PERADABAN INDIA KUNO
A. Peradaban Lembah Sungai Indus
Peradaban Lembah Indus ada di India sekarang berada diwilayah negara Pakistan.
Kebudayaan Indus (Sindhu) berkembang antara tahun 3000 SM – 1000 SM, wujudnya berupa kota
kuno Mohenjo Daro dan Harappa. Kebudayaan Indus ini didukung oleh bangsa Dravida yang
berbadan pendek, berhidung pesek, berkulit hitam, berambut keriting. Kebudayaan Indus berhasil
diteliti oleh seorang arkeolog Inggris, Sir John Marshal, yang dibantu Banerji (orang India).
Hasil peradaban lembah sungai Indus, antara lain :
1) Kota Mohenjo Daro dan Harappa dibangun berdasar pola kota e yang modern.
2) ada bangunan besar sebagai tempat pertemuan rakyat.
3) Rumah-rumah dibuat dari batu bata.
4) Jalan-jalan dibuat lebar-lebar.
5) Saluran air dibuat sesuai perencanaan kota modern.
6) Ditemukan bekas permandian.
7) Ditemukan perhiasan kalung emas dan perak dihias dengan permata.
8) Ditemukan senjata yang terbuat dari batu dan tembaga.
Benda kuno yang ada di kota Mohenjo Daro dan Harappa, antara lain:
1) lempeng tanah (terra cotta) yang berbentuk persegi dan bergambar binatang atau tumbuhan,
seperti gajah, harimau, sapi, badak, dan pohon beringin;
2) tembikar yang berbentuk periuk belanga dan pecah-belah semacam piring dan cangkir;
3) alat perhiasan berupa kalung, gelang, dan ikat pinggang dari tembaga;
4) gambar dewa yang bertanduk, patung dewi Ibu (dewi kesuburan), dan patung pujaan: dewa bumi,
dewa langit, dewa bulan, dewa air, serta dewa api.
Mata pencaharian bangsa Dravida yaitu bercocok tanam, yang dibuktikan dengan
ditemukannya cangkul, kapak, dan patung Dewi Ibu yang dianggap lambang kesuburan. Hasil
pertanian berupa gandum dan kapas. Sudah ada saluran irigasi untuk mencegah banjir serta untuk
pengairan sawah-sawah rakyat. Dalam perdagangan terlihat adanya hubungan dengan Sumeria di
Lembah Eufrat dan Tigris, yang diperdagangkan yaitu keramik dan permata.
Sudah mengenal sistim kepercayaan menyembah banyak dewa (politeisme) serta segala
sesuatu yang dianggap keramat. Contohnya yaitu pohon pipal dan beringin yang oleh umat
Buddha dianggap pohon suci, binatang yang dipuja yaitu gajah dan buaya.
Tata kota, sanitasi, serta kebersihan dan kesehatan dari perencanaan kota
dapat dibuktikan dengan adanya:
1) bangunan rumah dibuat tinggi berdasar petunjuk kesehatan,
2) bangunan rumah dibuat seragam dari batu bata,
3) bangunan tidak ada yang menjorok ke depan, dan
4) saluran air dibangun sesuai dengan syarat kesehatan.
Kebudayaan Indus runtuh pada tahun 1000 SM disebabkan oleh:
1) adanya bencana banjir dari Sungai Indus (Sindhu);
2) karena diserang bangsa Arya.
A. Peradaban Lembah Sungai Gangga
Pendukung kebudayaan Gangga yaitu orang-orang Arya. Mereka berasal dari sekitar
Laut Kaspia yang datang memasuki India sekitar 2000 SM di daerah India Utara. Akibat
kedatangan bangsa Arya, bangsa Dravida terdesak dan menyingkir ke India Selatan. Namun,
tidak dapat dihindari terjadinya percampuran antara dua kebudayaan yang akhirnya melahirkan
hinduisme.
