Tampilkan postingan dengan label Budaya Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya Indonesia. Tampilkan semua postingan

Juli 16, 2026

Budaya Indonesia

 





















Bangsa Indonesia memiliki 10 unsur 

budaya asli, yaitu :

Kepandaian bersawah

Awalnya  sistem  yang  dikenal  adalah sistem  berladang kemudian  berkembang  ke sistem 

tegalandan sistem bersawah.  Pada  masa purba,  teknik  pembukaan ladang dikenal  dengan 

teknik SLASH and BURN ( Tebang dan Bakar).

Kemampuan dalam pelayaran

Bukti  yang  mendukung  hal  ini  adalah  adanya  relief  kapal  pada  Candi  Borobudur,  yang 

menunjukkan kegiatan berlayar dengan menggunakan perahu jenisCADIK( Bersayap).

Mengenal prinsip dasar pertunjukan wayang

Bermula  dari  kepercayaan Animisme. Dimainkan  pada  m alam  hari 

oleh Dalang menggunakan Boneka sebagai penjelamaan roh nenek moyang. Biasanya berisi 

petuah, nasihat kepada penonton.

Kemampuan dalam seni gamelan

Digunakan untuk mengiringi pertunjukan wayang dan juga mengiringi pelaksanaan upacara. 

Alat yang dipakai misalnya Bonang, Kempul, Saron, Gendang, Gendher, dll

Kepandaian membatik

Berupa  kepandaian  menghias  kain  dengan  menggunakancanthing. Motif  biasanya 

menggambarkan alam sekitar.

Mengerjakan barang dari logam

Ada dua (2) teknik yang digunakan dalam membuat barang dari logam, yaitu :

1. Bivalve, memakai cetakan dari tanah liat yang dibakar,

2. A  Cire  Perdue,  memakai  cetakan  dari  lilin

Menggunakan aturan metrik

Menggunakan alat tukar uang logam

Mengenal sistem perbintangan (astronomi)

Biasanya digunakan dalam kegiatan pelayaran ( terutama malam hari) dan juga untuk kegiatan 

pertanaian  (  penentuan  saat  cocok  tanam  dan  panen)

Telah terbentuknya susunan masyarakat yang teratur.

Dintandai munculnya masyarakat suku-suku yang dipimpin oleh seorang Kepala Suku ( Primus 

Interpares)

Mengapa tidak semua budaya luar ditiru begitu saja ?  Karena Masyarakat Nusantara telah 

memiliki “ local genius “, yaitu kemampuan suatu daerah/masyarakat untuk menyaring dan 

mengolah budaya asing yang masuk dan disesuaikan dengan cita rasa setempat.

• Bercocok  tanam =  Cara  bercocok  tanam yang  pertama dilakukan,  yaitu  dengan sistem 

berladang.  Lama kelamaan sistem ini  berubah menjadi bersawah.  Cara bercocok  tanam 

dengan bersawah kemudian menjadi bagian dari hidup mereka. Berkenaan dengan hal itu, 

mereka  berusaha  mencari  tempat  tinggal  dan  tempat  bercocok  tanam  yang  terletak 

disepanjang  aliran  sungai.  Akhirnya,  mereka  mampu  mengatur  tata  air  melalui  irigasi 

sederhana. Mereka juga dapat menentukan jenis  tanaman apa yang cocok ditanam pada 

suatu musim. Hal ini tidak mengherankan karena mereka telah mengenal ilmu perbintangan.

• Menurut Von Hiene Geldern, nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari daerah Yunan, di 

Cina Selatan. Semenjak dulu nenek moyang kita telah memiliki kemapuan dalam mengarungi 

lautan. Ketika memasuki kepulauan Nusantara mereka menggunakan perahu bercadik, yaitu 

jenis  perahu yang di  kanan kirinya  menggunakan bambu dan kayu  supaya  perahu tetap 

seimbang. Pengetahuan arah angin dan astronomi diperoleh melalui pengalaman bertahun – 

tahun.

• Seni = Nenek moyang kita telah pandai membuat boneka – boneka untuk kesenian wayang. 

Alat – alat gamelan pun dibuat untuk memeriahkan seni pertunjukkan tersebut. Selain itu, 

mereka telah mampu membuat batik, kerajinan logam, dengan beragam bentuk, dan benda – 

benda dari batu yang besar ( tradisi megalitikum ).

• Kepercayaan = Nenek moyang kita telah mempercayai adanya kekuatan maha tinggi di luar 

darinya.  Mereka  percaya  bahwa  jika  seseorang  maningga,  hanya  jasmaninya  saja  yang 

hancur, tetapi rohnya tetap hidup. Roh – Roh itu bertempat tinggal di suatu daerah keramat. 

Nenek moyang kita lantas memuja roh – roh itu sehingga memunculkan kebiasaan membakar 

kemenyan,  berkenduri,  dan  membuat  sesaji. Animisme adalah  kepercayaan  kepada  roh 

nenek moyang, Dinamisme kepercayaan kepada benda – benda yang memiliki kekuatan gaib, 

kesaktian  atau  tuah,  sedangkan Totemisme kepercayaan  terhadap  hewan  –  hewan  yang 

dianggap keramat dan membawa berkah.

Pengaruh  kebudayaan  Hindu-Buddha  terhadap  sistem  pemerintahan 

- Salah satu contoh nyata pengaruh kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia adalah 

perubahan  sistem  pemerintahan.  Sebelum  pengaruh  Hindu-Buddha  masuk  ke 

Indonesia, struktur sosial asli masyarakat Indonesia berbentuk suku-suku dengan 

pimpinannya  ditunjuk  atas  prinsipprimus  interpares.  Setelah  pengaruh  Hindu-

Buddha masuk, sistem pemerintahan ini berubah menjadi kerajaan. Kepemimpinan 

lalu  diturunkan  kepada  keturunan  raja.  Raja  dan  keluarganya  kemudian 

membentuk kalangan yang disebut bangsawan.

