Juli 16, 2026

Stephen Hawking 3




Fisika sejauh ini sudah sangat dalam membahas fenomena dunia bahkan semesta kita, namun 

masih jauh dan belum mampu menjawab pertanyaan diatas. Teori teori yang lahir belum mampu 

menjelaskan semuanya, namun hanya sebagian. Om Hawking mengatakan bahwa mimpinya dan 

mimpi fisika yaitu  menemukan teori tunggal yang mampu menjelaskan semuanya. Artinya teori 

akhir itu dapat menjawab pertanyaan kita. Penemuan teori lengkap/ teori tunggal itu bisa jadi 

membantu kelestarian spesies kita. Bahkan mungkin tak memengaruhi gaya hidup kita. Tapi sejak 

fajar peradaban, manusia tak pernah puas melihat peritiwa-peristiwa yang tak saling terhubung dan 

tak terjelaskan. Kita menginginkan pemahaman atas keteraturan yang mendasari dunia. Hari ini kita 

masih ingin tahu mengapa kita ada disini dan dari mana kita datang. Hasrat terdalam umat manusia 

untuk mencari pengetahuan yaitu  alasan kuat untuk melanjutkan pencarian. Dan tujuan kita yaitu  

penjelasan lengkap atas alam semesta yang kita diami. 

 

Menurut kosmologi awal dan agama Yahudi/Kristen/Islam, alam semesta bermula pada satu saat 

tertentu. Argumen yang mendukung adanya awal mula alam semesta yaitu  perasaan bahwa 

diperlukannya “pemicu  pertama” (First Cause) untuk menjelaskan keberadaan alam semesta. 

Dipihak lain Aristoteles dan sebagian besar filsuf Yunani lain tak menyukai gagasan penciptaan 

sebab  terlalu berbau campur tangan Ilahi. Mereka percaya bahwa umat manusia dan dunia 

disekitarnya sudah selalu ada dan bakal terus ada selama-lamanya. Orang lain yang setuju dengan 

argumen itu memberi jawaban bahwa telah terjadi banjir besar atau bencana lain yang berkali-kali 

mengembalikan manusia ke keadaan awal. Mungkin seperti cerita Nabi Nuh dengan perahunya yang 

melegenda. St. Agustinus saat  ditanya “apa yang Tuhan lakukan sebelum Dia menciptakan alam 

semesta?” Agustinus menjawab “Dia mempersiapkan neraka untuk orang-orang yang bertanya seperti 

itu”. Ia menambahkan bahwa waktu yaitu  bagian alam semesta yang Tuhan ciptakan, dan waktu 

tidak ada sebelum permulaan alam semesta. 

 

Beberapa orang merasa bahwa sains seharusnya hanya membahas bagian permulaan. Mereka 

menganggap persialan keadaan awal yaitu  urusan metafisika atau agama artinya Tuhan yang 

Mahakuasa dapat memulai alam semesta dengan cara apapun yang Dia mau. Boleh jadi demikian, tapi 

kalau begitu Dia dapat membuat alam semesta berkembang semau Dia. Namun tampaknya Dia 

memilih alam semesta berkembang secara sangat teratur mengikuti hukum-hukum tertentu. Berarti 

masuk akal juga kalau diduga bahwa ada hukum-hukum yang mengatur keadaan awal. 

 

Tapi pada 1992, Edwin Hubble mendapat pengamatan penting bahwa galaksi-galaksi yang lain 

bergerak menjauhi kita. Dengan kata lain alam semesta ini mengembang. Artinya pada masa lalu 

segala benda kiranya berada lebih dekat satu sama lain. Malah tampaknya ada suatu waktu sekitar dua 

puluh miliar tahun bisa jadi ada keadaan kerapatan tak terhingga dan memberi kesan 

adanya “Ledakan Besar”. Namun dapat dibayangkan juga Tuhan menciptakan alam semesta pada 

saat ledakan besar atauh bahkan sesudahnya sedemikian rupa sehingga terkesan seolah ada ledakan 

besar. 

Untuk menjabarkan semuanya, manusia membuat teori sesuai model pengamatan kita. TEORI hanya 

ada dalam akal budi kita dan tak punya realitas lain. Suatu teori dianggap bagus jika memenuhi dua 

syarat yaitu teori harus secara akurat menjabarkan sekelompok besar pengamatan dan teori itu harus 

membuat prediksi tertentu mengenai hasil pengamatan pada masa depan. Semua teori bersifat 

sementara, dalam arti hanya hipotesis yang tidak bisa dibuktikan kebenarannya. 

 

Hari ini para ilmuwan menjabarkan alam semesta berdasarkan dua teori dasar. Pertama, Teori 

Relativitas yang menjabarkan struktur skala besar alam semesta hingga skala satu juta juta (dua puluh 

empat nol sesudahnya) mil yang mampu diamati. Kedua, Mekanika Kuantum yang membahas 

fenomena diskala luarbiasa kecil hingga satu per sejuta juta inci. Namun sayangnya kedua teori ini 

diketahui tak konsisten satu sama lain (artinya tak mungkin benar keduanya). Makanya pencarian hari 

ini menemukan teori tunggal. 

 

 

 

Sebelum Galileo dan Newton, orang percaya kepada gagasan Aristoteles bahwa keadaan 

alami suatu benda yaitu  diam dan hanya bergerak kalau didorong suatu gaya. Jadi benda lebih berat 

memiliki gaya tarik lebih besar ke bumi dibanding benda yang lebih ringan. Aristoteles berpendapat 

bahwa semua hukum yang mengatur alam semesta bisa dipelajari dengan pemikiran saja. Namun 

setelah Galileo melakukan percobaan, dia menunjukkan bahwa tiap benda mengalami pertambahan 

kecepatan (percepatan) yang sama, tak peduli seberapapun beratnya. Contohnya bola yang 

dijatuhkan dari gedung tinggi akan mengalami kecepatan sekitar 1meter/detik, 2m/dtk, 3m/dtk dst. 

Tentu saja bola besi ini akan jatuh lebih cepat dari pada bul, tapi itu sebab  jatuhnya bulu diperlambat 

oleh tahanan udara. 

 

Gagasan Newton dinyatakan tersurat dalam Principia Mathematica yang terbit pada 

1687. HN1 :  “Jika resultan gaya pada suatu benda sama dengan nol, maka benda yang diam akan 

tetap diam dan benda yang bergerak akan tetap bergerak dengan kecepatan tetap”. Artinya benda 

yang diam akan mempertahankan kediamannya, benda bergerak akan mempertahankan kecepatannya. 

Contoh yang paling baik yaitu  saat mengendarai motor. Pada waktu kita diam diatas motor 

kemudian sesaat  menaikkan gas dengan cepat, maka badan akan cenderung mempertahankan 

kediamannya, sebagai akibatnya badan akan seolah terdorong kebelakang. Sebaliknya, saat  motor 

dalam kecepatan tinggi dan secara tiba-tiba di rem, motor dan badan tidak akan sesaat  itu berhenti 

namun seolah terdorong kedepan sebab  badan dan motor berusaha mempertahankan kecepatan 

geraknya. .  jika tidak ada gaya total yang bekerja pada sebuah benda, maka benda tersebut akan tetap 

diam, atau jika sedang bergerak, akan bergerak lurus beraturan (kecepatan 

konstan). HN2 : "Percepatan sebuah benda berbanding lurus dengan gaya total yang bekerja 

padanya dan berbanding terbalik dengan massanya. Arah percepatan sama dengan arah gaya total 

yang bekerja padanya.". saat  benda dipengaruhi gaya maka benda akan mengalami percepatan atau 

perubahan kecepatan sebanding dengan gaya yang memengaruhi. Sederhananya , Suatu gaya total 

yang diberikan pada sebuah benda mungkin menyebabkan lajunya bertambah. Akan tetapi, jika gaya 

total nya itu mempunyai arah yang berlawanan dengan gerak benda, gaya tersebut akan memperkecil 

laju benda. Jika arah gaya total yang bekerja berbeda arah dengan arah gerak benda, maka arah 

kecepatannya akan berubah (dan mungkin besarnya juga). sebab  perubahan laju atau kecepatan 

merupakan percepatan, berarti dapat dikatakan bahwa gaya total dapat menyebabkan 

percepatan. HN3 : "saat  suatu benda memberikan gaya pada benda kedua, benda kedua tersebut 

memberikan gaya yang sama besar tetapi berlawanan arah terhadap benda pertama." 

