Juli 16, 2026

Stephen Hawking 1

 




STEPHEN HAWKING sering disamakan dengan Dr. 

Strangelove, tokoh menyeramkan dalam film 

klasik Kubrick. Dan memang ada lebih dari sekadar 

beberapa kemiripan luar. Hawking tentu saja bukan 

seorang Nazi. Namun semua orangyang pernahbekerja 

bersamanya bicara tentang adanya energi intelektual 

yang tertekan. Dr. Strangelove yaitu  parodi atas suatu 

kehendak yang kuat — namun dari varietas yang cukup 

kompleks, berwawasan jauh, dan sangat berkaitan de­

ngan kemampuan otak. Namun dia juga seorang manu-

sia, yang memiliki perasaan dan kelemahan-kelemahan 

— dan cacat yang dialaminya sama sekali tidak ber-

pengaruh. Hawking selalu bersikeras bahwa dia juga 

hams dianggap sebagai manusia normal, dan tindakan-

tindakannya sepenuhnya membenarkan pandangan ini. 

Dalam film di atas, kita tidak pernah melihat kantor 

Dr. Strangelove. Dan apabila kantor ini  perlu

di tunjukkan, mungkin kan tor Dr. Hawking di 

Cambridge merupakan pilihan yang ideal — dengan 

suasana yang sunyi dan hanya terdengar suara saklar-

saklar kecil yang digerakkan oleh seorang yang duduk 

di atas kursi roda. Di sekelilingnya terdapat beberapa 

layar komputer, cermin, dan sebuah poster Marilyn 

Monroe berukuran besar di dinding. 

Pikirannya berkelana jauh ke kedalaman semesta. 

Dan pikiran ini jugalah yang telah menciptakan sejum-

lah gagasan kosmologis paling menarik sepanjang masa. 

Seluruh pandangan kita tentang kosmos mengalami 

perubahan drastis selama era Hawking. Gambaran yang 

diciptakan Hawking dan rekan-rekannya memiliki 

tingkat imajinatif dan keindahan yang setara dengan 

sebuah karya seni agung. Namun juga tidak masuk akal 

seperti layaknya mimpi, serta rumit dan berada jauh 

di luar pemahaman sehari-hari. Hawking menciptakan 

gagasan-gagasan baru dan sensasional tentang Black 

Holes (Lubang Hitam), dan "teori tentang segala 

sesuatu", serta asal-usul semesta. 

Namun semua ini dipertanyakan oleh beberapa 

pihak. Kosmologi yaitu  ilmu tentang semesta — 

namun apakah kosmologi benar-benar merupakan ilmu 

pengetahuan? Dengan semua perhitungan matematika 

yang sangat rumit dan sebagian besar tidak bisa di-

buktikan. Apakah kosmologi memang benar-benar ber-

arti atau bermanfaat? Atau mungkin seperti dongeng- 

dongeng, seperti layaknya dongeng tentang dewa-dewa 

Yunani kuno? Prestasi Hawking bisa dilihat sebagai 

tambahan penting bagi pemahaman kita atas hidup ini, 

atau sebagai usaha intelektual yang penuh dengan hingar-

bingar namun tidak menandakan apa-apa. Silakan baca 

terus, dan tentukan sendiri. 

STEPHEN HAWKING lahir saat Perang Dunia II tengah 

seru-serunya. Orangtuanya tinggal di Highgate, 

London utara. Suasana malam hanya diisi oleh suara 

burung hantu, sirine serangan udara, kerlip-kerlip 

lampu sorot, dan suara gemuruh bom-bom Jerman. 

Untuk memastikan keselamatan kelahiran anak 

pertama mereka, Frank dan Isobel Hawking memutus-

kan untuk sementara pindah ke Oxford beberapa hari 

sebelum Hawking lahir. Tentara Jerman setuju untuk 

tidak membom Oxford dan Cambridge, sebab  kedua 

tempat ini  memiliki kekayaan arsitektur yang tak 

ternilai; sebagai gantinya, pasukan Sekutu setuju untuk 

tidak membom kota-kota historis Jerman: Heidelberg 

dan Gottingen. Seperti kata Isobel Hawking: "Sayang 

sekali, persetujuan yang beradab seperti ini tidak

diperluas ke tempat-tempat lain." Dia melahirkan anak 

laki-laki di Oxford tanggal 8 Januari 1942, yang 

bertepatan dengan peringatan hari kematian Galileo, 

yang terjadi tepat tiga ratus tahun sebelumnya, yaitu 

tahun 1642. Kebetulan yang lainnya, Newton juga 

dilahirkan pada tahun ini . Pertanda astrologis 

semacam ini bagi seorang astronom dianggap sangat 

baik — jika kita mempertimbangkan fakta bahwa 

kedua bidang ini  sama-sama eksklusif. 

Frank dan Isobel Hawking pernah belajar di Oxford. 

Frank yaitu  seorang dokter yang terlibat dalam pene-

litian medis, dan sering ke luar negeri. Sementara di 

lain pihak, karier Isobel secara perlahan surut sebab  

tidak adanya kesempatan — dimulai dari pekerjaan 

sebagai petugas pajak, lalu menjadi sekretaris di se-

jumlah tempat. Beberapa tahun kemudian Maggie 

Thatcher mengambil alih Oxford University Conser­

vative Association. Selama perang, kaum wanita dipe-

kerjakan dalam urusan pemerintah. Yang lain melarikan 

diri dan bekerja di perkebunan, atau merasakan "ke-

bebasan" dengan bekerja di pabrik-pabrik dan melaku-

kan pekerjaan kaum pria. 