Bangsa Arya menguasai daerah subur di sekitar Sungai Gangga bahkan seluruh daerah di
sekitar Lembah Indus. Mereka menyebutnya sebagai daerah Arya Warta atau daerah Hindustan,
artinya tanah orang Hindu. Daerahnya meliputi sekitar Sungai Gangga, Lembah Yamuna, serta
Lembah Indus. Untuk membatasi adanya percampuran ras, maka diciptakanlah Kasta serta
kewajiban sattie (wanita ikut suami di waktu upacara pembakaran mayat). Perkawinan antarkasta
menjadi salah satu penyebab seseorang dikeluarkan dari kasta. Orang Arya berada pada kasta
brahmana, ksatria, dan sedikit pada kasta waisya.
a. Kasta Brahmana ialah golongan para ahli agama dan ilmu pengetahuan. Golongan ini paling
dihormati dan biasanya menjadi penasihat raja.
b. Kasta Waisya ialah golongan pedagang dan petani. Mereka merupakan golongan yang berusaha,
mengeluarkan keringat untuk menghasilkan perbekalan yang diperlukan oleh semua golongan.
c. Kasta Ksatria ialah golongan ningrat dan para prajurit. Golongan inilah yang memegang
kekuasaan dan menjalankan pemerintahan.
d. Kasta Sudra ialah golongan buruh kasar dan hamba sahaya.
Agama yang berkembang di India meliputi:
a. Agama Hindu. Agama Hindu memuja dewa-dewa, ada tiga dewa yang paling terkemuka Dewa
Brahma sebagai pencipta alam, Dewa Wisnu sebagai pemelihara alam, dan Dewa Syiwa sebagai
perusak alam. Kitab sucinya disebut Weda.
b. Agama Buddha. Agama Buddha diajarkan oleh Sidarta Gautama, putra mahkota kerajaan
Kapilawastu di India Utara. Sidarta Gautama memperoleh pencerahan tentang masalah
kehidupan, itulah yang disebut “Bodh”, sejak itu ia disebut “Budha”, artinya orang yang
memperoleh “Bodh”. Kitab sucinya Tripitaka.
Hasil kesusastraan India yang berupa wiracarita antara lain:
a. Kitab Ramayana
Kitab ramayana merupakan karangan Resi Walmiki. Menceritakan kisah putra mahkota
bernama Rama putra Raja Dasaratha. Karena ulah ibu tirinya, Rama harus menjalani
pengembaraan ke hutan, dalam pengembaraannya itu istrinya, Dewi Sinta, diculik oleh Rahwana
atau Dasamuka, raja raksasa dari negeri Alengka (Sri Lanka). Rahwana dicegat oleh Jatayu,
burung garuda raksasa, tetapi dapat dikalahkan oleh Rahwana. Dewi Sinta dilarikan sampai
istana Alengka. Dengan pertolongan kera Sugriwa dan Hanoman, Sri Rama dapat menyerbu
Kerajaan Alengka. Dengan bantuan bala tentara kera akhirnya Rahwana dapat dikalahkan dan
Dewi Sinta dapat diselamatkan.
b. Kitab Mahabharata
Kitab Mahabharata karangan Resi Wiyasa. Menceritakan kisah keadaan keluarga besar
Bharata, yang memerintah di kerajaan Hastina. Dua keturunan itu yaitu Kurawa dan Pandawa
saling memperebutkan tahta kerajaan. Mula-mula keluarga pandawa menjalani hukuman dibuang
ke hutan selama 12 tahun, dalam pembuangan itu keluarga Pandawa memperoleh gemblengan
ilmu, sehingga kuat lahir dan batin. Akhirnya terjadi perang saudara yang hebat antara dua
turunan itu di medan perang Kuruksetra. Perang tersebut terkenal sebagai perang Bratayudha,
yaitu perang antara kejahatan (pihak Kurawa) dengan kebaikan (pihak Pandawa). Akhirnya,
Pandawalah yang menang.
