dapat dihasilkan, asalkan foton itu mengandung energi yang cukup. Hal
ini kadangkala disajikan pada kita dalam konsep penciptaan materi "dari
ketiadaan". Tidak ada hal semacam itu. Apa yang kita lihat di sini bukanlah
penghancuran maupun penciptaan apapun, tapi satu peralihan yang terus-
menerus dari materi menjadi energi dan sebaliknya.
saat sebuah foton menghantam inti atom, ia berhenti mengada sebagai
sebuah foton. Ia hilang, tapi memicu satu perubahan di dalam atom -
sebuah elektron meloncat dari satu orbit yang lebih rendah ke orbit lain yang
lebih tinggi tingkatan energinya. Di sini juga proses yang kebalikannya terjadi.
saat sebuah elektron melompat ke orbit yang berenergi lebih rendah, sebuah
foton muncul.
Proses perubahan yang terus-menerus ini, yang mencirikan dunia di
tingkat sub-atomik yaitu sebuah pembenaran yang dahsyat terhadap fakta
bahwa dialektika bukanlah sekedar reka-reka subjektif, tapi sungguh-sungguh
terhubung dengan proses objektif yang terjadi secara alamiah. Proses ini telah
berjalan tanpa terputus sepanjang segala abad. Ia yaitu pembuktian kongkrit
dari tidak dapat dihancurkannya materi - persis kebalikan dari apa yang tadinya
hendak dibuktikan oleh para idealis.
"Batu Penyusun Materi"?
Telah beabad-abad para ilmuwan berusaha dengan sia-sia untuk
menemukan "batu penyusun materi" - partikel pamungkas yang terkecil. Seratus
tahun yang lalu, mereka pikir mereka telah menemukannya dalam bentuk atom
(yang, dalam bahasa Yunani, berarti "sesuatu yang tak dapat dibagi lagi").
Penemuan partikel-partikel sub-atomik memaksa fisika untuk merambah lebih
dalam ke dalam struktur materi.
Di tahun 1928, para ilmuwan berkhayal bahwa mereka telah menemukan
partikel-partikel yang terkecil - proton, elektron dan foton. Seluruh dunia material
dianggap tersusun dari ketiga partikel ini. Selanjutnya, ini juga diruntuhkan oleh
penemuan neutron, positron, deuteron, dan serombongan partikel lain, yang
semakin kecil, dengan keberadaan yang semakin sekejap seperti - neutrino, pi-
meson, mu-meson, k-meson, dan banyak lagi yang lain. Umur dari beberapa
partikel ini sangat kecil - mungkin sepersejuta detik, sehingga mereka
digambarkan sebagai "partikel virtual" yaitu sesuatu yang sama sekali tak
terbayangkan sebelum datangnya jaman kuantum.
Tauon berumur hanya seperbilyun detik, sebelum luruh menjadi muon,
dan kemudian menjadi elektron. Pion yang netral lebih pendek lagi masa
hidupnya, luruh dalam waktu kurang dari sepertrilyun detik untuk membentuk
sepasang partikel sinar gamma. Walau demikian, partikel-partikel gamma ini
hidup sampai usia lanjut, dibandingkan dengan yang lain-lain yang hanya hidup
selama seperseratus mikrodetik.
Beberapa yang lain, seperti partikel sigma yang netral, luruh sesudah seper
seratus milyar detik. Di tahun 1960-an, bahkan hal ini masih dikalahkan oleh
penemuan partikel yang lebih pendek lagi masa hidupnya sehingga
keberadaannya hanya dapat disimpulkan dari keharusan mereka untuk meluruh
agar terbentuk beberapa partikel turunan yang telah diketahui. Masa paro-hidup
dari partikel-partikel ini berada di kisaran seper beberapa trilyun detik. Mereka
dikenal sebagai partikel resonan. Dan inipun belum lagi akhir ceritanya.
Lebih dari seratus limapuluh partikel lain ditemukan kemudian, yang
kemudian dikenal sebagai hadron. Situasinya demikian ruwet. Seorang fisikawan
Amerika, Dr. Murray Gell-Mann, dalam upayanya untuk menjelaskan struktur
partikel-partikel sub-atomik, telah mempostulatkan beberapa partikel yang lain
lagi, yang lebih mendasar, quark, yang lagi-lagi dicanangkan sebagai "batu
penyusun materi yang pamungkas". Gell-Mann berteori bahwa ada enam
jenis quark dan bahwa keluarga quark yaitu paralel dengan keenam anggota
keluarga partikel yang lebih ringan, yang disebut lepton.
