Tampilkan postingan dengan label India kuno. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label India kuno. Tampilkan semua postingan

Juli 16, 2026

India kuno








 PERADABAN INDIA KUNO 

A.      Peradaban Lembah Sungai Indus 

Peradaban Lembah Indus ada  di India sekarang berada diwilayah negara Pakistan. 

Kebudayaan Indus (Sindhu) berkembang antara tahun 3000 SM – 1000 SM, wujudnya berupa kota 

kuno Mohenjo Daro dan Harappa. Kebudayaan Indus ini didukung oleh bangsa Dravida yang 

berbadan pendek, berhidung pesek, berkulit hitam, berambut keriting. Kebudayaan Indus berhasil 

diteliti oleh seorang arkeolog Inggris, Sir John Marshal, yang dibantu Banerji (orang India). 

 

Hasil peradaban lembah sungai Indus, antara lain : 

1)  Kota Mohenjo Daro dan Harappa dibangun berdasar  pola kota e yang modern. 

2) ada  bangunan besar sebagai tempat pertemuan rakyat. 

3)  Rumah-rumah dibuat dari batu bata. 

4)  Jalan-jalan dibuat lebar-lebar. 

5)  Saluran air dibuat sesuai perencanaan kota modern. 

6) Ditemukan bekas permandian. 

7) Ditemukan perhiasan kalung emas dan perak dihias dengan permata. 

8) Ditemukan senjata yang terbuat dari batu dan tembaga. 

Benda kuno yang ada  di kota Mohenjo Daro dan Harappa, antara lain: 

1) lempeng tanah (terra cotta) yang berbentuk persegi dan bergambar binatang atau tumbuhan, 

seperti gajah, harimau, sapi, badak, dan pohon beringin; 

2)  tembikar yang berbentuk periuk belanga dan pecah-belah semacam piring dan cangkir; 

3) alat perhiasan berupa kalung, gelang, dan ikat pinggang dari tembaga; 

4) gambar dewa yang bertanduk, patung dewi Ibu (dewi kesuburan), dan patung pujaan: dewa bumi, 

dewa langit, dewa bulan, dewa air, serta dewa api. 

Mata pencaharian bangsa Dravida yaitu  bercocok tanam, yang dibuktikan dengan 

ditemukannya cangkul, kapak, dan patung Dewi Ibu yang dianggap lambang kesuburan. Hasil 

pertanian berupa gandum dan kapas. Sudah ada saluran irigasi untuk mencegah banjir serta untuk 

pengairan sawah-sawah rakyat. Dalam perdagangan terlihat adanya hubungan dengan Sumeria di 

Lembah Eufrat dan Tigris, yang diperdagangkan yaitu  keramik dan permata. 

Sudah mengenal sistim kepercayaan menyembah banyak dewa (politeisme) serta segala 

sesuatu yang dianggap keramat. Contohnya yaitu  pohon pipal dan beringin yang oleh umat 

Buddha dianggap pohon suci, binatang yang dipuja yaitu  gajah dan buaya. 

Tata kota, sanitasi, serta kebersihan dan kesehatan dari perencanaan kota 

dapat dibuktikan dengan adanya: 

1) bangunan rumah dibuat tinggi berdasar  petunjuk kesehatan, 

2) bangunan rumah dibuat seragam dari batu bata, 

3) bangunan tidak ada yang menjorok ke depan, dan 

4) saluran air dibangun sesuai dengan syarat kesehatan. 

Kebudayaan Indus runtuh pada tahun 1000 SM disebabkan oleh: 

1) adanya bencana banjir dari Sungai Indus (Sindhu); 

2) karena diserang bangsa Arya. 

A.      Peradaban Lembah Sungai Gangga 

 

Pendukung kebudayaan Gangga yaitu  orang-orang Arya. Mereka berasal dari sekitar 

Laut Kaspia yang datang memasuki India sekitar 2000 SM di daerah India Utara. Akibat 

kedatangan bangsa Arya, bangsa Dravida terdesak dan menyingkir ke India Selatan. Namun, 

tidak dapat dihindari terjadinya percampuran antara dua kebudayaan yang akhirnya melahirkan 

hinduisme. 