Peradaban India memiliki pengaruh yang besar bagi bangsa Indonesia. Kebudayan India
diterima oleh penduduk kepulauan Indonesia melalui proses perdagangan. Aspek-aspek
kebudayaan dari India yang diterima oleh nenek moyang bangsa Indonesia benar-benar barang
baru, yang tidak mereka kenal sebelumnya, misalkan aksara Pallawa, agama Hindu dan Buddha,
dan penghitungan angka tahun Saka. Melalui ketiga aspek kebudayaan dari India itulah
kemudian peradaban nenek moyang bangsa Indonesia terpacu dengan pesatnya, berkembang dan
menghasilkan bentuk-bentuk baru kebudayaan Indonesia kuna yang pada akhirnya pencapaian
itu diakui sebagai hasil kreativitas penduduk kepulauan Indonesia sendiri. Melalui aksara
Pallawa nenek moyang bangsa Indonesia mampu mendokumentasikan pengalaman dalam
kehidupannya. Terbitnya prasastiprasasti dari kerajaan-karajaan kuna, penggubahan karya sastra
dengan berbagai judul, serta dokumentasi tertulis lainnya yaitu berkat dikenalnya aksara
Pallava. Bahkan di masa kemudian aksara Pallava itu kemudian “dinasionalisasikan” oleh
berbagai etnis Indonesia, maka muncullah antara lain aksara Jawa Kuna, Bali Kuna, Sunda
Kuna, Lampung, Batak, dan Bugis.
Setelah diterimanya agama Hindu-Buddha oleh penduduk kepulauan Indonesia terutama
Jawa, maka banyak aspek kebudayaan yang dihubungkan dengan kedua agama itu menjadi turut
berkembang pula. Hal yang dapat diamati secara nyata terjadi dalam bidang seni arca dan seni
bangun (arsitektur). Bentuk kesenian lain yang turut terpacu sehubungan dengan pesatnya
kehidupan agama Hindu-Buddha dalam masyarakat yaitu seni sastra. Banyak karya sastra
dansusastra yang digubah dalam masa Hindu-Buddha selalu dilandasi dengan nafas keagamaan
Hindu atau Buddha. Juga diuraikan perihal ajaran agama yang dianyam dengan cerita-cerita yang
melibatkan para ksatrya dan kerajaankerajaan atau kehidupan pertapaan.
India yaitu negeri yang serba ganda, ganda dalam suku bangsa, ganda dalam budaya, dan
ganda dalam soal kepercayaan. Oleh sebab itu, mempelajari agama Hindu terasa mengalami kesulitan.
Jika kita lihat dari sudut pandang ilmu bangsa-bangsa, India yaitu tanah yang beraneka ragam dan
akibatnya ialah orang dapat melihat suatu kebudayaan yang beraneka ragam. Jika kita ibaratkan, agama
Hindu itu seperti pohon besar yang memiliki cabang yang sangat banyak yang melambangkan berbagai
pemikiran keagamaan.
Namun itu tidak menyurutkan niat penulis untuk membuat makalah ini. Dan untuk
mempermudah dalam pemahaman, penulis berusaha menunjukan garis-garis besar yang
menghubungkan berbagai gejala dan aliran itu yang satu dengan yang lain .
II. Asal Usul Agama Hindu
Agama Hindu yaitu agama yang tertua di dunia. Di India, agama Hindu sering disebut dengan
nama Sanatana Dharma yang berarti agama yang kekal, atau Waidika Dharma, yang berarti agama yang
berdasar kitab suci Weda.[1]
Nama Hindu yang sekarang lazim dikenal dan telah dipergunakan secara umum di seluruh dunia,
merupakan nama asing karena nama itu diberikan oleh orang yang bukan Hindu.[2] Nama India
dijelaskan dari nama sungai Sindbu, yang mengairi daerah barat India. Bangsa Persia menyebut sungai
itu sungai Hindu. Kemudian nama ini diambil alih oleh orang Yunani, sehingga nama itulah yang terkenal
di dunia barat.