Saat bertemu Frank Hawking yang baru saja pulang 

dari tugas penelitian medis di Afrika, Isobel bekerja 

sebagai sekretaris. Mereka lalu menikah, dan selanjut-

nya memiliki empat anak. Isobel masih tetap seperti 

KEHIDUPAN DAN KARYANYA 

dulu, dan tujuan dalam hidupnya yaitu  untuk mem-

berikan pengaruh formatif pada anak-anaknya. 

Namun demikian, kehidupan Isobel masih belum 

terpenuhi. Dia menemukan salah satu penyaluran dalam 

idealisme. Dia pada awalnya yaitu  orang yang percaya 

pada komunisme, namun kemudian memperlunak 

pendiriannya, tapi tetap berkomitmen pada pandangan 

sosialis. Selanjutnya, dia ikut serta dalam kampanye 

perlucutan senjata nuklir dengan melakukan long march 

dari Aldermaston sampai London, di mana saat itu 

usaha untuk menyelamatkan manusia dari bencana 

nuklir dianggap merupakan suatu kegiatan yang sangat 

antisosial. 

Tahun 1950 keluarga Hawking pindah ke St. Albans, 

tiga puluh mil utara London, sebuah kota katedral 

yang menyenangkan (atau mungkin juga bisa dianggap 

sebuah kota terpencil yang menyeramkan). Di kota 

itu, Frank menjadi kepala divisi parasitologi di National 

Institute for Medical Research. Keluarga Hawking 

terus mempertahankan kehidupan intelektual ortodoks, 

yang selanjutnya oleh orang-orang lain dianggap sangat 

eksentrik. Rumah mereka penuh dengan buku; pera-

botan rumah tangga dipilih yang benar-benar nyaman 

digunakan, bukan digunakan untuk menunjukkan 

status; gorden tidak pernah dicuci dan kadang bahkan 

tidak ditutup saat malam hari. Dan beberapa orang 

tetangga mereka memperhatikan bahwa keluarga 

ini  mendengarkan Third Programme (acara drama 

dan musik klasik yang disiarkan khusus bagi kaum 

awam di pembuangan). Di waktu senggang, Frank bah-

kan menulis beberapa novel (yang tidak pernah dipubli-

kasikan, dan diejek oleh istrinya sebagai hasil bualan 

belaka). Dan tokoh idola Stephen muda yaitu  Bertrand 

Russell dan Gandhi, bukan bintang olah raga atau 

bintang film. 

Di musim panas, keluarga Hawking berlibur dengan 

mengendarai mobil (bekas taksi London) sambil 

membawa trailer mereka. Trailer ini biasanya diparkir 

di lapangan Osmington di Dorset, dekat Ringstead 

Bay. (Tidak perlu dikatakan bahwa trailer mereka juga 

bukan trailer biasa: sebuah trailer Gypsy kuno, dengan 

cat ala Gypsy yang mencolok). Keluarga Hawking 

bukan termasuk keluarga kaya, tapi juga tidak miskin. 

Demikian juga, mereka terlihat tidak lebih bahagia 

atau lebih sengsara dibandingkan sebagian besar ke­

luarga kelas menengah di masa itu. 

Dari keluarga "rata-rata" ini, terlahir seorang anak 

yang juga "rata-rata". Saat berumur sepuluh tahun, 

Stephen disekolahkan di sekolah terbaik: St. Albans 

School, dengan SPP sebesar lebih dari lima puluh 

pound per semester, atau sekitar seratus lima puluh 

dollar. Stephen yaitu  seorang siswa bertubuh kecil, 

kikuk, dan secara fisik tak terkoordinasi: jenis siswa 

yang sangat mudah dikenali di antara berbagai siswa 

lain di sekolah ini . 

Selanjutnya Stephen mulai tertarik dengan kegiatan 

laboratorium, dan bahkan memiliki laboratorium sen-

diri di rumahnya. Kamarnya penuh dengan tabung uji, 

sisa-sisa berbagai macam eksperimen, serta berbagai 

petunjuk sederhana cara membuat bubuk mesiu, racun 

sianida, dan gas air mata. 

Secara bertahap mulai terlihat jelas bahwa Stephen 

cukup cerdas, namun apa yang dimilikinya tidak di-

dukung oleh standar-standar akademik di sekolahnya 

yang terbilang cukup bergengsi. Dia tidak pernah 

belajar secara serius namun tetap memperoleh nilai 

yang baik di sekolah, meskipun tidak pernah menjadi 

juara. Otaknya tajam, namun bicaranya terlalu cepat 

untuk bisa dipahami. Di rumah, saat berada di "sarang-

nya" bersama beberapa teman sekolahnya, dia men-

ciptakan beberapa permainan. Namun permainan-

permainan ini jarang ada yang bisa diselesaikan dalam 

waktu lima jam, dan bahkan kadang memerlukan waktu 

selama seminggu penuh. Dan tidaklah mengejutkan 

bila teman-temannya cepat bosan dan akhirnya dia ber-

main sendirian, melawan dirinya sendiri. Baik teman-

temannya ataupun keluarganya tercengang oleh ke-

mampuannya dalam memikirkan beberapa  permasa-

lahan yang sangat rumit, yang kadang berlangsung 

selama berjam-jam, sampai akhirnya dia mampu 

memecahkannya. Menurut sang ibu: "Permainan itu 

hampir menjadi pengganti hidupnya." 