Semua materi kini dianggap terdiri dari duabelas partikel penyusun.
Namun, bahkan bentuk materi paling dasar yang dikenal ilmu pengetahuan ini
masih juga mengandung kualitas kontradiktif yang sama dengan apa yang kita
amati di seluruh jagad raya, bersesuaian dengan hukum dialektik tentang
kesatuan dari hal-hal yang bertentangan. Quark juga hadir dalam pasangan-
pasangan, dengan muatan postitif dan negatif, sekalipun, dengan anehnya,
dinyatakan dalam pecahan.
Sekalipun ada fakta bahwa pengalaman telah menunjukkan bahwa tidak
ada batasan bagi materi, para ilmuwan terus berkeras melancarkan pencarian
sia-sia terhadap "batu penyusun materi". Benar bahwa pernyataan itu hanyalah
penemuan sensasional dari para jurnalis dan para ilmuwan yang terobsesi
dengan kemungkinan promosi, dan bahwa pencarian partikel yang semakin lama
semakin kecil dan mendasar yaitu kegiatan ilmiah yang sangat bona-fide, yang
berguna untuk memperdalam pengetahuan kita tentang cara bekerjanya alam
raya ini. Tapi, walau demikian, kita tentu mendapatkan kesan bahwa sedikitnya
beberapa dari mereka benar-benar percaya bahwa mungkin bagi kita untuk
mencapai satu bentuk realitas yang pamungkas, yang merupakan batasan di
mana di luar itu tidak ada lagi sesuatupun yang dapat ditemukan, setidaknya di
tingkat sub-atomik.
Quark kini dianggap sebagai yang pamungkas dari keduabelas "batu
penyusun" sub-atomik yang katanya menyusun segala materi di jagad raya. "Hal
yang menarik yaitu bahwa inilah potongan materi yang terakhir yang akan
pernah kita kenal, seperti yang diramalkan oleh kosmologi dan Model Standard
dari fisika partikel, Dr. David Schramm dilaporkan berujar, 'Inilah potongan teka-
teki yang terakhir itu. Jadi, quark yaitu "partikel pamungkas". Ia disebut
fundamental dan tidak memiliki struktur lagi di dalamnya. Tapi hal yang sama
telah pula diramalkan di masa lalu untuk atom, lalu proton, dan sebagainya dan
seterusnya.
Dengan cara yang sama, kita dapat dengan yakin meramalkan penemuan
bentuk-bentuk yang lebih "fundamental" lagi dari materi di masa depan. Fakta
bahwa keadaan pengetahuan dan teknologi kita yang sekarang tidaklah
mengijinkan kita untuk menentukan sifat-sifat quark tidaklah kemudian
mewajibkan kita untuk mengatakan bahwa ia tidak memiliki struktur lagi di
dalamnya.
Sifat dan ciri quark masih harus menunggu telaah lebih lanjut, dan tidak
ada alasan untuk menganggap bahwa hal ini tidak akan mungkin tercapai,
bahwa mustahil bagi kita untuk merambah ke kedalaman struktur materi yang
tidak berujung. Inilah cara yang selalu ditempuh ilmu pengetahuan dalam
kemajuannya. Halangan yang tadinya dianggap mustahil dipecahkan oleh satu
generasi dijungkirkan oleh generasi berikutnya, dan demikian seterusnya
sepanjang jaman. Seluruh pengalaman lampau kita memberi segala alasan
untuk percaya bahwa proses dialektikal atas kemajuan pengetahuan manusia ini
yaitu sama tak berujungnya seperti jagad raya itu sendiri.
BAGAIMANA EINSTEIN MEREVOLUSI DUNIA
FISIKA ?
Ada yang istimewa di tahun 2005, tahun ini yaitu ulang
tahun revolusi di dunia fisika. Seratus tahun yang lalu,
pada tahun 1905, Albert Einstein (yang kala itu berusia 26
tahun) mempublikasikan tulisannya pada majalah ilmiah berkala Jerman
“Annalen der Physik”. Tulisan itu berjudul “On the Electromagnetic of Moving
Body”, di dalamnya ada sebuah ide revolusioner: teori Relativitas Khusus.