 

Bangsa Arya menguasai daerah subur di sekitar Sungai Gangga bahkan seluruh daerah di 

sekitar Lembah Indus. Mereka menyebutnya sebagai daerah Arya Warta atau daerah Hindustan, 

artinya tanah orang Hindu. Daerahnya meliputi sekitar Sungai Gangga, Lembah Yamuna, serta 

Lembah Indus. Untuk membatasi adanya percampuran ras, maka diciptakanlah Kasta serta 

kewajiban sattie (wanita ikut suami di waktu upacara pembakaran mayat). Perkawinan antarkasta 

menjadi salah satu penyebab seseorang dikeluarkan dari kasta. Orang Arya berada pada kasta 

brahmana, ksatria, dan sedikit pada kasta waisya. 

a. Kasta Brahmana ialah golongan para ahli agama dan ilmu pengetahuan. Golongan ini paling 

dihormati dan biasanya menjadi penasihat raja. 

b. Kasta Waisya ialah golongan pedagang dan petani. Mereka merupakan golongan yang berusaha, 

mengeluarkan keringat untuk menghasilkan perbekalan yang diperlukan oleh semua golongan. 

c. Kasta Ksatria ialah golongan ningrat dan para prajurit. Golongan inilah yang memegang 

kekuasaan dan menjalankan pemerintahan. 

d. Kasta Sudra ialah golongan buruh kasar dan hamba sahaya. 

Agama yang berkembang di India meliputi: 

a. Agama Hindu. Agama Hindu memuja dewa-dewa, ada tiga dewa yang paling terkemuka Dewa 

Brahma sebagai pencipta alam, Dewa Wisnu sebagai pemelihara alam, dan Dewa Syiwa sebagai 

perusak alam. Kitab sucinya disebut Weda. 

b. Agama Buddha. Agama Buddha diajarkan oleh Sidarta Gautama, putra mahkota kerajaan 

Kapilawastu di India Utara. Sidarta Gautama memperoleh pencerahan tentang masalah 

kehidupan, itulah yang disebut “Bodh”, sejak itu ia disebut “Budha”, artinya orang yang 

memperoleh “Bodh”. Kitab sucinya Tripitaka. 

Hasil kesusastraan India yang berupa wiracarita antara lain: 

a. Kitab Ramayana 

 

Kitab ramayana merupakan karangan Resi Walmiki. Menceritakan kisah putra mahkota 

bernama Rama putra Raja Dasaratha. Karena ulah ibu tirinya, Rama harus menjalani 

pengembaraan ke hutan, dalam pengembaraannya itu istrinya, Dewi Sinta, diculik oleh Rahwana 

atau Dasamuka, raja raksasa dari negeri Alengka (Sri Lanka). Rahwana dicegat oleh Jatayu, 

burung garuda raksasa, tetapi dapat dikalahkan oleh Rahwana. Dewi Sinta dilarikan sampai 

istana Alengka. Dengan pertolongan kera Sugriwa dan Hanoman, Sri Rama dapat menyerbu 

Kerajaan Alengka. Dengan bantuan bala tentara kera akhirnya Rahwana dapat dikalahkan dan 

Dewi Sinta dapat diselamatkan. 

 b. Kitab Mahabharata 

 

Kitab Mahabharata karangan Resi Wiyasa. Menceritakan kisah keadaan keluarga besar 

Bharata, yang memerintah di kerajaan Hastina. Dua keturunan itu yaitu  Kurawa dan Pandawa 

saling memperebutkan tahta kerajaan. Mula-mula keluarga pandawa menjalani hukuman dibuang 

ke hutan selama 12 tahun, dalam pembuangan itu keluarga Pandawa memperoleh gemblengan 

ilmu, sehingga kuat lahir dan batin. Akhirnya terjadi perang saudara yang hebat antara dua 

turunan itu di medan perang Kuruksetra. Perang tersebut terkenal sebagai perang Bratayudha, 

yaitu perang antara kejahatan (pihak Kurawa) dengan kebaikan (pihak Pandawa). Akhirnya, 

Pandawalah yang menang. 