III. Sejarah India Kuno
Agama Hindu yaitu agama agama pokok yang dianut di kawasan India. Agama ini banyak
didasarkan pada beberapa naskah suci yang ada. Tidak seperti agama-agama lain, dalam agama Hindu
tidak dapat diketahui secara pasti siapa pembawa pertama ajaran-ajarannya. Ini merupakan salah satu
kesulitan dalam mempelajari agama Hindu.
Sejarah kebudayaan India dimulai pada zaman perkembangan kebudayaan-kebudayaan yang
besar di Mesopotamia dan Mesir. Antara 3000 dan 2000 tahun sebelum Masehi, rupa-rupanya di
lembah sungai Sindhu (Indus) tinggallah bangsa-bangsa yang peradabannya menyerupai kebudayaan
bangsa Sumeri didaerah sungai Eftar dan Tigris. Berbagai cap daripada gading dan tembikar yang ada
tanda-tanda tulisan dan lukisan-lukisan binatang, menceritakan kepada kita adanya persesuaian di
dalam peradaban tersebut. Sudah pasti, bahwa di dalam zaman itu di sepanjang pantai dari laut tengah
sampai keteluk benggala ada sejenis peradaban yang sama dan yang sudah meningkat pada
perkembangan yang tinggi. Sisa-sisa kebudayaan tersebutterutama ada di dekat kota Harappa di
Punjab dan di sebelah utara Karachi. Bahkan di situ diketemukan sisa-sisa sebuah kota Mohenjodaro, di
mana ternyata orang telah mempunyai rumah-rumah yang berdinding tebal dan bertangga.[4]
Menurut para sarjana, agama Hindu terbentuk dari campuran antara agama India asli (bangsa
Dravida) dengan agama atau kepercayaan bangsa Arya.
Peradaban Lembah Sungai Indus
Peradaban India kuno dikenal sebagai peradaban Lembah sungai
Indus. Luas geografi wilayah peradaban ini meliputi 1,25 juta km atau
seluas Pakistan sekarang. Dua kota yang sangat terkenal ini
yaitu Mohenjodaro di wilayah Pakistan Selatan sekarang dan Harappa di
daerah Punjab.
Kemakmuran peradaban Lembah Sungai Indus sangat bergantung
pada intensifikasi pengelolaah lahan pertanian di sepanjang lembah. Di
kawasan ini, petani mengembangkan budaya agraris. Dari hasil itu, mereka
mampu menghasilkan gandum, sayuran, dan kapas. Petani juga beternak
sapi, kerbau, dan babi.
Peradaban sungai Indus berkembang selama kurang lebih seribu
tahun. Namun,peradaban tersebut tampak muncul secara singkat dalam
sejarah peradaban umat manusia karena mengalami kehancuran.[5]
Peradaban Mohenjodaro dan Harappa
Dalam mempelajari peradaban dunia nama Indus lebih jauh lebih
popular. Hal itu berhubungan dengan adanyapenemuan besar pada apabd
ke 20 oleh jawaran Pemeriksaan kebudayaan kuno di India. Ketika itu
mereka sedang melakukan penggalian tanah di sebuah kampong bernama
Mohenjo-Daro dan Harappa yang berada ditepi lembah sungai Indus.
Penggalian itu menghasilkan barang-barang berharga, antara lain
perabot rumah tangga, lempengan-lempengan tanah yang berhiaskan
gambar binatang dan pohon beringin, serta sisi-sisi bangunan gedung
maupun sisi-sisi benteng. Bangunan tersebut paling banyak ditemukan di
kampong Mohenjo-Daro. Oleh karena itu para ahli memperkirakan bahwa
masyarakat yang tinggal di sungai Indus sudah mempunyai
peradaban[6] yang tinggi. Adanya perabot rumah tangga menandakan
bahwa mereka sudah hidup bermasyarakat dan mempunyai kemampuan
mengelola dan menyajikan makananseperti layaknya manusia sekarang.