Begitu besarnya arti revolusi tersebut, Persatuan Fisika Murni dan Aplikasi
Internasional (International Union of Pure and Applied Physics, IUPAP) atas
permintaan Masyarakat Fisika Eropa (Europian Physical Sociaty, EPS)
mendeklarasikan tahun 2005 sebagai Tahun Fisika Dunia. Artikel ini membahas
secara popular arti besarnya revolusi yang dilakukan Einstein muda dan
dampaknya pada pemahaman kita terhadap alam semesta.
Perkembangan Fisika Sebelum 1900
Perkembangan fisika selalu menjurus pada penyatuan (atau unifikasi)
teori-teori. Semakin banyak sebuah teori menjelaskan fenomena, semakin
fundamentallah teori itu. Sebelum 1900, sejarah mencatat dua unifikasi teori
yang merevolusi pemahaman kita terhadap alam semesta. Pertama yaitu
unifikasi teori Gravitasi oleh Isaac Newton (Inggris, 1642 – 1727) pada tahun
1687. Kedua yaitu unifikasi teori listrik-magnet-cahaya oleh James Clerk
Maxwell (Skotlandia, 1831 – 1879) pada tahun 1855.
Teori Gravitasi Newton (atau sering disebut Hukum Gravitasi Newton)
yaitu teori unifikasi pertama yang dibuat manusia, yang sukses menyatukan
hukum pergerakan planet Kepler (Johannes Kepler, Jerman, 1571 – 1630) dan
hukum fenomena dinamika dan inersia Galileo (Galileo Galilei, Itali, 1564-1642).
Newton menjelaskan idenya dalam “Principia Mathematica”, publikasi pertama
yang menjelaskan fisika memakai bahasa metematika.
Karya Newton benar-benar merubah wajah dunia. Hukum pergerakan
benda kemudian menjadi dasar dari Mekanika Klasik dan Fluida. Sementara
hukum pegerakan planet dipakai menjadi acuan oleh para astronom untuk
mempelajari tata surya.
Teori listik-magnet (atau sering disebut teori elektromagnetik) sukses
menyatukan fenomena listrik dan magnet, yang sebelumnya ditemukan oleh
Michael Faraday (Inggris, 1797–1867) pada tahun 1831 dengan fenomena
cahaya. Salah satu prediksi penting dari teori ini menyatakan bahwa cahaya
yaitu gelombang elektromagnetik dengan kecepatan konstan ~ 3x108 m/s.
Teori Elektromagnetik ini yaitu teori unifikasi kedua yang dibuat
manusia, dan menjadi teori fundamental fisika kedua sesudah Hukum Gravitasi
Newton. Kalau Newton berlaku untuk benda berukuran massif (makro), maka
Maxwell untuk benda berukuran ringan (mikro).
Kontradiksi Newton - Maxwell
Suksesnya dua teori unifikasi tersebut bukan tanpa masalah. Ada sebuah
kontradiksi yang tidak terpecahkan pada akhir abad 18 dan awal abad 19.
Kontradiksi ini lahir dari persamaan gerak benda Newton dan persamaan
Maxwell. Persamaan Maxwell mengatakan bahwa tidak perduli kita berlari
mengejar atau menjauhi berkas cahaya, kecepatan cahaya tetap konstan, tidak
peduli betapa cepat kita berlari. Berbeda dengan hukum gerak benda Newton,
yang mengizinkan kita bisa mengejar kecepatan cahaya asal memiliki
percepatan yang cukup. Bagaimana mungkin kecepatan cahaya tidak terlihat
bertambah cepat atau lambat relatif terhadap kita yang bergerak menjauh atau
mendekatnya?
Disinilah Einstein merubah segala-galanya. Kecepatan yaitu sebuah
ukuran jarak tempuh dibagi oleh lama waktu tempuh, dan ini jelas tergantung
oleh ruang (space) dan waktu (time). Semua konsep fisika yang dibangun dari
dua teori unifikasi ini memandang ruang dan waktu yaitu dua hal yang tetap
dan tak-berubah oleh apapun fenomena di alam semesta. Ruang dan waktu
menjadi dua referensi utama dalam pengamatan dan pengukuran fenomena
alam.