Dalam perkembangannya,  ada  dua  corak  kerajaan  berdasarkan  budaya  Hindu-

Buddha.  Kerajaan-kerajaan  bercorak  Hindu,  antara  lain,  Kerajaan  Kutai, 

Tarumanegara,  Mataram  Hindu  (Mataram  Kuno),  Kahuripan  (Airlangga),  dan 

Majapahit.  Kerajaan Majapahit  dikenal sebagai kerajaan Hindu terbesar.  Adapun 

kerajaan-kerajaan  bercorak  Buddha,  antara  lain,  Kerajaan  Holing  (Kalingga), 

Melayu,  Sriwijaya,  dan  Mataram  Buddha.  Kerajaan  Sriwijaya  adalah  kerajaan 

Buddha terbesar di Indonesia.

Pengaruh kebudayaan Hindu-Buddha terhadap sistem kepercayaan

Pada saat budaya Hindu-Buddha masuk ke Indonesia, masyarakat masih menganut 

kepercayaan asli, yaitu animisme dan dinamisme. Akibat adanya proses akulturasi, 

agama Hindu dan Buddha lalu diterima penduduk asli. Dibandingkan agama Hindu, 

agama Buddha lebih mudah diterima oleh masyarakat kebanyakan sehingga dapat 

berkembang pesat dan menyebar ke berbagai wilayah. Sebabnya adalah agama 

Buddha  tidak  mengenal  kasta,  tidak  membeda-bedakan  manusia,  dan 

menganggap  semua  manusia  itu  sama  derajatnya  di  hadapan  Tuhan  (tidak 

diskriminatif).  Menurut agama Buddha, setiap manusia dapat mencapai nirwana 

asalkan baik budi pekertinya dan berjasa terhadap masyarakat.


1. Provinsi Nanggro Aceh Darussalam -
Pakaian Adat Tradisional Ulee Balang
2.  Provinsi  Sumatera  Utara  -  Pakaian
Adat Tradisional Ulos
3.  Provinsi  Sumatera  Barat  -  Pakaian
Adat Tradisional Bundo Kanduang
(Pakaian Adat Tradisional Penghulu)
(Pakaian Adat Tradisional Bundo
Kanduang)
4.  Provinsi  Riau  -  Pakaian  Adat
Tradisional Melayu
 (Pakaian Adat Tradisional Siak Riau,
Indragiri dan Bengkalis Riau)
5.  Provinsi  Kepulauan  Riau  -  Pakaian
Adat Tradisional Belanga
6.  Provinsi  Jambi  -  Pakaian  Adat
Tradisional Melayu Jambi
7. Provinsi Sumatera Selatan - Pakaian
Adat Tradisional Aesan Gede
8.  Provinsi  Bangka Belitung -  Pakaian
Adat Tradisional Paksian
9.  Provinsi  Bengkulu  -  Pakaian  Adat
Tradisional Bengkulu
10.  Provinsi  Lampung  -  Pakaian  Adat
Tradisional  Tulang  Bawang
11.  Provinsi  DKI  Jakarta  -  Pakaian
Adat Tradisional Betawi
12. Provinsi Jawa Barat - Pakaian Adat
Tradisional Kebaya
13.  Provinsi  Banten  -  Pakaian  Adat
Tradisional Pangsi
14.  Provinsi  Jawa  Tengah  -  Pakaian
Adat Tradisional Kain Kebaya
15.  Provinsi  Daerah  Istimewa
Yogjakarta -  Pakaian Adat Tradisional
Kasatrian
16. Provinsi Jawa Timur - Pakaian Adat
Tradisional Pesa'an
17.  Provinsi  Bali  -  Pakaian  Adat
Tradisional Bali
18.  Provinsi  Nusa  Tenggara  Barat  -
Pakaian Adat Tradisional Lombok
19.  Provinsi  Nusa  Tenggara  Timur  -
Pakaian  Adat  Tradisional  Nusa
Tenggara Timur
20.  Provinsi  Kalimantan  Barat  -
Pakaian Adat Tradisional Perang
21.  Provinsi  Kalimantan  Tengah  -
Pakaian  Adat  Tradisional  Kalimantan
Tengah
22.  Provinsi  Kalimantan  Selatan  -
Pakaian  Adat  Pengantin  Bagajah
Gamuling  Baular  Lulut
23.  Provinsi  Kalimantan  Timur  -
Pakaian  Adat  Tradisional  Kalimantan
Timur
24.  Provinsi  Sulawesi  Utara  -  Pakaian
Adat  Tradisional  Kulavi  (Donggala)
25.  Provinsi  Sulawesi  Barat  -  Pakaian
Adat Tradisional Mandar
26. Provinsi Sulawesi Tengah - Pakaian
Adat Tradisional Nggembe
27.  Provinsi  Sulawesi  Tenggara  -
Pakaian Adat Tradisional Suku Tolaki
28. Provinsi Sulawesi Selatan - Pakaian
Adat Tradisional Bodo
29.  Provinsi  Gorontalo -  Pakaian Adat
Tradisional Gorontalo
30.  Provinsi  Maluku  -  Pakaian  Adat
Tradisional Baju Cele
31.  Provinsi  Maluku  Utara  -  Pakaian
Adat Tradisional Manteren Lamo
32.  Provinsi  Papua  Barat  -  Pakaian
Adat Tradisional Ewer 33.  Provinsi  Papua  -  Pakaian  Adat
Tradisional Papua