Invansi Bangsa Arya
Banyak ahli sejarah menduga bahwa peradaban Mohenjodaro dan
Harappa runtuh akibat serbuan bangsa Arya. Pengetahuan mengenai awal
bangsa Arya diperoleh dari kitab Regweda, yang merupakan kitab tertua
dan paling suci bagi umat Hindu. Kitab tersebut berisi beberapa informasi
sejarah mengenai bangsa Arya dan suku-suku asli bangsa India.[7]
Bangsa Arya diperkirakan masuk di India antara 2000 dan 1000 tahun sebelum Masehi masuklah
ke India dari sebelah utara. Kaum Arya, yang memisahkan diri dari kaum sabangsanya di Iran dan yang
memasuki India melalui jurang-jurang di pegunungan Hindu Kush.
Bangsa Arya itu, yang termasuk induk bangsa Indo-Eropa, mula-mula yaitu bangsa
pengembara. Dari tempat mereka terakhir didaerah Asia pusat sebagaian dari mereka memasuki dan
menetap di dataran tinggi Iran, dan sebagian lagi di Punjab (5 sungai). Di sepanjang sungai Sindhu
ada suatu peradaban bangsa Dravida yang sudah tinggi sekali tingkatnya. Peradaban iti berpusat di
kota-kota yang diperkuat. Dengan benteng-benteng.
Setelah datang di India mereka menentap di dataran sungai Sindhu yang pada zaman itu masih
subur, jadi di daerah itu mereka telah menjumpai suatu peradaban tua. Di dalam beberapa hal mereka
sangan berbeda dengan bangsa Dravida. Kemudian mereka lebih jauh memasuki India sampai di tepi
sungai Gangga dan sampai di sebelah selatan. Tetapi di situ mereka makin bercampur dengan bangsa
Dravida dan dengan demikianlah terwujudlah akhirnya suatu kesatuan. Berkat peleburan kebudayaan
Dravida yang tua itu dengan kebudayaaan Arya terjadilah kemudian kebudayaan India. [8]
Jadi dapatlah dikonstatir dengan jelas, bahwa agama Hindu sebagai agama tumbuh dari dua
buah sumber yang berlainan, tumbuh dari perasaan dan pikiran keagamaan dua bangsa yang belainan,
yang mula-mula dalam banyak hal sangat berlainan, tetapi kemudian lebur jadi satu.
Bangsa Arya datang dengan membawa bahasa Sansekerta. Mereka juga memperkenalkan
system kasta, yang menempatkan orang-orang ke dalam bermacam-macam kasta atau warna
berdasar kedudukan.
Ringkasan materi SMA SEJARAH – Peradaban Kuno Asia–India
(4000-3000 SM) peradaban di sungai Indus berdiri dengan kota utama yaitu Mohenjodaro.
1500 SM) orang-orang Aria menghancurkan pera-daban sungai Indus. Terjadi perang saudara antara
ras Arya dan Dravida. Percampuran perkawinan antara orang Dravida dan Arya melahirkan
ajaran Hindu.
(500 SM) Masyarakat India terbagi menjadi empat kasta:
1. Brahmana: pendeta
2. Ksatria: raja, bangsawan, prajurit.
3. Waisya: petani, pedagang, pengrajin, dan peternak.
4. Sudra: pekerja kasar dan budak.
Kitab Weda:
1. Regweda (syair-syair pujian untuk dewa)
2. Samaweda (syair nyanyian untuk dewa)
3. Yajurweda (doa untuk pengantar sesaji untuk dewa)
4. Atharweda (mantra-mantra untuk sihir dan ilmu ghaib)
Ajaran Trimurti:
1. Dewa Brahmana: pencipta alam
2. Dewa Wisnu: pemelihara alam
3. Dewa Syiwa: perusak alam
1. Karma: balasan dari perbuatan baik dan buruk.
2. Reinkarnasi: penjelmaan kembali ke kehidup-an manusia sesuai dengan karmanya.
3. Moksa: bebas dari reinkarnasi dan masuk ke dalam Nirwana.
(563-483 SM) Seorang filosof bernama Sidharta Gautama mengajarkan agama Budha di India.