Dan sangat kontras dengan persepsi ini, Einstein menyatakan ruang dan
waktu tidak tetap dan tidak tak-berubah. Sebaliknya, ruang dan waktu ini seperti
karet yang bisa memanjang dan memendek. Ruang dan waktu mengatur diri
mereka sendiri untuk menjaga sesuatu yang lain sepeti kecepatan cahaya
konstan, tidak peduli pergerakan benda itu mendekati atau menjauhi berkas
cahaya. Dengan kata lain, benda yang bergerak menuju atau menjauhi berkas
cahaya merasakan ruang dan waktu memuai atau memendek, sehingga
kecepatan cahaya pada akhirnya tetap konstan.
Praktisnya, ini berarti jika kita mengukur panjang sebuah mobil yang
sedang bergerak, hasilnya akan berkurang dibandingkan saat kita mengukur
panjang mobil ini sedang diam (penyempitan ruang). Dan jika kita pasang jam
pada mobil yang bergerak ini, kita akan menemukan bahwa kecepatan jam ini
berputar lebih lambat dibandingkan jam yang sama yang tidak bergerak (dilatasi
waktu). Kesimpulannya, benda bergerak akan melihat ruang memendek dan
waktu melambat. Perubahan ruang-waktu ini semakin besar saat benda
bergerak mendekati kecepatan cahaya.
Inilah revolusi terbesar fisika yang merubah cara pandang kita terhadap
alam semesta. Ruang dan waktu bukan lagi sesuatu yang konstan, melainkan
kecepatan cahaya lah yang konstan dan dan nilainya absolut. Tidak ada yang
lebih cepat dibandingkan kecepatan cahaya.
Teori Relativitas Khusus menyatukan konsep ruang dan waktu yang
diperlakukan berbeda pada fisika sebelumnya menjadi satu: konsep ruang-waktu
(spacetime). Dan inilah cikal bakal revolusi kedua oleh Einstein, lewat Teori
Relativitas Umumnya pada tahun 1915.
Usaha Einstein dalam merubah cara pandang kita terhadap alam semesta
tidak dilakukan dengan mudah. Butuh kejeniusan khusus memang, dan orang-
orang seperti Einstein tidak dilahirkan setiap saat di dunia ini. Tapi ada satu hal
yang dicontohkan Einstein yang pantas kita tiru: berani berpikir keluar dari pola
yang ada. Inilah salah satu kunci dari kesuksesan Einstein selain kerja kerasnya
yang menakjubkan.
2005 Sebagai Tahun Fisika Dunia
IUPAP lewat PBB mencanangkan tahun 2005 ini sebagai Tahun Fisika
Dunia. Di Indonesia, kesadaran umum masyarakat berkurang tentang fisika dan
pentingnya fisika dalam keseharian. Jumlah mahasiswa yang belajar fisika
berkurang secara dramatis. Banyak penelitian yang tidak jalan, lab kosong dan
diskusi-diskusi teori berkurang. Dalam seleksi masuk perguruan tinggi pun,
jurusan Fisika biasanya menjadi jurusan alternatif.
Padahal fisika bukan saja berperan penting dalam pembangunan sains
dan teknologi, tapi juga membawa dampak pada masyarakat kita. Fisika
mengajarkan kita berpikir ilmiah, bertindak seirama dengan prilaku alam.
Semakin banyak sarjana fisika yang konseptual dan membahasakannya pada
masyarakat, semakin tinggilah pengetahuan-dasar umum masyarakat itu. Hingga
pada suatu titik kreativitas masyarakat yang sudah ada bisa dikembangkan lewat
pola-pola ilmiah sehingga hasilnya lebih efektif, efesien, dan bisa lebih
bermanfaat bagi orang banyak.
Indonesia memiliki banyak bibit-bibit unggul. Yang muncul di permukaan
lewat lomba internasional fisika, matematika, biologi, astronomi dan sains lainnya
hanyalah baru secuil. Di pelosok desa dan kampung yang tersebar di seluruh
Indonesia pastilah berlimpah mutiara-mutiara yang mampu menerangi dan
memajukan bangsa kita lewat fisika ataupun sains lainnya.
Mudah-mudahan memanfaatkan moment Tahun Fisika Dunia, perhatian
pemerintah pada pendidikan Fisika dan sains umumnya – baik itu teori maupun
eksperimental-meningkat dari tahun sebelumnya. Mudah-mudahan juga
semangat ini mengilhami para generasi muda kita untuk mulai berkenalan
dengan fisika.