Peradaban India memiliki pengaruh yang besar bagi bangsa Indonesia. Kebudayan India 

diterima oleh penduduk kepulauan Indonesia melalui proses perdagangan. Aspek-aspek 

kebudayaan dari India yang diterima oleh nenek moyang bangsa Indonesia benar-benar barang 

baru, yang tidak mereka kenal sebelumnya, misalkan aksara Pallawa, agama Hindu dan Buddha, 

dan penghitungan angka tahun Saka. Melalui ketiga aspek kebudayaan dari India itulah 

kemudian peradaban nenek moyang bangsa Indonesia terpacu dengan pesatnya, berkembang dan 

menghasilkan bentuk-bentuk baru kebudayaan Indonesia kuna yang pada akhirnya pencapaian 

itu diakui sebagai hasil kreativitas penduduk kepulauan Indonesia sendiri. Melalui aksara 

Pallawa nenek moyang bangsa Indonesia mampu mendokumentasikan pengalaman dalam 

kehidupannya. Terbitnya prasastiprasasti dari kerajaan-karajaan kuna, penggubahan karya sastra 

dengan berbagai judul, serta dokumentasi tertulis lainnya yaitu  berkat dikenalnya aksara 

Pallava. Bahkan di masa kemudian aksara Pallava itu kemudian “dinasionalisasikan” oleh 

berbagai etnis Indonesia, maka muncullah antara lain aksara Jawa Kuna, Bali Kuna, Sunda 

Kuna, Lampung, Batak, dan Bugis. 

Setelah diterimanya agama Hindu-Buddha oleh penduduk kepulauan Indonesia terutama 

Jawa, maka banyak aspek kebudayaan yang dihubungkan dengan kedua agama itu menjadi turut 

berkembang pula. Hal yang dapat diamati secara nyata terjadi dalam bidang seni arca dan seni 

bangun (arsitektur). Bentuk kesenian lain yang turut terpacu sehubungan dengan pesatnya 

kehidupan agama Hindu-Buddha dalam masyarakat yaitu  seni sastra. Banyak karya sastra 

dansusastra yang digubah dalam masa Hindu-Buddha selalu dilandasi dengan nafas keagamaan 

Hindu atau Buddha. Juga diuraikan perihal ajaran agama yang dianyam dengan cerita-cerita yang 

melibatkan para ksatrya dan kerajaankerajaan atau kehidupan pertapaan. 

 

India yaitu  negeri yang serba ganda, ganda dalam suku bangsa, ganda dalam budaya, dan 

ganda dalam soal kepercayaan. Oleh sebab itu, mempelajari agama Hindu terasa mengalami kesulitan. 

Jika kita lihat dari sudut pandang ilmu bangsa-bangsa, India yaitu  tanah yang beraneka ragam dan 

akibatnya ialah orang dapat melihat suatu kebudayaan yang beraneka ragam. Jika kita ibaratkan, agama 

Hindu itu seperti pohon besar yang memiliki cabang yang sangat banyak yang melambangkan berbagai 

pemikiran keagamaan. 

Namun itu tidak menyurutkan niat penulis untuk membuat makalah ini. Dan untuk 

mempermudah dalam pemahaman, penulis  berusaha menunjukan garis-garis besar yang 

menghubungkan berbagai gejala dan aliran itu yang satu dengan yang lain . 

 

   II.            Asal Usul Agama Hindu 

Agama Hindu yaitu  agama yang tertua di dunia. Di India, agama Hindu sering disebut dengan 

nama Sanatana Dharma yang berarti agama yang kekal, atau Waidika Dharma, yang berarti agama yang 

berdasar  kitab suci Weda.[1] 

Nama Hindu yang sekarang lazim dikenal dan telah dipergunakan secara umum di seluruh dunia, 

merupakan nama asing karena nama itu diberikan oleh orang yang bukan Hindu.[2] Nama India 

dijelaskan dari nama sungai Sindbu, yang mengairi daerah barat India. Bangsa Persia menyebut sungai 

itu sungai Hindu. Kemudian nama ini diambil alih oleh orang Yunani, sehingga nama itulah yang terkenal 

di dunia barat. 