Stephen terlihat menikmati hidup dalam dunia yang 

tertata secara teoretis, dan selalu berusaha menantang 

struktur dunia ini  sampai batasnya. Dia mungkin 

tidak terlihat seperti seorang anak yang tidak bahagia, 

namun yang pasti dia bukan anak biasa. Fokus mental-

nya sangat abstrak, dan kelihatannya didorong oleh 

sesuatu yang lebih kuat dari sekadar kecenderungan 

alami. 

Juara kelas di sekolah Stephen, temannya bernama 

Michael, menganggapnya sebagai seorang "jenius kecil 

yang aneh". Suatu hari, saat berada di laboratorium 

Stephen, mereka mulai berbicara tentang "hidup dan 

filsafat". 

Michael mengatakan bahwa Stephen sangat tertarik 

dengan filsafat, namun saat percakapan mereka ber-

langsung, dia menyadari bahwa Stephen secara sengaja 

mendorongnya untuk mempermainkan dirinya sendiri. 

Itu merupakan saat-saat yang sangat membingungkan 

bagi Michael, yang tiba-tiba merasa dirinya tengah 

dilihat oleh seorang pengamat. "Saat itu aku menyadari 

untuk yang pertama kalinya bahwa dia tidak hanya 

cerdas, tidak hanya pintar, namun luar biasa." Dia juga 

menyadari tentang "adanya semacam arogansi, jika bisa 

dikatakan demikian, semacam gagasan tentang apa yang 

disebut sebagai dunia." Jenius kecil yang aneh itu 

tampaknya telah menghabiskan waktu cukup lama 

untuk memikirkan segala sesuatu: berusaha mencari 

arti tentang dunia. 

Itulah tugas yang sesungguhnya dari filsafat: kosmologi. 

Kata Yunani kuno untuk semesta yaitu  kosmos, yang 

juga berarti "tatanan". Kata "kosmetik" juga berasal 

dari akar kata yang sama. Bagi orang-orang Yunani kuno, 

tatanan dunia merupakan sesuatu yang dianggap indah. 

Namun sekarang, kosmologi melepaskan aspek-aspek 

filsafat ini , dan membatasi diri pada usaha untuk 

mempelajari struktur semesta. Tapi penemuan tatanan 

dalam semesta yang maha luas ini masih mampu men-

ciptakan suatu kekaguman akan keindahan dan filsafat. 

Hal ini bisa terjadi khususnya pada pikiran para remaja 

yang sering merenung dan tertarik pada masalah 

abstraksi serta ingin memikirkan segala sesuatu sampai 

ke akarnya. 

Bakat tersembunyi Hawking memerlukan sebuah 

"pemicu" untuk bisa berkembang. Ini terjadi saat dia 

berumur enam belas tahun, saat dia belajar untuk meng-

hadapi ujian masuk sekolah lanjutan. Tahun 1958, ayah 

Stephen memperoleh tugas penelitian di India. 

Keluarga ini  memutuskan untuk melakukan 

petualangan dengan mengendarai mobil ke India 

(sebuah pengalaman yang cukup berani untuk masa 

itu). Namun tidak seluruh anggota keluarga ikut. 

Stephen hams tinggal sebab  hams mempersiapkan 

diri menghadapi ujian masuk sekolah lanjutan, dan 

dititipkan ke tetangga mereka, keluarga Humphrey. 

Sikap yang ditunjukkan Ny Hawking sangat khas 

"Inggris". "Dia senang tinggal dengan keluarga 

Humphrey dan kami juga senang sekali di India." Dan 

memang begitulah kelihatannya. Meskipun ada bebe-

rapa orang yang menceritakan tentang Stephen yang 

dianggap agak aneh. Misalnya cerita tentang saat ke­

luarga Humphrey kehilangan kereta dorong yangberisi 

barang-barang tembikar. Ny. Humphrey mengatakan: 

"Semua orang tertawa, namun sesudah  beberapa saat, 

Stephen tertawa paling keras." 

Apa pun pengaruh lain dari peristiwa ditinggalkan 

keluarga, namun peristiwa ini  sudah cukup untuk 

"menghidupkan" bakat intelektual Hawking. Ayahnya 

sebetulnya ingin dia belajar biologi, dengan tujuan agar 

dia bisa menjadi dokter seperti dirinya. Namun Stephen 

lebih tertarik dengan matematika, dan memang dia 

yang terbaik dalam matematika — walaupun ayahnya 

menganggap matematika sebagai jalan buntu, di mana 

tidak ada pekerjaan lain bagi ahli matematika selain 

menjadi gum. Akhirnya mereka berkompromi: Stephen 

belajar matematika, fisika, serta kimia di sekolah 

lanjutan, dan selanjutnya memperoleh kesempatan 

untuk mengikuti ujian masuk Oxford di tahun beri-

kutnya. Yang mengejutkan, Stephen mampu menger-

jakan ujian ini  dengan sangat baik dan langsung 

memperoleh beasiswa. 