Maksudnya Hukum ke tiga newton ini kadang dinyatakan sebagai hukum aksi-reaksi, “untuk setiap 

aksi ada reaksi yang sama dan berlawanan arah”. sangat penting untuk mengingat bahwa gaya “aksi” 

dan gaya “reaksi” bekerja pada benda yang berbeda. 

 

Jika kita bermain pingpong diatas kereta, bolanya mematuhi hukum newton sama seperti bermain di 

meja disamping rel. Jadi tidak ada cara untuk mengetahui apakah yang bergerak itu kereta api atau 

bumi. Ketiadaan acuan diam yang mutlak berarti kita tak bisa memastikan apakah dua peristiwa yang 

terjadi pada waktu berbeda terjadi di posisi yang sama dalam ruang. Contoh, anggaplah bola pingpong 

di kereta api melambung naik lalu turun, memantul di meja dua kali dititik yang sama dengan jarak 

dua detik antara kedua pantulan. Bagi orang di pinggir rel kereta, keduapantulan tampak terpisah jarak 

sekitar 40meter, sebab  kerta api sudah berjalan sejauh itu antara dua pantulan. Sedangkan posisi di 

dalam rel menganggap bola tetap memantul dalam posisi ruang yang sama. Namun tak ada alasan 

posisi yang satu harus dianggap lebih tepat dijadikan acuan dibandingkan  yang lain. Newton khawatir 

dengan ketiadaan posisi mutlak, atau yang disebut ruang mutlak (absolute space), sebab  tidak cocok 

dengan gagasannya mengenai Tuhan yang mutlak. Dia malah menolak menerima ketiadaan ruang 

mutlak walau hukumnya sendiri mengatakan demikian. Di sisi yang lain, Aristoteles dan Newton 

sama sama percaya akan adanya waktu mutlak. Artinya mereka percaya bahwa kita bisa mengukur 

jangka waktu antara dua peristiwa dengan tepat, dan jangka waktu itu akan selalu sama, tidak peduli 

siapa mengukurnya, asalkan menggunakan arloji yang bagus. 

 

Kenyataan cahaya bergerak dengan kecepatan tertentu yang amat tinggi pertama kali ditemukan pada 

1676 oleh ahli astronomi Denmark, Christensen Roemer. Setelah mengamati gerak planet Jupiter, 

Bumi juga bulan, ia menyimpulkan bahwa cahaya bergerak pada kecepatan tertentu. Tapi pengukuran 

Roemer terhadap variasi jarak bumi ke jupiter kurang akurat. Dia mengemukakan bahwa kecepatan 

cahaya yaitu  140.000 mil/dtk (225.300 km/dtk), berbeda dengan nilai modern kecepatan cahaya saat 

ini kita ketahui yakni 186.000 mil/dtk (300.000 km/dtk). Namun prestasi Roemer bukan hanya dalam 

membuktikan cahaya bergerak dengan kecepatan tertentu, melainkan juga dalam mengukur kecepatan 

itu. Ini memang sangat luarbiasa sebab  dilakukan sebelas tahun sebelum penerbitan Principia 

Mathematica karya Newton. 

 

Salah satu tokoh besar yang sangat membantu pencarian fisika dalam memahami alam semesta 

yaitu  Einstein. Peryataannya yang paling terkenal ialah persamaan E = mc2  (dimana E yaitu  

energi, m yaitu  massa, dan c yaitu  kecepatan cahaya). Serta hukum bahwa tidak ada yang bisa 

bergerak lebih cepat dibandingkan  kecepatan cahaya. Hanya cahaya atau gelombang lain yang tak punya 

massa intrinsik yang bisa bergerak pada kecepatan cahaya. Jika Newton mengatakan waktu dari 

cahaya saat  menempuh perjalanan akan pasti oleh pengamat manapun (sebab  waktu bersifat 

mutlak), sedangkan jarak yang ditempuh bagi pengamat bisa berbeda-beda sebab  (memang ruang 

tidak bersifat mutlak). Di pihak lain, dalam relativitas Einstein, tak sepakat dalam hal jarak yang 

ditempuh cahaya, sehingga mereka pun jadi tak sepakat dalam waktu yang diperlukan menempuh 

perjalanan. Sederhananya ialah Waktu didapat dari jarak yang ditempuh – yang tak disepakati para 

pengamat – dibagi kecepatan cahaya yang sepakati para pengamat). Dengan kata lain, Teori 

Relativitas mengakhiri gagasan waktu mutlak!. Kelihatannya tiap pengamat punya pengukuran waktu 

sendiri yang tidak mesti mencatat waktu yang sama. Berarti pula tak ada pengukuran pengamat 

tertentu yang lebih benar dibandingkan  pengukuran pengamat lain. Dalam pengertian ini, suatu peristiwa 

yaitu  sesuatu yang terjadi di satu titik dalam ruang, pada saat tertentu dalam waktu. Dalam teori 

relativitas, kita sekarang mendefinisikan jarak dengan waktu dan kecepatan cahaya, sehingga secara 

otomoatis tiap pengamat akan mengukur bahwa cahaya memiliki kecepatan yang selalu sama yaitu 

satu meter = 0,000000003335640952 dtk. Kecepatan cahaya akhirnya digunakan menjadi satuan 

ukuran baru yang lebih praktis dan dinamakan Detik Cahaya. Detik cahaya didefinisikan sebagai 

jarak yang ditempuh cahaya dalam satu detik. 

 

Jika seberkas cahaya dipancarkan pada waktu tertentu di suatu titik pada ruang, setelah satu per sejuta 

detik, cahaya akan menyebar membentuk bola dan jari-jarinya 300m. Sesudah dua per sejuta detik, 

jari jari bola itu 600m, dan seterusnya. Cahaya itu jadi seperti gelombang yang menyebar di 

permukaan kolam saat  ada batu dicemplungkan yang terus membesar seiring waktu 

 

Jika matahari berhenti bersinar sekarang juga, kita bakal baru tahu sesudah delapan menit waktu yang 

diperlukan cahaya matahari untuk mencapai kita. Kita tak tahu apa yang terjadi pada saat ini 

ditempat-tempat yang terletak lebih jauh di alam semesta. Cahaya yang kita lihat dari galaksi-galaksi 

yang sangat jauh hingga jutaan tahun lalu. Dan dalam kasus benda paling jauh yang pernah berhasil 

kita lihat yaitu  cahaya yang berangkat sekitar delapan miliar tahun lalu. Jadi, saat  kita memandang 

alam semesta, berarti kita sedang memandang masa lalu.   