Munculnya Agama Budha
(563 SM) Sidharta Gautama lahir di Taman Lumbini, Kerajaan Syaka, India.
(528 SM) Pada bulan Waisak, Budha mendapat ilham setelah bersemedi di bawah pohon bodhi di desa
Gaya. Kemudian Budha memberikan wejangan di desa Sarnath, Benares India.
- (483 SM) Budha wafat kemudian ajarannya ter-sebar.
- (65 M) Agama Budha tersebar ke Cina.
- (538 M) Agama Budha masuk ke Jepang.
Empat Inti Ajaran Kebenaran Budha (Catur Aryasatyani)
1. Penderitaan lebih hebat daripada kebahagiaan.
2. Penderitaan timbul karena hasrat untuk hidup.
3. Dengan usaha, penderitaan dapat terhapus.
4. Cara menghilangkan penderitaan melalui “Delapan Jalan Utama” (Astavida).
Delapan Jalan Utama:
• berpikir baik,
• berniat baik,
• berkata baik,
• bertingkah laku baik,
• makan-minum baik,
• berusaha yang baik,
• perhatian yang baik, dan
• semedi yang baik.
- Kitab Tripitaka (Tiga Keranjang):
1. Winayapitaka: peraturan hukum yang menentukan cara hidup para pemeluknya.
2. Sutrantapitaka: wejangan Sang Budha.
3. Abdhidarmapitaka: penjelasan mengenai keagamaan.
- (326 SM) Alexander Agung menguasai India.
- (321 SM) Chandragupta mendirikan kerajaan Maurya yang bercorak Budha.
- (232 SM) Cucu Chandragupta yaitu Ashoka mem-bawa Maurya pada puncak kejayaan dan ajaran
agama Budha. Setelah meninggalnya Ashoka, kera-jaan Maurya mengalami keruntuhan.
- (100-510) Budha Sansekerta berkembang di India.
Sejarah Perkembangan Agama Hindu Di India. Agama merupakan aliran yang
dianut oleh para umat manusia tentang kepercayaan akan adanya Tuhan. Di dunia
banyak sekali ada aliran aliran yang berkembang di masyarakat. Ada yang percaya
dengan adanya Tuhan, ada pula yang tidak. Akan tetapi, suatu aliran yang mengajarkan
umatnya untuk tidak percaya dengan Tuhan, apalagi mengajarkan hal hal yang bersifat
negatif, agama tersebut pasti akan di bubarkan oleh pemerintah (kalau di Indonesia).
Di Indonesia, telah di catat dalam undang undang atau secara resmi, agama yang ada
di Indonesia ada 5 yaitu Hindhu, Islam, Kristen, Katolik dan Budha. Bagi yang beragama
Hindhu seperti saya, tahu gak sih, bagaimana sejarah awal berkembangnya agama
hindhu?.
Agama Hindhu pertama kali muncul, tumbuh dan berkembang di India atas
bercampurnya 2 kebudayaan. Yaitu dari Bangsa Arya (dari Eropa Timur) dengan
penduduk asli India (Bangsa Dravida. Sehingga menghasilkan sebuah kebudayaan yang
bernama Hindhu. Setelah muncul Agama Hindhu di lembah sungai Sindhu, Agama
Hindu pun mulai berkembang. Selanjutnya silahkan baca di bawah ini.