Pada usia tujuh belas tahun, Stephen Hawking 

masuk University College, Oxford, fakultas ilmu 

pengetahuan alam, jurusan fisika. Namun dia sama 

sekali tidak melupakan matematika. Sebaliknya, dia 

menganggap bahwa matematika yaitu  satu-satunya 

kunci dalam memahami semesta. Dan kosmos masih 

tetap menjadi perhatian utamanya. 

Sebagian besar mahasiswa bam seangkatan Stephen 

usianya rata-rata satu setengah tahun di atas Stephen, 

sementara yang lainnya ada yang sampai tiga tahun 

lebih tua, sesudah  menyelesaikan wajib militer selama 

dua tahun. Mahasiswa kurus berkacamata ini merasa 

canggung dan tidak punya tempat. Dia menghabiskan 

sebagian besar masa kuliah tahun pertama di kamarnya 

— bukan belajar tapi hanya merasa bosan dan bertanya-

tanya bagaimana caranya agar bisa diterima oleh 

mahasiswa lain. Dia bahkan masih terlalu muda untuk 

diizinkan pergi ke pub. Di malam hari dia suka minum 

bir sambil membaca berbagai buku fiksi ilmiah. Ke-

giatan ini memperkenalkannya pada berbagai pandangan 

merupakan keyakinan diri yang dibentuk oleh suatu 

kehendak yang kuat. 

Namun fokus dari kehendak ini masih sempit. 

I lawking tidak banyak memperoleh perkembangan 

dari kuliahnya, dan masih tetap belajar maksimal satu 

jam dalam satu hari. Namun demikian, dosen fisikanya, 

Dr. Robert Berman pernah mengatakan: "Dia yaitu  

mahasiswa paling cerdas yang pernah saya temui." Serta 

menambahkan: "Saya tidak merasa cukup sombong 

untuk berpikir bahwa saya pernah mengajarinya 

sesuatu." Komentar-komentar semacam ini mungkin 

pernah ada sebelumnya. Namun hampir tidak ada 

keraguan bahwa Hawking dianggap sebagai mahasiswa 

yang luar biasa, hanya sebab  dia muncul dan 

menentang hukum kekekalan energi (jumlah yang anda 

peroleh tidak bisa lebih besar dari jumlah daya yang 

anda berikan). 

Hawking memang penuh percaya diri—baik secara 

sosial ataupun intelektual. Dia menganggap tidak ada 

gunanya menyembunyikan kemampuan mentalnya yang 

luar biasa: Arogansi semacam ini hanya menambah 

pujian pada dirinya. Meskipun dia malas-malasan ku­

liah, namun dia tetap memutuskan untuk melanjutkan 

studi, dan memilih program pasca-sarjana bidang 

kosmologi. Lalu dia mendaftar di Cambridge untuk 

"berguru" pada Hoyle, pakar kosmologi terkemuka 

yang imajinatif, lucu, dan bahkan membingungkan 

tentang semesta, namun jarang ada yang mampu 

menstimulasi minat akademiknya. Sudan terbilang 

bagus jika dia menghabiskan waktu selama satu jam 

dalam sehari untuk belajar. 

Minat Hawking terfokus pada dunia yang lebih luas 

di sekitarnya, dan ini dipelajarinya dengan tekun, di 

mana hampir tiap malam dia melakukan observasi. Dia 

tidak mampu menghindari rasa ingin tahunya akan sifat-

sifat dunia ini , serta cara kerja dan berbagai ke-

mungkinan yang menakjubkan. Menjelang awal tahun 

kuliah kedua, dia telah siap memasuki dunia ini. 

Rambutnya dibiarkan tumbuh sangat panjang (untuk 

ukuran tahun 1950-an), berusaha lebih lucu; dan tampil 

lebih gaya. Si "bebekburuk rupa" ini mulai memasuki 

dunianya, tampil dalam berbagai pesta, dengan ke-

yakinan diri yang tinggi. Dia bahkan ikut klub dayung 

dan menjadi pengemudi sekoci. 

Saat Hawking memutuskan untuk melakukan se-

suatu, dia akan melakukannya dengan sungguh-sungguh. 

Sekali lagi, dia tampaknya menunjukkan "semacam 

arogansi... semacam perasaan yang sangat kuat tentang 

apa yang dianggap sebagai dunia" — seperti yang 

dirasakan Michael, yang dalam hal ini menunjukkan 

ada sesuatu yang luar biasa dalam karakternya. Namun 

itu bukanlah "arogansi yang berlebihan", tapi lebih 

kan sebagai pengawasnya. Kebanggaan-diri Hawking 

hancur: ini yaitu  penghinaan yang tidak akan pernah 

dilupakannya. Di Cambridge, Hawking tidak lagi 

menjadi bintang. Cambridge memiliki bintang-bintang 

sejati lain, dan sudah biasa menjadi tempat dilang-

sungkannya peristiwa-peristiwa ilmiah besar. Crick dan 

Watson menemukan struktur DNA di Cavendish 

Laboratory di Cambridge, dan mereka memperoleh 

hadiah Nobel dalam waktu beberapa minggu sesudah  

kedatangan Hawking. Pada saat yang sama, Kendrew 

dan Perutz, juga dari Cavendish (dan masih di sana), 

memperoleh Nobel untuk bidang kimia. Bahkan di 

Fakultas Matematika Terapan dan Fisika Teoretis 

(Department of Applied Mathematics and Theoretical 

Physics/DAMTP), Hawking mulai merasa bahwa 

segala sesuatunya sangat sulit. Satu jam belajar setiap 

hari terbukti tidak cukup, dan kurangnya pemahaman 

matematika yang dimilikinya semakin jelas. 