 

Fakta bahwa ruang bersifat melengkung berarti cahaya tak lagi bergerak menyusuri garis lurus. Jadi, 

relativitas umum memprediksi bahwa cahaya bisa dilengkungkan oleh medan gravitasi. Prediksi lain 

dari relativitas umum yaitu  bahwa waktu harus tampak melambat dekat benda masif seperti bumi 

sebab  ada hubungan antara energi cahaya dan frekuensinya (gelombang cahaya perdetik). Selagi 

cahaya bergerak ke atas dalam medan gravitasi bumi, cahaya kehilangan energi sehingga frekuensinya 

turun. Bagi orang yang berada di tempat sangat tinggi, kelihatannya semua yang ada dibawah terjadi 

lebih lambat. Prediksi itu diuji tahun 1962, dan didapati arloji di dasar yang lebih dekat dengan bumi 

berjalan lebih lambat, cocok dengan relativitas umum. Anggap saja ada kembaran, yang satu hidup di 

puncak gunung sementara kembarannya hidup di permukaan laut. Yang pertama akan menua lebih 

dahulu. Dalam kasus ini, perbedaan umurnya kecil sekali. Beda halnya jika salah seorang kembaran 

bepergian jauh dengan pesawat antariksa dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya. saat  dia 

kembali, dia bakal jauh lebih muda dibandingkan  tetap tinggal di bumi. 

 

 

Sekarang kita tahu bahwa galaksi kita yaitu  satu dari beberapa ratus ribu galaksi yang bisa 

dilihat menggunakan teropong modern, dan tiap galaksi berisi beberapa ratus ribu juta bintang. Kita 

hidup di satu galaksi yang panjang garis tengahnya sekitar seratus ribu tahun cahaya dan berotasi 

pelan-pelan. Jelaslah bahwa kita sudah jauh dari gagasan Aristoteles dan ptolomeus yang memikirkan 

bahwa bumi yaitu  pusat alam semesta. 

 

Kita tak bisa melihat ukuran atau bentuk bintang. Namun untuk sebagian besar bintang, hanya satu 

ciri yang bisa kita amati, yaitu warna cahaya. Newton menemukan prisma yang dapat memecah 

cahaya menjadi warna-warna penyusun (spektrum) seperti pada pelangi. Dan didapati spektrum 

cahaya bintang berbeda-beda. Artinya, kita bisa tahu suatu bintang dari spektrum cahayanya. Kita 

juga telah tahu bahwa tiap unsur kimia menyerap warna-warna tertentu yang sangat khas, dengan 

mencocokkan pola penyerapan dengan warna spektrum tertentu pada bintang, kita bisa mengetahui 

unsur-unsur apa saja yang ada di atmosfer bintang. 

 

Apa yang di sebut Efek Doppler, mengungkapkan bahwa panjang gelombang cahaya terbesar ada di 

ujung merah spektrum sedangkan panjang gelombang terkecil di ujung biru. Jika sumber cahaya 

menjauhi kita, panjang gelombang yang akan kita terima akan lebih besar. Begitu pula sebaliknya jika 

mendekat gelombang akan mengecil. Berarti dalam kasus cahaya bintang, bintang-bintang yang 

menjauhi kita spektrumnya akan bergeser menuju merah (ingsutan merah) dan yang mendekat ke kita 

spektrumnya beringsut ke biru. 

 

Dan sungguh mengejutkan saat  penelitian menemukan bahwa sebagian besar galaksi mengalami 

ingsutan merah. Dengan kata lain, galaksi lain bergerak menjauh dari kita. Yang lebih mengejutkan 

bahwa ingsutan merah galaksi lain ternyata tidak acak, namun sebanding dengan jarak dari galaksi 

kita. Dan berarti galaksi lain menjauh dengan kecepatan yang terus meningkat. Alam semesta ini tidak 

statis, tetapi terus mengembang. 

 

 

Timbullah pertanyaan, akankah alam semesta kelak berhenti mengembang dan mulai menyusut? 

Ataukah akam semesta akan mengembang terus? Bukti yang ada sekarang memberi kesan bahwa 

alam semesta barangkali akan mengembang selamanya, tapi yang bisa kita pastikan, kalaupun alam 

semesta menyusut kembali ke nol akan memankan waktu sekitar sepuluh miliar tahun lagi. Hal itu 

tidak akan membuat kita khawatir sebab  disaat itu umat manusia sudah lama punah bersama 

matahari kita dalam tatasurya 

 


 

 

Einstein yaitu  ilmuan fisika yang luarbiasa yang mendapatkan penghargaan nobel. Einstein 

tak pernah mengakui bahwa alam semesta dikuasai kebetulan. Perasaannya terangkum dalam 

pernyataan “TUHAN TIDAK BERMAIN DADU”. Einstein memperkenalkan kita dengan 

teorinya Mekanika Kuantum. Mekanika kuantum mengatur perilaku transistor dan sirkuit terintegrasi 

yang merupakan komponen utama alat elektronik, juga menjadi dasar kimia, biologi modern. Namun 

belum dapat mencakup pada hal struktur skala besar alam semesta dan gravitasi. 

 

Mekanika kuantum pada prinsipnya memperkenankan kita memprediksi hampir semua yang kita lihat 

disekeliling kita, dalam batas-batas yang ditetapkan kaidah ketidakpastian. 

 

Kita belum punya teori lengkap dan konsisten yang mempersatukan relativitas umum dan mekanika 

kuantu yang diketahui dua teori besar yang menjelaskan banyak hal namun bertolak belakang. Tapi 

fisika sejauh ini sudah mengetahui sejumlah ciri-ciri yang harus dimiliki teori lengkap. 

  

 

Beberapa filsuf terdahulu percaya bahwa segala zat di alam semesta terdiri atas empat unsur 

dasar yaitu tanah, air, udara, dan api. Unsur-unsur itu dipengaruhi dua gaya yaitu  Gravitasi yang 

membuat kecendrungan tanah dan air untuk turun dan Levitasiyang membuat kecendrungan api dan 

udara untuk naik. Dan diyakini setiap zat mampu dibelah kecil sampai tak berhingga. 

 

Namun sejarah pemikiran dan penelitian yang di ungkapkan tokoh-tokoh seperti Demokritos (filsuf) 

meyakini bahwa zat tak akan bisa dibagi lagi pada unsur terakhir yaitu atom. Penelitian oleh ilmuan 

Dalton memberi bukti akan adanya atom. J.J Thomson lalu menemukan bahwa ada unsur lebih kecil 

lagi selain atom yaitu elektronyang bermassa kurang dari satu per seribu massa atom paling ringan 

dan bermuatan listrik negatif. Kemudian disusul penemuan Rutherford dan James Chadwick yang 

menunjukkan adanya inti atom/Neutron yang tak bermuatan listrik dan dikelilingi neutron yang 

bermuatan negatif. Dan pada inti ditemukan pula proton yang bermuatan listrik positif. 

 

Tapi percobaan Caltech Murray Gell-Mann, saat  percobaannya menabrakkan proton dengan proton 

lain elektron dengan kecepatan tinggi menunjukkan bahwa proton sebenarnya terbuat dari zarah-zarah 

yang lebih kecil lagi. Zarah-zarah itu dinamai Quark. Cara imajinatif untuk menamai zarah-zarah 

quark yaitu up, down, charmed, bottom, dan top. Namun istilah itu hanya label yang tak punya warna 

dlam arti biasa. 