Selama beberapa ratus tahun ilmu fisika didominasi oleh teori Newton
yang menyatakan bahwa setiap zat terdiri dari molekul dan atom serta inti atom
yang masif. Makin masif sel atom suatu zat, makin padat zat itu. Sehingga
terjadilah variasi kepadatan zat-zat, mulai dari gas, cairan sampai benda padat.
Termasuk dalam benda padat yaitu benda-benda yang sangat keras seperti
batu dan karang yang sulit untuk di pecah-pecah, apalagi diuraikan seperti zat
cair atau gas?
namun dalam beberapa puluh tahun terakhir ini, terjadi revolusi dalam ilmu
fisika, yaitu dengan ditemukannya fisika kuantum, yang menyatakan bahwa inti
atom dapat diuraikan dan diuraikan lagi, sehingga akhirnya hanya terdiri dari
kumpulan energi yang dinamis saja. Kata teori ini, inti atom berbanding atomnya
sendiri yaitu bagaikan sebiji anggur berbanding seluruh dunia. Maka dengan
paradigma fisika kwantum ini, benda yang sepadat apapun dapat diuraikan jika
kita bisa menguraikan inti atom tersebut.
Salah satu dampak dari revolusi dalam ilmu fisika ini yaitu
berkembangnya teknologi Nano, yaitu suatu teknologi yang mampu
memperkecil atom menjadi 1/50.000 dari yang asli. Maka benda-benda apa pun
dapat dibuat sangat kecil, termasuk benda-benda padat, sehingga hari ini kita
dapat membuat elemen-elemen teknologi canggih seperti micro-chips dalam
ukuran yang sangat kecil dan alat-alat berteknologi sangat canggih pun bisa
dibuat berukuran sangat kecil seperti telepon seluler, komputer, pesawat TV,
radio dan alat-alat kedokteran.
Dampak lain dari ditemukannya fisika kuantum yaitu dimungkinkannya
pengembangan teknologi transformasi dari rangsang-rangsang optik, menjadi
impuls-impuls digital yang bisa dikirimkan melalui saluran telekomunikasi
dan/atau gelombang-gelombang radio, sehingga gambar, dokumen dan
sebagainya bisa dikirimkan ke seluruh dunia melalui satelit dalam hitungan detik
dengan harga yang sangat murah (fax, internet) yang merupakan pemicu dari
revolusi berikutnya, yaitu dalam bidang teknologi informasi. Di masa yang akan
datang, bukannya tidak mungkin yang dikirimkan yaitu benda-benda paket,
bahkan juga manusia.
Selanjutnya, dalam bidang ilmu kedokteran, dengan adanya kecanggihan
alat-alat kedokteran yang super mini, yang didukung oleh teknologi nano, dapat
dikembangkan teknologi kedokteran yang mampu melakukan diagnosis dan/atau
terapi berbagai penyakit yang semula hanya dapat dilakukan dengan teknik yang
berisiko tinggi, seperti pembedahan, kemo terapi dsb. Berbicara tentang ilmu
kedokteran, di samping pengaruh luar biasa dari teknologi nano tersebut di atas,
ilmu yang satu ini juga dipengaruhi oleh revolusi dalam ilmu biologi, yaitu
ditemukannya teknologi genome. Teknologi genome berawal dari kemajuan
yang sangat pesat dalam ilmu tentang gen, sehingga manusia akhirnya bisa
mengintervensi proses terjadinya dan pertumbuhan gen.
Awalnya teknologi genome hanya bisa digunakan dalam bidang pertanian,
yaitu untuk pencangkokan bibit unggul sayuran dan buah-buahan. namun lama
ke lamaan teknologi ini berkembang ke bidang peternakan. Untuk
mengembangkan ternak-ternak unggul, sampai akhirnya ditemukan teknologi
kloning, yaitu penciptaan hewan (domba) hanya dari satu sel DNA hewan itu.
Dalam ilmu kedokteran, teknologi ini sudah mulai diterapkan dalam kasus-kasus
pencangkokan organ tubuh dan proses reproduksi bayi melalui tabung-tabung di
laboratorium (dikenal dengan istilah: bayi tabung), dan bukannya tidak mungkin
pada suatu saat kloning pun akan dilakukan pada manusia?