Namun ini hanya satu bagian kecil dari sebuah 

bencana besar. Saat masih di Oxford, selama tahun 

terakhirnya, Hawking pernah terjatuh dari tangga dan 

kepalanya membentur lantai. Akibatnya dia mengalami 

kehilangan ingatan sementara. Teman-temannya ada 

yang mengatakan bahwa peristiwa itu terjadi sebab  

dia mabuk. Namun itu tidak hanya terjadi satu kali. 

Dan kadang-kadang Hawking kesulitan memasang tali 

sepatu. Dia berusaha berhati-hati saat berjalan di tangga,

saat itu; dan diterima dengan syarat dia lulus peringkat 

pertama. Gampang, tidak masalah. 

Hanya pada saat-saat terakhir keyakinan-diri 

Hawking mengecewakannya. Dia tidak tidur pada 

malam menjelang ujian akhir, dan saat ujian ada 

beberapa pertanyaan yang tidak dijawabnya dengan 

benar. Nilai akhir yang diperolehnya berada di batas 

antara peringkat pertama dan kedua. Dan seperti biasa, 

dalam kasus semacam ini, dia dipanggil wawancara 

untuk menentukan nasibnya. Namun saat itu keyakin-

an-dirinya telah kembali. Saat dia ditanya tentang renca-

nanya, dia menjawab: "Jika say a memperoleh peringkat 

pertama, saya akan ke Cambridge, jika kedua, saya 

akan tetap di Oxford. Namun saya berharap anda akan 

memberi saya peringkat pertama." Menurut Dr. Berman: 

"Mereka cukup cerdas untuk menyadari bahwa mereka 

tengah berbicara dengan seseorang yang jauh lebih 

cerdas dari mereka." Hawking memperoleh peringkat 

pertama, dan pada musim semi 1962, pada usia dua 

puluh tahun, dia tiba di Trinity Hall, Cambridge. 

Kedatangannya di Oxford dianggap sebagai peristiwa 

buruk; tapi di Cambridge bahkan lebih buruk lagi. 

Sebagai awalnya, dia mendapati bahwa Hoyle tidak 

mempedulikannya sama sekali. Asisten Hoyle ditugas- 

ingin menemui spesialis terkemuka di London Clinic. 

Namun Hawking dengan tenang mengatakan padanya: 

" Sebenarnya tidak ada yang bisa kita lakukan. Kurang 

lebihnya begitu." 

Meskipun kata-katanya cukup berani, namun se-

sungguhnya dia sangat terpengaruh. Seorang gadis yang 

ditemuinya di pesta Tahun Baru, beberapa waktu sebe-

lum dia masuk rumah sakit, tampaknya sangat kagum 

pada sikapnya yang tegas. Saat dia bertemu Hawking 

beberapa waktu kemudian, "Keadaannya benar-benar 

menyedihkan. Menurutku dia sudah kehilangan ke-

inginan untuk hidup." Hawking kembali ke Cambridge, 

dan terjebak dalam depresi akut. Selama beberapa bulan 

dia tidak keluar rumah. Hanya suara keras rekaman 

karya-karya Wagner dan botol-botol vodka kosong yang 

keluar dari kamarnya. 

Namun secara bertahap depresi tragis ini  mulai 

hilang. Gadis yang ditemuinya di pesta malam Tahun 

Baru datang untuk mengunjunginya di Cambridge. Saat 

itu gadis ini  baru berusia delapan belas tahun, 

namanya Jane Wilde. Dia sekolah di St. Albans High 

School, dan berencana melanjutkan pendidikan ke 

London University di tahun berikutnya. 

Jane yaitu  seorang pemalu. Saat Hawking pertama 

kali memberitahunya bahwa dia mengambil jurusan 

kosmologi, Jane perlu mencari kamus terlebih dulu 

namun dia kadang tetap merasa kesulitan memasang 

tali sepatu. 

Suatu hari saat pulang ke rumah dari Cambridge, 

di akhir semester pertama, ayahnya memutuskan untuk 

mengajaknya ke rumah sakit untuk diperiksa. Hasilnya 

sungguh di luar dugaan semua orang. Dia didiagnosa 

menderita amyotrophic lateral sclerosis (ALS), atau 

yang lebih dikenal sebagai penyakit Lou Gehrig. 

ALS yaitu  sebuah penyakit degeneratif progresif 

pada sel syaraf di tulang belakang dan otak. Sel-sel ini 

mengendalikan aktivitas otot, dan saat penyakit ini 

semakin berkembang, otot-otot tubuh mengecil se-

hingga menyebabkan seseorang tidak bisa bergerak, 

bahkan berbicara. Tubuh menjadi berada dalam keadaan 

vegetatif, namun otak masih tetap jelas dan berfungsi 

sepenuhnya. Dan proses komunikasi sama sekali tidak 

bisa dilakukan. Penyakit ini biasanya berakhir dengan 

kematian dalam beberapa tahun. Pada tahap-tahap akhir, 

pasien diberi morfin untuk menetralkan pengaruh 

depresi kronis dan teror. 