 

III.            Sejarah India Kuno 

Agama Hindu yaitu  agama agama pokok yang dianut di kawasan India. Agama ini banyak 

didasarkan pada beberapa naskah suci yang ada. Tidak seperti agama-agama lain, dalam agama Hindu 

tidak dapat diketahui secara pasti siapa pembawa pertama ajaran-ajarannya. Ini merupakan salah satu 

kesulitan dalam mempelajari agama Hindu. 

Sejarah kebudayaan India dimulai pada zaman perkembangan kebudayaan-kebudayaan yang 

besar di Mesopotamia dan Mesir. Antara 3000 dan 2000 tahun sebelum Masehi, rupa-rupanya di 

lembah sungai Sindhu (Indus) tinggallah bangsa-bangsa yang peradabannya menyerupai kebudayaan 

bangsa Sumeri didaerah sungai Eftar dan Tigris. Berbagai cap daripada gading dan tembikar yang ada 

tanda-tanda tulisan dan lukisan-lukisan binatang, menceritakan kepada kita adanya persesuaian di 

dalam peradaban tersebut. Sudah pasti, bahwa di dalam zaman itu di sepanjang pantai dari laut tengah 

sampai keteluk benggala ada  sejenis peradaban yang sama dan yang sudah meningkat pada 

perkembangan yang tinggi. Sisa-sisa kebudayaan tersebutterutama ada  di dekat kota Harappa di 

Punjab dan di sebelah utara Karachi. Bahkan di situ diketemukan sisa-sisa sebuah kota Mohenjodaro, di 

mana ternyata orang telah mempunyai rumah-rumah yang berdinding tebal dan bertangga.[4] 

Menurut para sarjana, agama Hindu terbentuk dari campuran antara agama India asli (bangsa 

Dravida) dengan agama atau kepercayaan bangsa Arya. 

 

 

 

            Peradaban Lembah Sungai Indus 

Peradaban India kuno dikenal sebagai peradaban Lembah sungai 

Indus. Luas geografi wilayah peradaban ini meliputi 1,25 juta km atau 

seluas Pakistan sekarang. Dua kota yang sangat terkenal ini 

yaitu  Mohenjodaro di wilayah Pakistan Selatan sekarang dan Harappa di 

daerah Punjab. 

Kemakmuran peradaban Lembah Sungai Indus sangat bergantung 

pada intensifikasi pengelolaah lahan pertanian di sepanjang lembah. Di 

kawasan ini, petani mengembangkan budaya agraris. Dari hasil itu, mereka 

mampu menghasilkan gandum, sayuran, dan kapas. Petani juga beternak 

sapi, kerbau, dan babi. 

Peradaban sungai Indus berkembang selama kurang lebih seribu 

tahun. Namun,peradaban tersebut tampak muncul secara singkat dalam 

sejarah peradaban umat manusia karena mengalami kehancuran.[5] 

            Peradaban Mohenjodaro dan Harappa 

Dalam mempelajari peradaban dunia nama Indus lebih jauh lebih 

popular. Hal itu berhubungan dengan adanyapenemuan besar pada apabd 

ke 20 oleh jawaran Pemeriksaan kebudayaan kuno di India. Ketika itu 

mereka sedang melakukan penggalian tanah di sebuah kampong bernama 

Mohenjo-Daro dan Harappa yang berada ditepi lembah sungai Indus. 

Penggalian itu menghasilkan barang-barang berharga, antara lain 

perabot rumah tangga, lempengan-lempengan tanah yang berhiaskan 

gambar binatang dan pohon beringin, serta sisi-sisi bangunan gedung 

maupun sisi-sisi benteng. Bangunan tersebut paling banyak ditemukan di 

kampong Mohenjo-Daro. Oleh karena itu para ahli memperkirakan bahwa 

masyarakat yang tinggal di sungai Indus sudah mempunyai 

peradaban[6] yang tinggi. Adanya perabot rumah tangga menandakan 

bahwa mereka sudah hidup bermasyarakat dan mempunyai kemampuan 

mengelola dan menyajikan makananseperti layaknya manusia sekarang. 