Dampak Sosial Budaya
Sudah barang tentu ketiga revolusi Iptek tersebut di atas sangat
berpengaruh pada perilaku manusia pada khususnya dan norma-norma sosial
budaya pada umumnya. Fasilitas sms (short massage service) pada telepon
seluler, misalnya, sangat berpengaruh pada menurunnya jumlah pengiriman pos
kartu ucapan selamat lebaran dan natal. Fasilitas internet memungkinkan
majalah Newsweek dari AS dibaca pada hari yang sama di Asia, dan koran
KOMPAS dari Jakarta, terbit bersamaan dengan versi-versi daerahnya.
Di masa depan, saat tubuh manusia sudah bisa ditransformasikan
menjadi gelombang digital dan dikirim melalui gelombang radio, jalur Pantura
otomatis akan kosong dari kendaraan mudik, sebab para pemudik memilih
memakai sarana transformasi tersebut. Demikian pula kapal udara dan
kapal laut akan kehilangan penumpang.
Di bidang kedokteran, teknologi genome memungkinkan perencanaan
keluarga (pembatasan dan penjarangan kelahiran, maupun pengobatan
kemandulan) dan teknologi nano memungkinkan disembuhkannya penyakit-
penyakit yang selama ini sering berakhir dengan kematian.
Di sisi lain, revolusi Iptek tersebut juga memicu persoalan-persoalan
baru, khususnya yang menyangkut norma sosial dan budaya. Teknologi
informasi yang canggih, misalnya memungkinkan anak-anak bisa mengakses
pornografi melalui internet, atau massa yang buta politik membuka situs-situs
yang berisi hasutan dan provokasi tanpa bisa disensor sama sekali.
Teknologi kloning manusia akan memicu permasalahan baru dalam etika,
sebab orang akan mempertanyakan sejauh mana teknologi ini bisa memberikan
kemashlahatan bagi umat, atau justru lebih banyak kerugiannya. Demikian pula
teknologi genome memicu lembaga perkawinan makin tidak diperlukan
untuk melindungi proses reproduksi manusia, sehingga hubungan seks ekstra
dan pra-marital akan bertambah banyak. Sedangkan teknologi genome lainnya
memicu manusia makin berumur panjang sehingga timbul permasalahan
yang menyangkut orang-orang lanjut usia yang jumlahnya makin lama makin
banyak. Bahkan untuk permasalahan yang satu ini, ilmu pengetahuan sudah
mengembangkan suatu cabang ilmu baru yang dinamakan "gerontologi" (ilmu
tentang orang-orang usia lanjut)?
Dua ribu tahun lalu, orang berpikir bahwa hukum-hukum jagad telah
tercakup seluruhnya dalam geometrinya Euclides. Tidak ada sesuatupun yang
dapat ditambahkan kepadanya. Ini yaitu ilusi yang diderita tiap jaman. Untuk
waktu yang panjang sesudah wafatnya Newton, para ilmuwan berpikir bahwa ia
telah menyatakan segala sesuatu yang perlu dikatakan tentang hukum-hukum
alam. Laplace mengeluh bahwa hanya ada satu jagad, dan Newton telah
mendapat berkah besar sehingga ia telah menemukan semua hukum yang
mengaturnya.
Selama dua ratus tahun teori Newton tentang sifat partikel dari cahaya
diterima secara luas, dengan demikian menentang teori bahwa cahaya yaitu
gelombang, yang diajukan oleh fisikawan Belanda, Huygens. Kemudian teori
cahaya sebagai partikel dinegasi oleh orang Perancis itu, A. J. Fresnel, yang
teori gelombang cahayanya telah dikonfirmasi oleh percobaan J. B. L. Foucault.
Newton telah meramalkan bahwa cahaya, yang berjalan dengan kecepatan
186.000 mil per detik (± 300.000 km/detik) di ruang hampa, seharusnya berjalan
lebih cepat dalam air. Para pendukung teori gelombang cahaya meramalkan
bahwa kecepatannya harusnya lebih rendah, dan percobaan membuktikan
bahwa mereka benar.