 

Proton dan neutron terdiri dari tiga quark, satu dari tiap warna. Satu proton mengandung dua quark up 

dn satu quark down. Satu neutron mengandung dua down dan satu up. Pertanyaan kemudian apakah 

zarah-zarah quark benar-benar yang paling dasar dalam menyusun semuanya? sebab  kita ketahui 

bahwa dalam pengamatan kita menggunakan cahaya, dan gelombang cahaya jauh lebih besar dari 

pada atom. Kita tak bisa melihat bagian-bagian atom dengan cara yang biasa. Seperti yang kita lihat 

sebelumnya bahwa mekanika kuantum memberitahu kita bahwa semua zarah sebenarnya yaitu  

gelombang. Makin tinggi energi suatu zarah maka makin kecil panjang gelombangnya. Jadi jawaban 

terbaik yang bisa kita keluarkan ialah bergantung kepada seberapa tinggi energi zarah yang bisa kita 

siapkan, sebab  itu menentukan sampai skala sekecil apa kita bisa melihat. 

 

Segala isi alam semesta termasuk cahaya dan gravitasi bisa dijelaskan dengan zarah. Zarah punya sifat 

yang disebut spin. Satu cara menggambarkan spin yaitu  membayangkan zarah sebagai gasing kecil 

yang berputar disumbunya. Semua zarah yang sudah dikenal dialam semesta bisa dibagi menjadi dua 

kelompok. Yaitu zarah dengan spin ½ yang menjadi zat di alam semesta, dan zarah dengan spin 0,1,2 

yang memunculkan gaya antar zat. 

 

Dalam bab yang membahas zarah ini, banyak sekali tokoh ilmuan yang diberikan kepada mereka 

sebab  jasa mereka menemukan atau menjelaskan alam semesta. Zarah mempunyai penjelasan yang 

tidak mudah dipahami orang awam. Itu menunjukkan bahwa alam semesta tak sesederhana yang kita 

kira. 

 

 

 

Istilah lubang hitam (black hole) belum lama ada. Istilah itu diciptakan pada 1969 oleh 

ilmuwan Amerika John Wheeler. Awalnya ada dua teori tentang cahaya. Yang pertama menyatakan 

cahaya itu terbuat dari gelombang yang tidak diketahui bagaimana cahaya itu dalam menanggapi 

gravitasi. Yang kedua cahaya terdiri atas zarah-zarah yang mudah dikaitkan dalam pengaruh gravitasi. 

Yang akhirnya diketahui kedua teori itu benar. Cahaya bisa dianggap gelombang atau zarah. 

 

Dalam penelitian John Michell menunjukkan bahwa suatu bintang yang cukup masif dan rapat 

kiranya bakal memiliki medan gravitasi yang sangat kuat sehingga cahayapun tak dapat lolos dari 

medan itu. Cahaya apapun yang dipancarkan permukaan bintang bakal ditarik kembali oleh gravitasi 

bintang sebelum bisa bergerak jauh. Michell menyatakan bahwa mungkin ada banyak bintang 

semacam itu, walau kita tak bakal bisa melihat bintang-bintang itu sebab  cahayanya tak sampai ke 

kita. Benda itu yang kita sebut lubang hitam (black hole). 

 

Beberapa tanggapan menganggap usul itu terlalu gila, sebab  menurut teori gelombang belum jelas 

apakah cahaya mampu dipengaruhi gravitasi. Teori konsisten mengenai cara gravitasi memengaruhi 

cahaya baru ada saat  Einstein mengajukan teori Relativitas Umum pada 1915. 

 

Bintang menjadi sangat panas, kemudian panas dari reaksi seperti ledakan bom hidrogen tak 

terkendali yaitu  cahaya bintang. Panas tambahan itu juga meningkatkan teganan gas sampai bisa 

mengimbangi tekanan gravitasi, sehingga gas berhenti menyusut, ibarat balon, ada yang 

keseimbangan antara udara didalam yang mencoba mengembangkan balon (panas reaksi nuklir), dan 

tegangan karet yang mencoba menyusutkan balon (gravitasi). Bintang mampu bertahan tetap stabil 

seperti itu dalam jangka waktu yang lama seperti matahari kita. Namun akhirnya bintang akan 

kehabisan hidrogen dan bahan bakar nuklir lain. Anehnya, makin banyak bahan bakar yang awalnya 

dimiliki bintang, makin cepat habisnya. Itu sebab  pada bintang yang masif, diperlukan panas lebih 

banyak untuk mengimbangi tarikan gravitasi. Matahari kita mungkin diprediksi akan habis seratus 

juta tahun lagi. Bagi kita itu lama, namun cepat jika dibanding umur alam semesta. Setelah bintang 

kehabisan bahan bakar, bintang akan mulai mendingin dan menyusut. 

 

Menurut teori relativitas, tak ada yang bisa bergerak lebih cepat dari pada cahaya. Jadi jika cahaya 

saja tak bisa lolos dari black hole, maka segala yang lain juga tak bisa. Batas lubang hitam disebut 

cakrawala peristiwa (event horizon). 

 

Jika seorang astronot yang berani misalnya berada dalam lubang hitam, kemungkinan yang akan 

terjadi yaitu  gravitasi di black hole jadi lemah kalau jarak kita makin jauh dari bintang. Jadi gaya 

gravitasi yang dirasakan kaki astronot kita yang berani bakal selalu lebih besar dibandingkan  gaya gravitasi 

di kepalanya. Perbedaan itu bakal merentangkan astronot seperti spagheti atau merobek dia sebelum 

bintang menyusut ke ukuran kritis saat  cakrawala peristiwa terjadi. Namun boleh jadi sang astronot 

bisa menghindar terhadap singularitas dan malah jatuh melalui “lubang cacing” kemudian keluar lagi 

dibagian lain di alam semesta. Dan itu menawarkan kemungkinan cara baru bergerak menembus 

ruang dan waktu. 

 

Lubang hitam yaitu  satu dari segelintir kasus dalam sejarah sains dimana suatu teori dikembangkan 

sampai sangat terperinci sebagai suatu model matematika sebelum ada bukti dari pengamatan. Namun 

bagaimana kita mendeteksi lubang hitam? Yang berdasarkan definisinya saja tak memancarkan 

cahaya apapun? Seperti yang ditunjukkan John Michell dalam makalahnya bahwa lubang hitam masih 

menimbulkan gaya gravitasi yang menarik benda-benda didekatnya. Para ahli astronomi telah 

mengamati banyak sistem dimana dua bintang saling mengorbit, saling tarik sebab  gravitasi dan 

mendapati bintang yang mengorbit pasangan yang tak terlihat. Namun tidak boleh langsung 

disimpulkan itu yaitu  lubang hitam, sebab  bisa jadi bintang pasangannya mempunyai cahaya yang 

terlalu redup untuk berhasil kita amati. 

 

Disatu sisi, setelah fisika sudah banyak melakukan penelitian mengenai lubang hitam bertahun-tahun, 

dan semua bakal sia-sia jika ternyata lubang hitam itu tak ada. Sisi lain, kalau memang lubang hitam 

ada mungkin saja jumlahnya lebih banyak dari pada bintang yang kelihatan, yang jumlah totalnya di 

satu galaksi kita saja sekitar seratus ribu juta. Seorang ahli fisika, John Wheeler pernah menghitung 

bahwa jika semua berat air di seluruh bumi dikumpulkan, kita bisa membuat bom hidrogen yang 

bakal menempatkan zat cukup banyak di pusatnya sehingga lubang hitam bakal tercipta. Dan tentu 

sajahal itu tidak akan mungkin! 

 

 

 

Lubang hitam sebenarnya tak hitam. Lubang hitam berpendar seperti benda panas, dan makin 

kecil lubang hitamnya, makin terang pendarnya. Anehnya, lubang hitam yang kecil lebih mungkin 

dideteksi dibandingkan  lubang hitam yang besar. 