            Invansi Bangsa Arya 

Banyak ahli sejarah menduga bahwa peradaban Mohenjodaro dan 

Harappa runtuh akibat serbuan bangsa Arya. Pengetahuan mengenai awal 

bangsa Arya diperoleh dari kitab Regweda, yang merupakan kitab tertua 

dan paling suci bagi umat Hindu. Kitab tersebut berisi beberapa informasi 

sejarah mengenai bangsa Arya dan suku-suku asli bangsa India.[7] 

Bangsa Arya diperkirakan masuk di India antara 2000 dan 1000 tahun sebelum Masehi masuklah 

ke India dari sebelah utara. Kaum Arya, yang memisahkan diri dari kaum sabangsanya di Iran dan yang 

memasuki India melalui jurang-jurang di pegunungan Hindu Kush. 

Bangsa Arya itu, yang termasuk induk bangsa Indo-Eropa, mula-mula yaitu  bangsa 

pengembara. Dari tempat mereka terakhir didaerah Asia pusat sebagaian dari mereka memasuki dan 

menetap di dataran tinggi Iran, dan sebagian lagi di Punjab (5 sungai). Di sepanjang sungai Sindhu 

ada  suatu peradaban bangsa Dravida yang sudah tinggi sekali tingkatnya. Peradaban iti berpusat di 

kota-kota yang diperkuat. Dengan benteng-benteng. 

Setelah datang di India mereka menentap di dataran sungai Sindhu yang pada zaman itu masih 

subur, jadi di daerah itu mereka telah menjumpai suatu peradaban tua. Di dalam beberapa hal mereka 

sangan berbeda dengan bangsa Dravida. Kemudian mereka lebih jauh memasuki India sampai di tepi 

sungai Gangga dan sampai di sebelah selatan. Tetapi di situ mereka makin bercampur dengan bangsa 

Dravida dan dengan demikianlah terwujudlah akhirnya suatu kesatuan. Berkat peleburan kebudayaan 

Dravida yang tua itu dengan kebudayaaan Arya terjadilah kemudian kebudayaan India. [8] 

Jadi dapatlah dikonstatir dengan jelas, bahwa agama Hindu sebagai agama tumbuh dari dua 

buah sumber yang berlainan, tumbuh dari perasaan dan pikiran keagamaan dua bangsa yang belainan, 

yang mula-mula dalam banyak hal sangat berlainan, tetapi kemudian lebur jadi satu. 

Bangsa Arya datang dengan membawa bahasa Sansekerta. Mereka juga memperkenalkan 

system kasta, yang menempatkan orang-orang ke dalam bermacam-macam kasta atau warna 

berdasar  kedudukan. 

 

 

Ringkasan materi SMA SEJARAH – Peradaban Kuno Asia–India 

(4000-3000 SM) peradaban di sungai Indus berdiri dengan kota utama yaitu Mohenjodaro. 

1500 SM) orang-orang Aria menghancurkan pera-daban sungai Indus. Terjadi perang saudara antara 

ras Arya dan Dravida. Percampuran perkawinan antara orang Dravida dan Arya melahirkan 

ajaran Hindu. 

(500 SM) Masyarakat India terbagi menjadi empat kasta:  

1. Brahmana: pendeta  

2. Ksatria: raja, bangsawan, prajurit.  

3. Waisya: petani, pedagang, pengrajin, dan peternak.  

4. Sudra: pekerja kasar dan budak. 

Kitab Weda:  

1. Regweda (syair-syair pujian untuk dewa)  

2. Samaweda (syair nyanyian untuk dewa)  

3. Yajurweda (doa untuk pengantar sesaji untuk dewa)  

4. Atharweda (mantra-mantra untuk sihir dan ilmu ghaib) 

Ajaran Trimurti:  

1. Dewa Brahmana: pencipta alam  

2. Dewa Wisnu: pemelihara alam  

3. Dewa Syiwa: perusak alam 

1. Karma: balasan dari perbuatan baik dan buruk.  

2. Reinkarnasi: penjelmaan kembali ke kehidup-an manusia sesuai dengan karmanya.  

3. Moksa: bebas dari reinkarnasi dan masuk ke dalam Nirwana. 

(563-483 SM) Seorang filosof bernama Sidharta Gautama mengajarkan agama Budha di India. 