Reaksi Hawking persis dengan karakter dan lingkup 

perkembangannya. "Fakta bahwa aku menderita pe­

nyakit yang tidak bisa disembuhkan dan kemungkinan 

besar aku akan mati dalam beberapa tahun memang 

cukup mengejutkan. Bagaimana mungkin ini bisa 

terjadi?" Reaksi ibunya kurang begitu menerima. Dia 

KEHIDUPAN DAN KARYANYA 

memakai  tongkat untuk berjalan. Para dokter 

selanjutnya memperkirakan bahwa harapan hidupnya 

tinggal dua tahun. Saat itu, Hawking merasa tidak ada 

gunanya mulai menulis tesis untuk gelar Ph.D., jika 

dia harus mati sebelum sempat menyelesaikannya. 

Hawking terus bertemu dengan Jane, namun ber-

usaha agar segala sesuatu yang sentimental tidak masuk 

ke dalam hubungan mereka. Dia tidak suka dikasihani, 

dan berusaha untuk tetap mandiri semampu mungkin. 

Dia merasa seperti manusia normal, dan dia ingin 

diperlakukan sebagai manusia normal. Dia menganggap 

Jane sebagai "gadis yang sangat baik", dan Jane sendiri 

diam-diam mengagumi keberaniannya. Dari perasaan 

saling-kagum ini, bukan sentimental, dalam diri mereka 

muncul pemahaman bahwa yang tidak mungkin yaitu  

mungkin. Seperti kata Jane, mereka mulai menyadari 

"bahwa kami bisa melakukan sesuatu yang berguna 

dalam hidup ini." 

Akhirnya mereka bertunangan. Bagi Hawking, inilah 

"yang paling penting". Dia sekarang memiliki sesuatu 

yang layak diperjuangkan. Namun jika dia mau meni-

kah, dia tentu butuh pekerjaan, dan untuk memperoleh 

pekerjaan dia butuh gelar Ph.D. 

Keyakinan-diri Hawking kembali, dan dia mulai 

berpikir tentang permasalahan yang tepat untuk tesis 

Ph.D.-nya. Dia merasa beruntung. Kosmologi tidak 

untuk mengetahui artinya. (Orang jenius memang tidak 

menjelaskan hal-hal semacam ini.) Jane yaitu  seorang 

yang optimistik dan percaya pada Tuhan. Segala sesuatu 

pasti ada tujuannya; dan seburuk apa pun yang kita 

alami, pasti akan ada hikmahnya. Hawking sudah lama 

"meninggalkan" kepercayaannya pada Tuhan, namun 

sikap Jane membuatnya menyadari sesuatu. Dia me-

miliki kemauan yang kuat, dari dulu sudah begitu: 

Dan itulah rahasia keberhasilannya. Mengapa pula harus 

diubah sekarang? 

"Sebelum didiagnosa, aku merasa sangat bosan dalam 

hidup ini," katanya. "Tampaknya tidak ada sesuatu pun 

yang layak dilakukan." Tapi sekarang semuanya berbeda. 

"Aku bermimpi akan dieksekusi," katanya, "lalu tiba-

tiba aku sadar bahwa banyak sekali hal yang bisa aku 

lakukan, jika saja hukuman itu ditangguhkan." Dalam 

hal ini dia secara mental mengalami "penyembuhan". 

Namun secara fisik, kondisinya tidak begitu baik. 

ALS tidak berkembang dalam cara yang biasa. Setiap 

gejala kenaikan biasanya diikuti dengan penurunan, 

semacam proses stabilisasi yang bisa berlangsung dalam 

jangka waktu cukup lama. beberapa  dokter mengatakan 

pada Hawking bahwa penyakitnya tengah memasuki 

salah satu periode "datar" ini; namun ternyata perkiraan 

mereka meleset. Penyakit ini  terus berkembang, 

dan sesudah  beberapa bulan, Hawking terpaksa harus 

Selama bertahun-tahun kosmologi dianggap sebagai 

ilmu-semu, dan secara otomatis juga banyak menarik 

minat para ilmuwan-semu. Gagasan-gagasan besar 

tentang semesta yang didukung dengan berbagai 

pcrhitungan rumit telah berhasil menarik perhatian 

publik (dan juga membingungkan mereka). Gagasan-

gagasan semacam ini layaknya dinosaurus ilmu 

pengetahuan modern: besar, sederhana, dan hampir 

punah. Beberapa pertanyaan tajam diajukan. Para 

ilmuwan lain lebih menyukai ilmu pengetahuan murni, 

yang bisa dibuktikan melalui eksperimen. Orang-orang 

hanya diharapkan menerima dengan penuh kekaguman 

berita-berita terkini tentang alam semesta. Tidak ada 

keberatan yang perlu diajukan. 