Terobosan besar untuk teori gelombang dicapai oleh ilmuwan cemerlang
dari Skotlandia James Clerk Maxwell, pada paruh kedua abad ke-19. Maxwell
mendasarkan dirinya pada kerja eksperimental dari Michael Faraday, yang
menemukan induksi elektromagnet, dan menyelidiki sifat-sifat magnet, dengan
kedua kutubnya, utara dan selatan, yang melibatkan gaya-gaya tak kasat mata
yang membentang di bumi dari ujung ke ujung. Maxwell memberi penemuan
empirik ini satu bentuk universal dengan menerjemahkannya ke dalam
persamaan matematika. Karyanya ini membimbing orang ke dalam penemuan
medan, yang kemudian menjadi dasar Einstein untuk merumuskan teori
relativitas umumnya. Satu generasi berdiri di atas bahu generasi sebelumnya,
saling menegasi dan memelihara penemuan yang terdahulu, terus-menerus
32
memeperdalamnya, dan memberinya bentuk-bentuk dan hakikat yang lebih
umum.
Tujuh tahun sesudah meninggalnya Maxwell, Hertz mendeteksi untuk
pertama kalinya gelombang elektromagnetik yang diramalkan oleh Maxwell.
Teori partikel, yang telah berkuasa sejak Newton, nampaknya dihantam hancur
oleh elektromagnetika Maxwell. Sekali lagi para ilmuwan percaya bahwa mereka
telah menggenggam satu teori yang akan dapat menjelaskan segala sesuatu.
Hanya ada beberapa masalah yang masih harus dibereskan, dan kita
akan segera mengetahui apa segala yang perlu diketahui tentang alam raya ini.
Tentu saja, ada beberapa ketidakcocokan yang mengganggu, tapi nampaknya
cukup kecil sehingga dapat diabaikan. Walau demikian, hanya beberapa
dasawarsa kemudian, beberapa ketidakcocokan "kecil" ini terbukti cukup untuk
menggulingkan seluruh struktur teori yang ada dan mendorong terjadinya
revolusi ilmiah yang kuat.
Dalam makalah ini telah dibahas mengenai ilmu Fisika dimulai dari
sejarah lahirnya ilmu Fisika sampai bagaimana perkembangan Fisika dalam
Revolusi Fisika. Dari pembahasan tersebut telah kita ketahui bahwa dalam
revolusi Fisika tejadi perubahan dalam ilmu Fisika dari sebutan Fisika Klasik
menjadi Fisika Modern.
Pada Revolusi Fisika yang sudah mengubah ilmu Fisika sangat besar
efeknya untuk perkembangan dunia ini. Banyak terjadi perkembangan di dunia
baik pada bidang industri, teknologi, kedokteran, dan lain sebagainya. Ilmu Fisika
yaitu ilmu yang sangat berpengaruh pada perkembangan dunia ini. Semakin
pesat perkembangan yang tejadi dalam ilmu Fisika, akan semakin maju
peradaban di dunia ini.
Indonesia yang tercinta ini yaitu negara yang sedang berkembang.
Tentu negara Indonesia harus memperhatikan perkembanga zaman dan harus
mampu mengikuti perkembangan tersebut. Jika tidak, maka negara Indonesia
kita akan ketinggalan dari negara-negara lain yang ada di dunia ini.
Kita yaitu para penerus bangsa yang pada nantinya akan turut serta
menentukan masa depa bangsa kita. Sebagai orang yang seharusnya sangat
erat dengan Fisika, kita harus mau memahami ilmu Fisika dengan sungguh-
sungguh agar nantinya dapat bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain.
Dalam perkembangan ilmu Fisika yang mempenaruhi perkembangan
zaman. Sudah pasti ada dampak negatif dari perkembangan yang ditimbulkan
tersebut. Dalam mengatasi dampak yang ditimbulkan oleh perkembegan ilmu
Fisika ini, seharuanya kita dapat ikut serta membantu dalam mengatasi masalah
tersebut. Misalkan saja kita tidak membuang sampah sembarangan. Sebab
dalam sampah-sampah tersebut, ada ada banyak sekali zat-zat beracun
yang tidak dapat dinetralisir oleh alam lingkungan kita. Sampah-sampah yang
merupakan hasil industri itu hanya bisa didaur ulang. Sebagai warga negara
yang baik, mungkin ada banyak hal yang dapat kita lakukan untuk negara
tercinta ini. Baik itu hal-hal yang kecil ataupun hal-hal yang luar biasa. Yang
terpenting yaitu rasa peduli kita terhadap negara kita ini.