 

Pada bab ini, om Hawking menjelaskan lubang hitam dengan sangat rumit dan bahasa yang asing bagi 

yang awam dalam dunia fisika seperti saya. Pada akhirnya semua hanyalah prediksi-prediksi yang 

mungkin terjadi pada lubang hitam dengan sudut pandang relativitas umum dan sudut pandang 

mekanika kuantum. 

 

BAB 8 ASAL USUL DAN TAKDIR ALAM SEMESTA 

 

Kita masih mengingat sejarah Galileo yang menentang gereja dan dihukum penjara sampai ia 

mau mengakui bahwa mataharilah yang mengelilingi bumi sebagai pusat tata surya. Cerita yang 

hampir sama dilalui oleh Om Hawking. Pada akhir konfrensinya, para hadirinn diberi kesempatan 

bertemu dengan Paus. Paus bilang kepada hadirin konfrensi juga om Hawking, bahwa siapa saja boleh 

mempelajari perkembangan alam semesta sesudah ledakan besar dan sah saja, tapi siapapun sebaiknya 

tak mencari tahu mengenai ledakan besar sebab  itulah saat Penciptakan yang merupakan karya 

Tuhan. Namun Om Hawking bersyukur bahwa sedari tadi Paus tidak memahami isi dari konfrensi 

yang dia bawakan sebelumnya dimana intinya alam semesta ini kemungkinan dalam ruang dan waktu 

terbatas tapi tak punya perbatasan, artinya tak punya permulaan, tak punya saat Penciptaan. Namun 

om Hawking tidak ingin bernasib sama sperti Galileo yang berani menyanggah perkataan Paus. 

 

Pada ledakan besar, alam semesta dianggap berukuran nol, dan luarbiasa panas. Tetapi selagi alam 

semesta mengembang, suhu radiasinya berkurang. Satu detik setelah ledakan besar, suhu alam 

semesta turun menjadi sepuluh miliar derajat. Suhu itu kira-kira sama dengan seribu kali suhu 

matahari kita. Sekitar seratus detik setelah ledakan besar, suhu alam semesta turun pada kisaran satu 

miliar derajat. Itu merupakan suhu didalam bintang terpanas. Dalam makalah George Gamow, 

menjelaskan bahwa radiasi (dalam bentuk foton) dari tahap awal alam semesta seharusnya masih ada 

sampai sekarang. 

 

Hanya dalam beberapa jam sesudah ledakan besar, produksi helium dan unsur-unsur lain terhenti. Dan 

sesudah itu, selama sekitar satu juta tahun kemudian, alam semesta akan terus berkembang. Alam 

semesta secara keseluruhan terus mengembang dan mendingin, tapi di daerah lain yang lebih rapat 

dari pada rata-rata akan melambat sebab  tarikan gravitasi yang lebih besar. Dan akhirnya 

menyebabkan penyusutan kembali. Selagi daerah-daerah itu menyusut, tarikan gravitasi zat diluar 

daerah-daerah tersebut akan membuat daerah itu mulai berotasi. Selama daerah yang berotasi makin 

mengecil, putarannya bakal makin cepat dan akhirnya mampu mengimbangi gravitasi. Dari rotasi itu 

maka lahirlah apa yang kita sebut galaksi. 

 

Bagian paling luar bintang kadang bisa terlontar dalam ledakan mahabesar yang disebut supernova, 

yang lebih terang dibandingkan  semua bintang lain dalam galaksi. Beberapa unsur bintang bakal terlempar 

ke gas dalam galaksi dan menjadi bahan mentah untuk bintang generasi selanjutnya. Matahari kita 

sendiri mengandung dua persen unsur itu. Matahari kita mungkin merupakan bintang generasi kedua 

atau ke`tiga. Terbentuk sekitar lima miliar tahun lalu dari awan gas berotasi yang mengandung puing 

supernova-supernova terdahulu. Sebagian besar gas di awan itu membentuk matahari atau bisa 

terpencar lagi dan saling bergabung membentuk benda-benda yang sekarang mengelilingi matahari 

sebagai planet, termasuk bumi. 

 

Bumi pada permulaanya sangat panas dan tak memiliki atmosfer. Seiring waktu, bumi mendingin dan 

mendapat atmosfer dari gas yang dikeluarkan bebatuan. Bentuk-bentuk kehidupan awal diperkirakan 

berkembang dalam laut. Makromolekul yang berhasil lolos dari iklim waktu itu akan mulai berevolusi 

dan menyebabkan berkembanganya organisme yang makin rumit. Muncullah bentuk kehidupan dari 

ikan, reptil, mamalia, dan umat manusia. 

 

Semua hukum itu mungkin ditetapkan oleh Tuhan, tapi nampaknya Dia sudah membiarkan alam 

semestar berkembang sesuai hukum-hukum itu dan tidak ada lagi campur tanganNya dalam alam 

semesta. Tuhan memilih konfigurasi awal dengan alasan yang tak bisa kita pahami Mengapa. Kiranya 

itu termasuk bentuk kekuasaan sosok Mahakuasa, tapi jika Dia memulai alam semeta dengan cara 

yang tak bisa kita pahami, mengapa kemudian Dia memilih membiarkan alam semesta berkembang 

menurut hukum-hukum yang dapat kita pahami? 

 

Salah satu kemungkinan yaitu  yang disebut kondisi Batas khaos (chaotic boundary condition) 

dimana kondisi itu mengasumsikan secara tersirat bahwa alam semesta itu tak terbatas dalam ruang 

atau ada banyak sekali. Alam semesta tak terbatas dalam ruang dengan jumlah tak terhingga. Sangat 

sukar melihat bagaimana kondisi awal yang kacau dapat menghasilkan alam semesta yang mulus dan 

teratur pada skala besar seperti alam semesta kita saat ini. Mungkinkah kita hidup dalam daerah yang 

secara kebetulan tepat, mulus? Tapi anggaplah hanya didaerah mulus galaksi dan bintang berbentuk 

serta ada kondisi yang pas dan tepat untuk berkembangnya organisme rumit yang menggandakan diri 

seperti kita. 

 

Jika kita bertanya mengapa alam semesta ini mulus? Itu merupakan contoh penerapan yang dikenal 

sebagai kaidah antropik, yang bisa dinyatakan seperti ini; “Kita melihat alam semesta sebagaimana 

adanya sebab  kita ada”. Ada dua versi kaidah antropik. Yang pertama yaitu  kaidah antropik 

lemah yang menyatakan bahwa dalam alam semesta yang besar atau tak terbatas dalam ruang dan 

waktu, kondisi yang diperlukan untuk perkembangan kehidupan cerdas hanya akan ditemukan 

didaerah-daerah tertentu. Yang kedua kaidah antropik kuat yang menyatakan bahwa ada banyak alam 

semesta atau banyak daerah dalam satu alam semesta, masing-masing dengan konfigurasi awalnya 

sendiri, dan barangkali dengan set hukum alamnya sendiri serta hanya di alam semesta kita 

perkembangan organisme rumit dapat terjadi. Tetapi tentu mungkin saja ada bentuk kehidupan cerdas 

lain yang tak terbayangkan dan tak membutuhkan cahaya bintang atau matahari bahkan unsur-unsur 

kimia dalam ledakan besar. 