PERKEMBANGAN AGAMA HINDU DI INDIA
Menurut catatan, perkembangan Agama Hindu Di India berlangsung dalam
kurun waktu yang sangat panjang. Menurut pola pemikiran yang
disampaikan oleh “Govinda Das Hinduism Madras”, fase fase proses
perkembangan tersebut dibagi menjadi Zaman Veda, Zaman Brahmana
dan Zaman Upanisad.
1. Zaman Veda
Zaman Veda diperkirakan berlangsung dari tahun 1500 SM sampai dengan
tahun 600 SM. Pada zaman inilah wahyu dari Tuhan Yang Maha Esa diterima
oleh para maharsi yang disusun dan membentuk Kitab Suci Veda. Penjelasan
tersebut diambil dari kitab Nirukta buah karya Maharsi Sayana. Dalam tradisi
Hindu, Maharsi yang amat populer dan sangat besar jasanya dalam
menghimpun kitab suci Veda dikenal dengan sebutan Kresna Dwipayana
Vyasa. Maharsi Vyasa dibantu oleh 4 orang siswanya yang juga maharsi.
Selain menghimpun kitab Catur Veda Samhita, Maharsi Vyasa juga berjasa
menyusun kitab Purana, Mahabratha, Bhagavadgitha dan kitab Brahmasutra.
Pada Zaman Veda, pemujaan dipusatkan kepada para dewa yang diyakini
sebagai suatu kekuatan yang nyata dan berpribadi. Persembahan yang
dilakukan pada masa ini dengan melantunkan nyanyian nyanian suci yang
sangat indah disertai dengan menghaturkan sajian yang dipersembahakan
kepada-Nya. Tujuannya untuk memohon waranugraha dari para dewa agar
hidup seseorang selamat, sejahtera lahir dan batin. Pada masa Zaman Veda
juga mengenal keberadaannya hukum alam yang disebut Rta. Rta itulah
yang mengatur segalanya yang ada di alam semesta.
Mitologi dewa pada zaman Veda menampilkan beberapa cerita mengenai
dewa dewa yang dipandang populer. Adanya uraian tentang mitologi dewa
dewa itu diharapkan akan dapat memperjelas pengetahuan tentang ajaran
Ketuhanan. Dewa dewa yang dimaksud antara lain:
A. Dewa Agni
Dalam Kitab Veda, sangat banyak dijumpai pemujaan terhadap Dewa Agni
terutama dalam Reg Veda. Penampilannya yang selalu dihubungkan dengan
upacara api karena sesuai dengan wujudnya digambarkan berambut nyala
api, berdagu tajam, bergigi emas dan kepalanya selalu bersinar. Dalam Kitab
Mahabratha, Dewa Agni diceritakan sebagai dewa yang membakar hutan
Kandhawa dan dalam Kitab Ramayana diceritakan Dewa Agni
mengawini Svaha dan mempunyai tiga orang putra yaitu Pavaka, Pavamana
dan Suchi.
Dewa Agni dipandang sebagai dewa yang amat dermawan kepada para
pemuja-Nya dan memberkahi mereka dengan bermacam macam karunia
misalkan kebahagiaan dalam rumah tangga. Di dalam Kitab Veda terdapat
mantra yang diucapkan untuk memuliakan Dewa Agni yang mempunyai
terjemahan "Atas karunia Agni setiap hari, dunia kiri mendapatkan
kemakmuran yang menyebabkan adanya kekuatan, jasa dan kepahlawanan
yang mulia.
B. Dewa Indra
Keberadaan Dewa Indra dalam kitab suci Veda adalah yang paling dominan.
Disebutkan hampir sekitar 250 mantra mengagungkan Dewa Indra dalam
Veda. Pada zaman purana, posisinya lebih menonjol sebagai dewa
Kahyangan (surga). Ia menjadi saksi agung setiap perbuatan manusia karena
Ia memiliki seribu mata (Sahasraksa).