Munculnya Agama Budha  

(563 SM) Sidharta Gautama lahir di Taman Lumbini, Kerajaan Syaka, India.  

(528 SM) Pada bulan Waisak, Budha mendapat ilham setelah bersemedi di bawah pohon bodhi di desa 

Gaya. Kemudian Budha memberikan wejangan di desa Sarnath, Benares India.  

- (483 SM) Budha wafat kemudian ajarannya ter-sebar.  

- (65 M) Agama Budha tersebar ke Cina.  

- (538 M) Agama Budha masuk ke Jepang. 

Empat Inti Ajaran Kebenaran Budha (Catur Aryasatyani)  

1. Penderitaan lebih hebat daripada kebahagiaan.  

2. Penderitaan timbul karena hasrat untuk hidup.  

3. Dengan usaha, penderitaan dapat terhapus.  

4. Cara menghilangkan penderitaan melalui “Delapan Jalan Utama” (Astavida). 

Delapan Jalan Utama:  

• berpikir baik,  

• berniat baik,  

• berkata baik,  

• bertingkah laku baik,  

• makan-minum baik,  

• berusaha yang baik,  

• perhatian yang baik, dan  

• semedi yang baik. 

- Kitab Tripitaka (Tiga Keranjang):  

1. Winayapitaka: peraturan hukum yang menentukan cara hidup para pemeluknya.  

2. Sutrantapitaka: wejangan Sang Budha.  

3. Abdhidarmapitaka: penjelasan mengenai keagamaan. 

- (326 SM) Alexander Agung menguasai India.  

- (321 SM) Chandragupta mendirikan kerajaan Maurya yang bercorak Budha.  

- (232 SM) Cucu Chandragupta yaitu Ashoka mem-bawa Maurya pada puncak kejayaan dan ajaran 

agama Budha. Setelah meninggalnya Ashoka, kera-jaan Maurya mengalami keruntuhan.  

- (100-510) Budha Sansekerta berkembang di India. 

 Sejarah  Perkembangan Agama Hindu Di  India.  Agama  merupakan  aliran  yang

dianut  oleh  para  umat  manusia  tentang kepercayaan akan adanya Tuhan.  Di  dunia

banyak sekali  ada aliran aliran yang berkembang di  masyarakat.  Ada yang percaya

dengan adanya Tuhan, ada pula yang tidak. Akan tetapi, suatu aliran yang mengajarkan

umatnya untuk tidak percaya dengan Tuhan, apalagi mengajarkan hal hal yang bersifat

negatif, agama tersebut pasti akan di bubarkan oleh pemerintah (kalau di Indonesia).

Di Indonesia, telah di catat dalam undang undang atau secara resmi, agama yang ada

di Indonesia ada 5 yaitu Hindhu, Islam, Kristen, Katolik dan Budha. Bagi yang beragama

Hindhu  seperti  saya,  tahu  gak  sih,  bagaimana sejarah  awal  berkembangnya agama

hindhu?.

Agama  Hindhu  pertama  kali  muncul,  tumbuh  dan  berkembang  di  India  atas

bercampurnya  2  kebudayaan.  Yaitu  dari  Bangsa  Arya  (dari  Eropa  Timur)  dengan

penduduk asli India (Bangsa Dravida. Sehingga menghasilkan sebuah kebudayaan yang

bernama  Hindhu.  Setelah  muncul  Agama  Hindhu  di  lembah  sungai  Sindhu,  Agama

Hindu pun mulai berkembang. Selanjutnya silahkan baca di bawah ini.

PERKEMBANGAN AGAMA HINDU DI INDIA

Menurut catatan, perkembangan Agama Hindu Di India berlangsung dalam

kurun  waktu  yang  sangat  panjang.  Menurut  pola  pemikiran  yang

disampaikan  oleh  “Govinda  Das  Hinduism  Madras”,  fase  fase  proses

perkembangan tersebut dibagi menjadi Zaman Veda, Zaman Brahmana

dan Zaman Upanisad.