 

Jika alam semesta lain itu sebenarnya berbagai daerah di satu alam semesta, hukum-hukum sains 

bakal harus sama di semua daerah, sebab  kalau tidak, kita tak bisa bergerak tanpa putus dari satu 

daerah ke yang lain. Kalau demikian, satu-satunya perbedaan antara daerah lain itu kiranya hanya 

pada konfigurasi awalnya. Jadi antropik kuat bakal gugur. Tapi kaidah antropik kuat mengklaim 

bahwa keseluruhan bangunan alam semesta yang sangat luas ini ada hanya demi kita. Kita boleh 

mengatakan memang bahwa tata surya kita bahkan galaksi dibutuhkan untuk kita, namun tampaknya 

kita tak membutuhkan galaksi lain itu pada skala besar. Kiranya sangat sukar sekali menjelaskan 

mengapa alam semesta harus di mulai dengan cara demikian, kecuali sebagai tindakan Tuhan yang 

berniat menciptakan makhluk-makhluk seperti kita. Apakah semuanya hanya nasib mujur? Itu hanya 

sekedar meredakan keputusasaan, penyangkalan atas semua harapan kita memahami tatanan dasar 

alam semesta. 

 

Mengapa ada banyak sekali zat di alam semesta?. Ada sekitar sepuluh juta juta (satu dengan delapan 

puluh nol sesudahnya) zarah di bagian alam semesta yang bisa kita amati. Dari mana semua datang? 

Dari teori kuantum, zarah bisa tercipta dari energi dalam bentuk pasangan zarah/antizarah. Tapi itu 

memunculkan pertanyaan dari mana energi mereka datang? Jawabannya yaitu  bahwa energi total 

alam semesta yaitu  nol. Zat di alam semesta terbuat dari energi positif, dan medan gravitasi punya 

energi negatif. Kedua energi itu saling meniadakan, sehingga energi total alam semesta dikatakan nol. 

Di bab ini, om Hawking menjelaskan teorinya tentang “waktu khayal” yang rumit dicerna. Dia ingin 

menegaskan bahwa gagasan waktu dan ruang seharusnya “tanpa perbatasan” . dengan asumsi awal, 

sama dengan teori sains lain, suatu gagasan boleh diajukan awalnya sebab  alasan estetis dan 

metafisik, tapi ujian sebenarnya yaitu  apakah gagasan itu membuat prediksi yang cocok dengan hasil 

pengamatan. Sekali lagi teori hanya ada dalam akal budi kita. Jadi tak ada artinya bertanya yang mana 

waktu “nyata” dan waktu “khayal”. Yang terpenting kembali lagi ialah penjabaran mana yang lebih 

berguna. 

 

 

Dengan keberhasilan teori-teori sains untuk menjelaskan berbagai peristiwa, sebagian besar orang jadi 

percaya bahwa Tuhan memperkenankan alam semesta berkembang menurut satu set hukum dan tak 

campur tangan dalam alam semesta dengan melanggar hukum. Namun hukum-hukum itu nampaknya 

sangat rumit dan tak memberitahu kita seperti apa alam semesta saat  bermula. Kiranya tetap 

terserah Tuhan untuk memutar mekanisme dan memilih cara memulainya. Selama alam semesta 

punya permulaan, kita dapat menganggap alam semesta punya pencipta. Tapi jika alam semesta 

benar-benar sepenuhnya utuh dalam dirinya sendiri, tanpa perbatasan dan tepi, maka alam semesta tak 

bakal punya permulaan atau akhir. Alam semesta akan sekedar ada. Lalu adakah tempat untuk 

pencipta? 

 


 

Awalnya kita menganggap waktu itu mutlak secara khas. Namun teori itu telah kita 

tinggalkan. Jadi waktu menjadi konsep lebih pribadi dan relatif terhadap pengamat yang 

mengukurnya. saat  kita ingin mempersatukan gravitasi dan mekanika kuantum, haruslah dihadirkan 

gagsan waktu “khayal”. Waktu khayal tak bisa dibedakan dengan arah dalam ruang. Dalam waktu 

“nyata” terdapat perbedaan besar antara arah maju dan mundur seperti yang kita ketahui bersama. 

Nmaun dalam waktu “khayal” tak ada perbedaan penting antara arah maju dan mundur. 

 

Darimana perbedaan antara masa lalu dan masa depan itu datang? Mengapa kita mengingat masa lalu 

tapi tak mengingat masa depan? Kita tak akan bisa mengamati dalam kehidupan sehari-hari seperti 

film yang dapat diputar maju mundur. Penjelasan yang biasa diberikan mengenai kenapa kita tak 

melihat pengunduran yaitu  sebab  `hal demikian dilarang oleh hukum termodinamika. Hukum 

kedua termodinamika mengatakan bahwa ketidakteraturan/entropi selalu meningkat seiring waktu. 

Gelas utuh dalam keadaan sangat teratur, semestara gelas pecah dilanati dalam keadaan tak teratur. 

Gelas di atas meja pada masa lalu bisa menjadi gelas pecah di lantai pada masa depan, tapi tidak bisa 

sebaliknya. Jadi ketidakteraturan potongan akan mungkin meningkat seiring waktu jika kondisi awal 

potongan-potongan yaitu  sangat teratur. Tapi anggaplah Tuhan memutuskan bahwa alam semesta 

harus berakhir dalam keadaan sangat teratur dan tak penting dalam keadaan apa alam semesta 

bermula. 

 

Makhluk-makhluk seperti kita bakal punya panah waktu psikologis yang terbalik. Artinya, mereka 

bakal mengingat peristiwa-peristiwa masa depan, dan tak mengingat peristiwa masa lalu. Namun 

menjelaskan otak sangat rumit, sehingga om Hawking hanya membahas panah waktu memori 

komputer yang sedikit lebih mudah dijabarkan namun tetap pada esensinya. Rasa subjektif arah 

waktu, panah waktu psikologis, ditentukan dalam otak oleh panah waktu termodinamika. Seperti 

komputer, kita harus mengingat hal-hal sesuai urutan meningkatnya entropi. 

 

Tapi mengapa harus ada panah waktu termodinamika? Atau mengapa alam semesta harus berada 

dalam keadaan keteraturan tinggi pada satu ujung waktu, ujung yang kita sebut ujung masa lalu? 

Mengapa alam semesta tak berada dalam keadaan serba tak teratur setiap waktu? Mungkin 

memikirkan apa yang terjadi kalau alam semesta mulai menyusut itu hanya urusan akademis, sebab  

alam semesta tak akan mulai menyusut sampi sekurang-kurangnya sepuluh miliar tahun lagi. Tapi ada 

cara yang lebih cepat untuk mencari tahu apa yang akan terjadi, dengan melompat ke dalam lubang 

hitam. Keruntuhan bintang yang menyebabkan lubang hitam sangat mirip dengan tahap-tahap akhir 

keruntuhan seluruh alam semesta. Namun itu hampir tidak mungkin dilakukan. 

 

Awalnya dikira, setelah sejauh ini, orang pada fase penyusutan bakal menjalani hidup secara terbalik. 

Mereka bakal mati sebelum lahir dan makin muda selagi alam semesta menyusut. Namun tenryata itu 

keliru. Kondisi tanpa perbatasan menyiratkan bahwa ketidakteraturan bakal terus meningkat selama 

penyusutan. Arah panah waktu termodinamika dan psikologis tak bakal berbalik saat  alam semesta 

mulai menyusut kembali, ataupun di lubang hitam. 

 

Alam semesta harus mengembang dengan laju mendekati laju kritis untuk menghindari keruntuhan 

kembali, sehingga tak akan menyusut untuk waktu yang lama. Pada waktu itu semua bintang telah 

habis bahan bakarnya dan proton serta neutron dalam bintang sudah meluruh menjadi zat cahaya dan 

radiasi. 

 

Panah termodinamika yang kuat diperlukan agar kehidupan cerdas bisa beroperasi. Agar bisa hidup, 

manusia harus makan makanan yang merupakan bentuk energi teratur, dan mengubah makanan 

menjadi panas yang merupakan bentuk energi tak teratur. Jadi, kehidupan cerdas tak dapat ada di fase 

penyusutan alam semesta dan kehidupan cerdas hanya terjadi di fase pengembangan. 