Dewa Indra dikenal sebagai Dewa Perang yang mengalahkan tiga benteng
musuh dalam masa itu. Kendaraan Dewa Indra adalah Gajah Airavata dan
istrinya bernamaSachi atau Indrani.
C. Dewa Rudra
Dewa Rudra diidentikkan dengan Dewa Siva (Siva Rudra). Dewa Rudra
digambarkan sebagai laki laki bertubuh besar, perutnya berwarna biru dan
punggungnya berwarna merah. Kepala-Nya berwarna biru dan lehernya
berwarna putih serta memiliki kulit yang coklat kemerah merahan.
Rambutnya panjang terurai dan seluruh tubuhnya memancarkan cahaya
keemasan.
Dari karakternya tampak angker dan menakutkan, namun hatinya lembut
dan maha pengasih. Ia menjadi dukunnya pada dukun dengan berjenis jenis
pengobatan yang dimilikinya. Oleh karena itu, ia diberi julukan Jalasa
Bhesaya.
D. Dewa Varuna
Dewa Varuna digambarkan sebagai laki laki berwajah rupawan berwarna
putih yang mengendarai monster laut yang bernama Makara (Gajahmina)
yang berupa binatang laut campuran antara kitang dan ikan. Dewa Varuna
merupakan dewa yang menguasai hukum alam semesta atau Rta. Istri Dewa
Varuna bernama Dewi Varuni yang tinggal di Istana mutiara.
2. Zaman Brahmana
Zaman Brahmana ditandai dengan munculnya Kitab Brahmana yang berisi
peraturan peraturan keagamaan. Pokok pembicaraan dalam zaman ini
adalah tentang upacara yadnya meliputi arti yadnya, persyaratan yadnya
dan kekuatan gaib yang ada dalam upacara itu. Unsur unsur upacara dalam
kitab Veda dikembangkan secara meluas di Kitab Brahmana. Apabila dalam
kitab Veda upacara keagamaan dilakukan dengan tujuan memohon
waranugraha dari para dewa, sedangkan di kitab Brahmana, para dewata
memiliki kedudukan yang amat penting terutama dalam sistem upacara.
Adanya kehidupan masyarakat yang bersifat ritualis pada zaman Brahmana
itu merupakan dasar untuk menuju pada tingkat kehidupan spiritual
berikutnya berupa karma dan jnana. Dengan demikian, pelaksanaan upacara
karma dan jnana dapat berjalan sebagaimana mestinya pada zaman itu.
Diperkirakan perkembangan agama Hindu pada zaman Brahmana telah
sampai India bagian tengah yaitu di dataran tinggi Dekan di lembah sungai
Yamuna. Diperkirakan disinilah tempat ditulisnya peraturan peraturan
mengenai tuntunan upacara dan tata susila.
3. Zaman Upanisad
Sejalan dengan perkembangan waktu, agama Hindu pun terus berkembang
dari dataran tinggi Dekan hingga ke lembah sungai Gangga yang
penduduknya bermata pencaharian sebagai pedagang. Dalam beragama,
mereka lebih menekankan hal hal yang bersifat filosofis dari pada
pelaksanaan upacara. Kemudian muncullah diskusi antara para guru atau
maharsi dengan para siswanya, dan diskusi tersebut mengakibatkan
berkembangnya filsafat Hindu yang lebih menekankan aspek jnana. Para
maharsi tersebut memberikan berbagai ilmu pengetahuan tentang pedoman
ajaran kitab suci Veda.
Di zaman Upanisad muncul lagi kitab Upanisad yang merupakan bagian
dari jnana kanda dari kitab Veda Sruti yang isinya bersifat ilmiah, spekulatif,
tetapi tetap dalam ruang lingkup keagamaan. Pada masa ini pula sistem
hidup kerohanian masyarakat tumbuh dan berkembang dengan pesat. Hal ini
dibuktikan dengan berkembangnya berbagai macam aliran filsafat
keagamaan