1. Zaman Veda

Zaman Veda diperkirakan berlangsung dari tahun 1500 SM sampai dengan

tahun 600 SM. Pada zaman inilah wahyu dari Tuhan Yang Maha Esa diterima

oleh para maharsi yang disusun dan membentuk Kitab Suci Veda. Penjelasan

tersebut diambil dari kitab Nirukta buah karya Maharsi Sayana. Dalam tradisi

Hindu,  Maharsi  yang  amat  populer  dan  sangat  besar  jasanya  dalam

menghimpun  kitab  suci  Veda  dikenal  dengan  sebutan Kresna  Dwipayana

Vyasa.  Maharsi  Vyasa dibantu oleh 4 orang siswanya yang juga maharsi.

Selain menghimpun kitab Catur Veda Samhita, Maharsi Vyasa juga berjasa

menyusun kitab Purana, Mahabratha, Bhagavadgitha dan kitab Brahmasutra.

Pada Zaman Veda, pemujaan dipusatkan kepada para dewa yang diyakini

sebagai  suatu  kekuatan  yang  nyata  dan  berpribadi.  Persembahan  yang

dilakukan pada masa ini dengan melantunkan nyanyian nyanian suci yang

sangat indah disertai dengan menghaturkan sajian yang dipersembahakan

kepada-Nya. Tujuannya untuk memohon waranugraha dari para dewa agar

hidup seseorang selamat, sejahtera lahir dan batin. Pada masa Zaman Veda

juga  mengenal  keberadaannya  hukum alam yang disebut  Rta.  Rta  itulah

yang mengatur segalanya yang ada di alam semesta.

Mitologi  dewa pada zaman Veda menampilkan beberapa cerita  mengenai

dewa dewa yang dipandang populer. Adanya uraian tentang mitologi dewa

dewa itu diharapkan akan dapat memperjelas pengetahuan tentang ajaran

Ketuhanan. Dewa dewa yang dimaksud antara lain:

A. Dewa Agni

Dalam Kitab Veda, sangat banyak dijumpai pemujaan terhadap Dewa Agni

terutama dalam Reg Veda. Penampilannya yang selalu dihubungkan dengan

upacara api karena sesuai dengan wujudnya digambarkan berambut nyala

api, berdagu tajam, bergigi emas dan kepalanya selalu bersinar. Dalam Kitab

Mahabratha,  Dewa Agni  diceritakan sebagai  dewa yang membakar  hutan

Kandhawa  dan  dalam  Kitab  Ramayana  diceritakan  Dewa  Agni

mengawini Svaha dan mempunyai tiga orang putra yaitu Pavaka, Pavamana

dan Suchi.

Dewa  Agni  dipandang  sebagai  dewa  yang  amat  dermawan  kepada  para

pemuja-Nya  dan  memberkahi  mereka  dengan  bermacam macam karunia

misalkan kebahagiaan dalam rumah tangga. Di dalam Kitab Veda terdapat

mantra  yang  diucapkan  untuk  memuliakan  Dewa  Agni  yang  mempunyai

terjemahan  "Atas  karunia  Agni  setiap  hari,  dunia  kiri  mendapatkan

kemakmuran yang menyebabkan adanya kekuatan, jasa dan kepahlawanan

yang mulia.

B. Dewa Indra

Keberadaan Dewa Indra dalam kitab suci Veda adalah yang paling dominan.

Disebutkan hampir  sekitar  250 mantra  mengagungkan Dewa Indra dalam

Veda.  Pada  zaman  purana,  posisinya  lebih  menonjol  sebagai  dewa

Kahyangan (surga). Ia menjadi saksi agung setiap perbuatan manusia karena

Ia memiliki seribu mata (Sahasraksa).

Dewa Indra dikenal sebagai Dewa Perang yang mengalahkan tiga benteng

musuh dalam masa itu.  Kendaraan Dewa Indra adalah Gajah Airavata dan

istrinya bernamaSachi atau Indrani.