Menjelang awal tahun 1960-an, semuanya mulai 

berubah. Penemuan-penemuan besar di awal abad ke-

20 —teori relativitas dan kuantum —telah mengubah 

pandangan kita tentang dunia subatom dan semesta 

raya. Relativitas berarti bahwa ruang yaitu  meleng-

kung (kurva) dan semesta memiliki batas. Namun 

hanya belakangan ini saja teori relativitas dan kuantum 

banyak diterapkan dalam berbagai detail tentang 

semesta, baik dalam skala subatom atau galaksi. Apa 

saja pengaruh gagasan-gagasan ini pada berbagai eks­

perimen yang membentuk semesta? Jawabannya lebih 

gila dibandingkan dengan imajinasi fiksi-ilmiah paling 

gila. Siapa yang bisa memahami tentang adanya lubang 

hitam, sebuah lubang yang tak terlihat di mana ruang 

dan waktu tidak ada? 

memerlukan apa-apa selain teleskop, dan tidak perlu 

eksperimen yang mengharuskan keahlian fisik atau 

manipulatif. Satu-satunya yang jelas diperlukan yaitu  

otak, dan otaknya yaitu  salah satu bagian yang tidak 

terpengaruh oleh penyakit yang dideritanya. 

Tahun 1965, saat berusia dua puluh tiga, Hawking 

mulai mengawali tesis Ph.D., dan bulan Juli dia me-

nikahi Jane. Pada musim semi tahun ini , Jane 

pindah ke London untuk menyelesaikan kuliahnya di 

universi tas , dan setiap akhir pekan pulang ke 

Cambridge. Hawking pindah ke rumah kecil berteras 

yang jaraknya hanya seratus yard dari Fakultas 

Matematika Terapan dan Fisika Teoretis, serta membeli 

mobil kecil roda tiga yang digunakan untuk pergi ke 

observatorium yang berada di luar kota. 

Hawking semakin termotivasi, dan pikirannya 

terfokus, tanpa banyak hambatan yang berarti. Dan 

itu memang perlu. sebab  persoalan-persoalan yang 

akan dia pecahkan termasuk di antara persoalan paling 

kompleks dan ambisius dalam kosmologi. 

Hawking mencatat bahwa relativitas tidak sejalan 

dengan fisika pada tingkat mekanika kuantum, jadi 

otomatis tidak cukup untuk menjelaskan tentang lubang 

hitam. Penyelidikannya atas hal ini selanjutnya mem-

berikan hasil-hasil yang sensasional. 

Yang mengejutkan, keberadaan lubang hi tam 

(meskipun dulu tidak disebut sebagai lubang hitam) 

telah diprediksi jauh sebelumnya, yakni tahun 1783, 

oleh seorang Inggris bernama John Michell, yang 

kebetulan juga pemikir dan astronom terkemuka saat 

itu. (Selain lubang hitam, dia juga menyatakan tentang 

keberadaan bintang ganda, dan memberikan beberapa  

prediksi yang mengagumkan tentang jarak antar 

bintang.) 

Michell mengatakan bahwa jika sebuah bintang 

memiliki ukuran dan kepadatan yang cukup besar, maka 

tidak ada sinar yang bisa memancar dari permukaan 

bintang ini . Pengamatan yang dilakukannya 

mendorongnya berteori bahwa semesta memiliki 

bintang-bintang semacam ini dalam jumlah yang cukup 

banyak, yang keberadaannya hanya bisa dideteksi dari 

pengaruh gravitasi pada bintang atau planet-planet lain 

yang terlihat di dekatnya. 

Gagasan ini diperbaharui pada tahun-tahun pertama 

abad ke-20 oleh astronom Jerman, Karl Schwarzschild. 

Selama menjalani tugas militer di Rusia tahun 1916, 

dia mulai memikirkan tentang implikasi-implikasi teori 

relativitas Einstein yang baru saja diterbitkan saat itu. 

teori ini  menyatakan bahwa cahaya bisa dibelok-

kan oleh gaya tarik gravitasi. (Kehidupan di medan 

perang di Rusia bisa dipastikan sama berbahayanya 

dengan dalam perang-perang lain [di Eropa Barat], na-

mun kemungkinan pada saat itu ada sesuatu yang secara 

intelektual menstimulasikan pikiran orang-orang: Pada 

saat yang bersamaan, di Austria, Ludwig Wittgenstein 

memikirkan tentang gagasan-gagasan yang selanjutnya 

mengubah filsafat abad ke-20.) 

Schwarzschild menunjukkan bahwa ada hal-hal 

tertentu yang terjadi saat sebuah bintang runtuh oleh 

gaya gravitasinya sendiri. Menurut teori Einstein ten­

tang pengaruh gaya gravitasi pada cahaya, sesudah  

melewati titik tertentu pengaruh gaya gravitasi akan 

sedemikian besar sehingga tidak ada sesuatu pun, 

bahkan cahaya yang bisa lolos dari medan gravitasi 

ini . Titik ini tercapai saat bintang runtuh sampai 

radius tertentu, bergantung pada massanya. Radius ini 

yaitu  titik di mana bintang yang runtuh berubah 

menjadi lubang hitam. Matahari kita, yang radiusnya 

saat ini yaitu  700.000 km, akan menjadi lubang hitam 

saat radiusnya menyusut menjadi 3 km. [Di USA, 

satuan ukuran panjang biasa memakai  mil, 8 k m = 

5 mil, peny.] Schwarzschild dengan memakai  

27 


relativitas telah berhasil membuktikan apa yang 

diperkirakan oleh Michell. 

Yang agak mengejutkan, Einstein menolak menerima 

hasil-hasil temuan Schwarzschild -— meskipun temuan-

temuan itu didasarkan pada teorinya. Namun sampai 

saat ini kita mengenali radius kritis di mana sebuah 

b in tang menjad i lubang h i t am sebagai radius 

Schwarzschild. 