 

Hukum-hukum sains tak membedakan antara arah waktu maju dan mundur. Tapi setidaknya ada tiga 

panah waktu yang membedakan masa lalu dan masa depan. Ketiganya yaitu  panah termodinamika, 

arah waktu yang menunjukkan peningkatan ketidakteraturan, panah psikologis yaitu  arah waktu 

yang menyebabkan kita ingat masa lalu tapi tak ingat masa depan, dan panah kosmologis yaitu arah 

waktu yang menunjukkan alam semesta mengembang, bukan menyusut. 

 

Jika pembaca artikel  ini, katanya, mampu mengingat tiap kata di artikel  ini, ingatan kita akan merekam 

sekitar dua juta potong informasi (keteraturan dalam otak akan meningkat sekitar dua juta unit). 

Namun selagi membaca artikel  ini, kita akan mengubah setidaknya seribu kalori energi teratur, dalam 

bentuk makanan menjadi energi tak teratur dalam bentuk panas yang dilepas ke udara sekitar kita 

melalui konveksi keringat. Itu akan meningkatkan ketidakteraturan alam semesta sekitar dua ouluh 

juta juta  (dengan sepuluh juta juta juta kali peningkatan keteraturan dalam otak). Dan itu terjadi kalau 

kita mampu mengingat semua isi artikel  ini. 

 

 

Bisakah kita bepergian ke masa depan atau masa lalu? Menurut relativitas, tak ada yang bisa 

bergerak lebih cepat dari cahaya. Jika kirim pesawat antariksa ke bintang tetangga terdekat, Alpha 

Centauri, yang kira-kira empat tahun cahaya jaraknya dari kita, dibutuhkan secepat-cepatnya delapan 

tahun sampai kita dapat menyambut kembali orang-orang yang pergi kesana untuk menceritakan apa 

yang ditemukan. Jika ekspedisinya bertujuan menuju pusat galaksi kita, diperlukan setidaknya seratus 

ribu tahun perjalanan pulang pergi. Itupun jika kita berangkat dengan kecepatan cahaya atau sedikit 

dibawah itu. 

 

Relativitas memberi jalan keluar untuk itu yang disebut paradoks kembar. Mungkin ruang-waktu bisa 

dilengkungkan sehingga ada jalan pintas antara A dan B. Salah satu caranya yaitu  membuat lubang 

cacing(wormhole) antara A dan B. Seperti dikesankan namanya, lubang cacing yaitu  tabung tipis 

ruang-waktu yang bisa menghubungkan dua daerah hampir rata dan berjauhan. 

 

Pada 1935, Einstein dan Nathan Rosen menulis makalah yang menunjukkan bahwa relativitas umum 

memperkenankan apa yang disebut “jembatan”, tapi sekarang dikenal dengan lubang cacing. 

Jembatan Einstein-Rosen tak bertahan cukup lama untuk bisa dilewati pesawat antariksa. Pesawat 

bakal bertemu singularitas selagi lubang cacing menyempit. Tapi diusulkan bahwa peradaban yang 

maju mungkin bisa menjaga lubang cacing tetap terbuka. Untuk melakukan itu, atau melengkungkan 

ruang-waktu dengan cara yang lain agar memungkinkan menembus waktu. Bisa ditunjukkan bahwa 

yang diperlukan yaitu  daerah ruang-waktu dengan kelengkungan negatif. 

 

Selagi kita masih dan makin maju dalam sains dan teknologi, kita kelak bakal bisa membuat mesin 

waktu. Tapi jika benar itu bisa terjadi, mengapa belum ada orang yang datang dari masa depan dan 

memberitahu kita cara membuatnya? Beberapa orang mungkin mengatakan bahwa kunjungan UFO 

yaitu  bukti kita dikunjungi oleh makhluk luar angkasa atau orang dari masa depan. Namun menurut 

Om Hawking, mengapa para UFO itu hanya menunjukkan diri kepada orang-orang yang tak dianggap 

saksi yang bisa dipercaya? Jika mereka mencoba memperingati kita akan adanya bahaya besar, 

mereka kurang efektif. 

 

Anggaplah kita bisa ke masa lalu dan membunuh kakek moyang kita selagi dia masih anak-anak. Ada 

banyak versi paradoks untuk itu, tapi intinya sama, bahwa bakal ada kontradiksi bila masa lalu bebas 

diubah. Paradoks pertama ialah Pendekatan sejarah konsisten yang berarti kita tidak dapat 

menunjukkan bahwa kita sudah kembali ke masa lalu, dan selagi berada disana, kita tak bisa 

membunuh kakek moyang dan tidak boleh, atau melakukan tindakan apapun yang bertentangan 

dengan masa kini. Artinya, kita tak punya kehendak bebas untuk berbuat semaunya. Paradoks kedua 

ialah Hipotesis sejarah alternatif yang intinya saat  para penjelajah waktu kembali ke masa lalu, 

mereka memasuki sejarah laternatif yang berbeda dari sejarah yang tercatat. Jadi mereka bisa 

bertindak bebas tanpa dibatasi konsistensi terhadap sejarah sebelumnya. Richard Feynman 

menyampaikan dalam penjelasannya mengenai teori kuantum bahwa alam semesta tak hanya punya 

satu sejarah, namun alam semesta mengalami semua sejarah yang mungkin, masing-masing dengan 

peluang sendiri. 

 

BAB 11 UNFISIKASI FISIKA 

 

Sukar sekali membangun teori terpadu lengkap yang mencakup seluruh alam semesta 

sekaligus. Pencarian teori itu dikenal dengan sebutan “unfisikasi fisika”. Dalam upaya itu yang 

dijelaskan sangat rumit dalam bab ini, muncullah usaha-usaha dengan gagasan tambahan seperti 

adanya supergravitasi, superzarah, teori dawai, dll. Namun teori dawai nampaknya punya masalah 

besar sebab  hanya konsisten jika ruang-waktu punya sepuluh atau dua puluh enam dimensi, bukan 

hanya empat!! Itu sangat luarbiasa sulit dipahami dan dibayangkan. Membayangkat empat dimensi 

saja sudah ribet. 

 

Orang orang yang mencari teori itu namun belum berhaasil. Tapi saya percaya mungkin tidak ada satu 

perumusan tunggal teori dasar sebagaimana, seperti Godel tunjukkan, bahwa aritmatika dapat 

dirumuskan dalam satu set aksioma. Mungkin lebih mirip dengan peta. Kita tak bisa menggunakan 

satu peta untuk menjabarkan permukaan bumi, diperlukan setidaknya beberapa peta dan cincin agar 

semua titik di permukaan bisa terpetakan. Tiap peta hanya berlaku di daerah terbatas. Kumpulan peta 

menyediakan penjelasan lengkap atas permukaan. Seluruh perumusan dapat dianggap satu teori 

terpadu yang lengkap, walau tak dapat dinyatakan dalam satu set postulat. 

 

Tapi benarkah bisa ada satu teori terpadu? Atau kita hanya mengejar ilusi? Tampaknya ada tiga 

kemungkinan. 

1.  Benar-benar ada teori terpadu lengkap yang akan kita temukan kelak 

2.  Tak ada teori pamungkas, hanya ada serangkaian teori yang tak habis-habis yang 

menjelaskan alam semesta semakin lama semakin akurat. 

3. Tak ada teori mengenai alam semesta, peristiwa-peristiwa hanya bisa diprediksi sampai batas 

tertentu dan terjadi secara acak serta semaunya. 