C. Dewa Rudra

Dewa  Rudra  diidentikkan  dengan  Dewa  Siva  (Siva  Rudra).  Dewa  Rudra

digambarkan sebagai laki laki bertubuh besar, perutnya berwarna biru dan

punggungnya  berwarna  merah.  Kepala-Nya  berwarna  biru  dan  lehernya

berwarna  putih  serta  memiliki  kulit  yang  coklat  kemerah  merahan.

Rambutnya  panjang  terurai  dan  seluruh  tubuhnya  memancarkan  cahaya

keemasan.

Dari  karakternya tampak angker dan menakutkan, namun hatinya lembut

dan maha pengasih. Ia menjadi dukunnya pada dukun dengan berjenis jenis

pengobatan  yang  dimilikinya.  Oleh  karena  itu,  ia  diberi  julukan Jalasa

Bhesaya.

D. Dewa Varuna

Dewa  Varuna  digambarkan  sebagai  laki  laki  berwajah  rupawan  berwarna

putih yang mengendarai  monster laut yang bernama Makara (Gajahmina)

yang berupa binatang laut campuran antara kitang dan ikan. Dewa Varuna

merupakan dewa yang menguasai hukum alam semesta atau Rta. Istri Dewa

Varuna bernama Dewi Varuni yang tinggal di Istana mutiara.

2. Zaman Brahmana

Zaman Brahmana ditandai dengan munculnya Kitab Brahmana yang berisi

peraturan  peraturan  keagamaan.  Pokok  pembicaraan  dalam  zaman  ini

adalah tentang upacara yadnya meliputi  arti  yadnya, persyaratan yadnya

dan kekuatan gaib yang ada dalam upacara itu. Unsur unsur upacara dalam

kitab Veda dikembangkan secara meluas di Kitab Brahmana. Apabila dalam

kitab  Veda  upacara  keagamaan  dilakukan  dengan  tujuan  memohon

waranugraha dari  para dewa, sedangkan di kitab Brahmana, para dewata

memiliki kedudukan yang amat penting terutama dalam sistem upacara.

Adanya kehidupan masyarakat yang bersifat ritualis pada zaman Brahmana

itu  merupakan  dasar  untuk  menuju  pada  tingkat  kehidupan  spiritual

berikutnya berupa karma dan jnana. Dengan demikian, pelaksanaan upacara

karma dan jnana dapat berjalan sebagaimana mestinya pada zaman itu.

Diperkirakan  perkembangan  agama  Hindu  pada  zaman  Brahmana  telah

sampai India bagian tengah yaitu di dataran tinggi Dekan di lembah sungai

Yamuna.  Diperkirakan  disinilah  tempat  ditulisnya  peraturan  peraturan

mengenai tuntunan upacara dan tata susila.

3. Zaman Upanisad

Sejalan dengan perkembangan waktu, agama Hindu pun terus berkembang

dari  dataran  tinggi  Dekan  hingga  ke  lembah  sungai  Gangga  yang

penduduknya  bermata  pencaharian  sebagai  pedagang.  Dalam beragama,

mereka  lebih  menekankan  hal  hal  yang  bersifat  filosofis  dari  pada

pelaksanaan upacara.  Kemudian muncullah diskusi  antara para guru atau

maharsi  dengan  para  siswanya,  dan  diskusi  tersebut  mengakibatkan

berkembangnya  filsafat  Hindu  yang  lebih  menekankan  aspek  jnana.  Para

maharsi tersebut memberikan berbagai ilmu pengetahuan tentang pedoman

ajaran kitab suci Veda.

Di  zaman  Upanisad  muncul  lagi  kitab  Upanisad  yang  merupakan  bagian

dari jnana kanda dari kitab Veda Sruti yang isinya bersifat ilmiah, spekulatif,

tetapi  tetap dalam ruang lingkup keagamaan.  Pada masa ini  pula  sistem

hidup kerohanian masyarakat tumbuh dan berkembang dengan pesat. Hal ini

dibuktikan  dengan  berkembangnya  berbagai  macam  aliran  filsafat

keagamaan