 

Beberapa orang mendukung kemungkinan ketiga kerena menurut mereka, apabila ada set hukum 

lengkap, maka kebebasan Tuhan untuk berubah pikiran dan mengintervensi dunia jadi terbatas.. mirip 

paradoks lama: sebab  tidak ada yang tidak mungkin, maka bisakah Tuhan membuat batu yang sangat 

berat sehingga Dia sendiri tak bisa mengangkat batu itu? 

 

Newton, seorang terdidik bisa saja memahami keseluruhan pengetahuan manusia, setidaknya secara 

garis besar. Tapi sesudah laju perkembangan sains membuat pemahaman seperti itu mustahil dicapai. 

sebab  beberapa hal selalu diubah untuk menjelaskan pengamatan baru. Teori-teori tak pernah 

diresapi dengan baik atau disederhanakan supaya orang biasa bisa mengerti. Untuk memahaminya, 

orang terlebih dahulu harus jadi spesialis, dan kalau kita jadi spesialispun kita hanya bisa memahami 

sebagian kecil teori. Selain itu, laju kemajuan sains sangat cepat dan pesat sehingga yang dipelajari di 

sekolah atau universitas selalu agak ketinggalan. Hanya segelintir orang yang bisa mengikuti 

kemajuan garis terdepan pengetahuan, dan mereka harus mencurahkan seluruh waktunya untuk 

menjadi spesialis di bidang yang sempit. 

 

Kalaupun nanti, jika teori terpadu ditemukan, kiranya tinggal menunggu waktu sampai teori itu 

dicerna dan disederhanakan seperti relativitas yang membutuhkan beberapa puluh tahun sampai bisa 

dipahami banyak orang dan di ajarkan disekolah, walaupun hanya garis besar. Maka kemudian kita 

semua bisa mengerti hukum-hukum yang mengatur alam semesta dan bertanggung jawab atas 

keberadaan kita. 

 

Sampai sekarang, menurut Om Hawking, sebagian besar ilmuwan terlalu sibuk dengan 

mengembangkan teori-teori baru yang menjabarkan seperti apa alam semesta sehingga tak sempat 

bertanya mengapa. Para filsuf, belum sekarang belum mampu menyusul kemajuan teori-teori sains. 

Walaupun awal sains dan induk pengetahuan yaitu  bagian filsafat, namun setelah abat sembilan 

belas dan dua puluhsains menjadi terlalu teknis dan matematis bagi filsuf dan semua orang. Para filsuf 

pun mulai mempersempit bidang mereka, sampai-sampai Wittgenstein, filsuf paling terkenal abad 

keduapuluh berkata “satu-satunya tugas yang tersisa bagi filsafat yaitu  analisis bahasa”. 

Mengenaskan sekali penurunan ini dibanding tradisi filsafat sejak aristoteles sampai Kant!. Kata om 

Hawking. 

 

 

Jika kita menemukan jawaban hukum alam semesta menyeluruh, itulah kemenangan 

pamungkas nalar manusia, sebab  itu artinya kita telah mengetahui ISI PIKIRAN TUHAN. 

 

 


Apakah realitas itu? Dalam buku karya Stephen Hawking dan Leonard Mlodinow

kalau  konsep realitas  itu  tidak  ada,  semua bergantung pada  model-model  tertentu  yang

diyakini.  “There is no picture- or theory-independent concept of reality. Instead we will

adopt a view that we will call model-dependent realism: the idea that a physical theory or

world picture  is  a  model  (generally  of  a mathematical  nature)  and a set  of  rules  that

connect the elements of the model to observations. This provides a framework with which

to interpret modern science.”

Model-dependent  realism muncul  saat  di  mana  berbagai  teori  berbeda  mencoba

menjadi  Theory of Everything  (Teori Segalanya). Teori segalanya bertujuan menyatukan

relativitas  umum  dan  mekanika  kuantum.  Menurut  gagasan  tentang  model-dependent

realism otak kita menafsirkan input dari organ indera kita dengan membuat model dunia

luar.  Contohnya ialah  ketika  ikan  berada  di  akurium berbentuk bulat  dan melengkung.

Mereka akan melihat dunia itu bentuknya melengkung. 

Dalam  membandingkan  gambaran  mengenai  dunia  tidak  ada  gunanya  bertanya

“apakah  suatu  model  itu  nyata  atau  tidak?”  Jika  ada  dua  model  yang  berbeda  maka

seseorang tidak dapat membandingkan mana yang paling benar. Karena pengamatan yang

dilakukan setiap orang berbeda. 

Dalam buku The Grand Design mereka mengambil contoh terkenal dari gambar-

gambar realitas yang berbeda adalah model yang diperkenalkan sekitar tahun 150 M oleh

Ptolemy (sekitar  85 — sekitar  165 tahun)  untuk menggambarkan gerakan benda-benda

langit. Ptolemy menerbitkan karyanya dalam  tiga belas buku yang biasanya dikenal dengan

judul  Arabnya,  Almagest.  Almagest  dimulai  dengan  menjelaskan  alasan  untuk  berpikir

bahwa bumi itu bulat, tidak bergerak, diposisikan di pusat alam semesta, dan sangat kecil

dibandingkan  dengan  jarak  langit.  Terlepas  dari  model  heliosentris  Aristarkhos,

kepercayaan  ini  telah  dipegang  oleh  sebagian  besar  orang  Yunani  yang  berpendidikan

setidaknya sejak zaman Aristoteles, yang percaya bumi menjadi pusat alam semesta. Dalam

model  Ptolemeus  bumi  berdiri  diam  di  tengah  dan  planet-planet  dan  bintang-bintang

bergerak mengelilinginya. Model kosmos Ptolemeus diadopsi oleh Gereja Katolik sebagai

doktrin resmi selama seribu empat ratus tahun. 

Pada tahun 1543 Copernicus dalam bukunya De Revolutionibus Orbium Coelestiu

menunjukan  model  kosmos  baru  bahwa  matahari  berada  di  antara  planet-planet  yang

berputar mengelilinginya termasuk bumi. Model yang dicetuskan oleh Copernicus sangat

bertentangan dengan Gereja yang akhirnya sempat memanas dengan Galileo Galilei yang

mendukung model ini. 

Dari contoh di atas dapat disimpulkan bahwa setiap orang akan memiliki gambaran

dunianya masing-masing, mereka akan teguh terhadap apa yang mereka telah amati  dan

masing-,masing akan menyusun konsep yang bersifat matematis di atas model mereka agar

konsep mereka mampu di terima.

Namun tetap masih ada kriteria bagaimana suatu model itu dinilai baik. Menurut

Hawking dan Mlodinow terdapat empat kriteria yaitu : 

1. Sederhana dan cerdas (elegan)

2. Berisi sedikit unsur yang acak dan dapat disesuaikan

3. Sejalan dengan dan menjelaskan semua observasi yang ada

4. Membuat prediksi yang rinci mengenai observasi-observasi pada masa yang akan datang

yang  dapat  menolak  atau  menyalahkan  model  ini  jika  observasi-observasi  ini  tidak

didapatkan.

Meskipun sudah jelas bahwa kita semua memiliki persepsi pribadi kita sendiri tentang dunia,

tetapi kita sering lupa akan fakta itu. Setiap orang hidup dalam lingkungan yang berbeda, dan akan

memiliki perasaan berbeda tentang apa yang nyata atau palsu, benar atau salah, baik atau buruk.

Tidak ada satu perspektif yang lebih benar atau lebih salah daripada yang lain; semuanya tergantung

pada konteks.