Satu tahun kemudian, Einstein mendapati bahwa 

gagasan-gagasan kosmologisnya sekali lagi ditentang 

kali ini dari astronom Rusia, Aleksandr Friedmann, 

yang bekerja di St. Petersburg, yang selanjutnya disebut 

Petrograd. Meskipun saat itu tengah berlangsung 

Revolusi Rusia, Friedmann masih meluangkan waktu 

untuk memikirkan bahwa gambaran Einstein tentang 

semesta yang statis tidak benar. Dalam perhitungannya, 

Einstein memasukkan sebuah "konstanta kosmologis" 

yang disebutnya sebagai lamda. Hal ini memunculkan 

pertanyaan apakah semesta yaitu  statis. Friedmann 

menunjukkan bahwa tidak ada pembenaran yang bisa 

diberikan dalam membuat asumsi semacam itu. 

Friedmann mengambil langkah berani dalam meng-

asumsikan bahwa semesta dipenuhi dengan awan 

materi tipis. (Hasil-hasil temuan modern menegaskan 

bahwa asumsi yang sembrono ini terbukti dalam ber-

bagai perhitungan makrokosmos, meskipun tentu saja 

ada yang tidak cocok.) Dari model ini, dan dari versi 

modifikasi dari perhitungan Einstein, Friedmann mampu 

menunjukkan bahwa semesta meluas atau memuai. 

Sekali lagi, Einstein memilih untuk tidak setuju. 

Asumsi-asumsi teoretis Friedmann memperoleh 

penegasan dari pengamatan praktis tahun 1928 oleh 

astronom Amerika Edwin Hubble (yang kemudian 

namanya diabadikan sebagai nama teleskop ruang 

angkasa). Tanpa mengetahui tentang teori-teori Einstein 

ataupun Friedmann, Hubble mulai mempelajari red 

shift atau geseran merah atas lebih dari selusin galaksi 

yang berbeda, dengan memakai  teleskop seratus 

inci di Mount Wilson. (Red shift yaitu  perubahan 

garis dalam spektrum cahaya yang menunjukkan kece­

patan yang relatif terhadap pengamat.) Hubble mene-

mukan bahwa kecepatan surut galaksi-galaksi ini  

semakin besar jika jaraknya semakin jauh dari bumi. 

Ini yaitu  bukti praktis pertama atas semesta yang 

meluas. 

Perkembangan teoretis besar selanjutnya terjadi lima 

tahun kemudian, masih dari Rusia. Aksi pembersihan 

yang dilakukan Stalin dilangsungkan secara besar-

besaran. Mungkin ilmuwan yang berdedikasi tinggi 

mampu mengabaikan Revolusi Rusia yang tengah ber­

langsung saat itu, namun teror Stalin yaitu  hal lain. 

Para tentara dengan mengenakan mantel panjang me-

ngetuk pintu rumah-rumah dan memaksa masuk — 

meskipun anda saat itu tengah super sibuk dengan 

perhitungan-perhitungan kosmologis. sesudah  para 

jenderal dan pemimpin partai ; para ilmuwan tengah 

dicari untuk menjadi saksi ahli dalam persidangan. 

Fisikawan teoretis Lev Landau tahu bahwa dia berada 

dalam masalah besar: bukan hanya sebab  dia baru saja 

pulang dari luar negeri, namun sebab  dia juga seorang 

Yahudi. Landau memutuskan bahwa harapan satu-

satunya yaitu  dengan menjadi terkenal di seluruh 

dunia sehingga perannya sebagai saksi terbukti akan 

memalukan bagi Utopia Soviet. Lalu dengan cepat dia 

menulis beberapa  gagasan kosmologis sensasional yang 

telah lama dipikirkannya; dan dikirim ke sahabatnya, 

fisikawan besar Niels Bohr di Kopenhagen. Dalam 

surat pengantarnya, Landau meminta bantuan Bohr. 

Jika Bohr merasa gagasan-gagasan ini  cukup 

bermanfaat, dia meminta agar Bohr memakai  

"pengaruhnya" agar bisa terbit di Nature, jurnal ilmiah 

internasional terkemuka. 

Beberapa waktu kemudian Bohr menerima telegram 

dari surat kabar resmi Izvestia yang bertanya apakah 

gagasan-gagasan Landau cukup bermanfaat. Bohr sendiri 

tidak puny a waktu untuk mempelajarinya, namun 

dengan cepat dia memperoleh gambarannya. Dia 

mengirim pesan yang penuh pujian ke Moskow, dan 

memastikan bahwa paper Landau diterbitkan di 

Nature. (Landau ditangkap tahun 1938 — namun 

dilepaskan kembali sebab  dianggap sebagai suatu 

"kesalahan".) 

Landau selama beberapa tahun berspekulasi tentang 

bagaimana bintang-bintang menghasilkan energi yang 

cukup besar untuk memancarkan panas. Dalam paper 

yang diterbitkan Nature, dia mengajukan teori bahwa 

inti bintang terdiri dari sebuah bintang lain yang super-

padat dan terbentuk dari partikel-partikel subnuklir 

tak bermuatan, yang disebut sebagai neutron. (Sebuah 

bintang seperti matahari diperkirakan memiliki bintang 

neutron yang berukuran sekitar sepersepuluh dari 

massanya, namun sangat padat dan hanya memiliki 

radius 1 km.) Energi panas yang luar biasa besar dari 

sebuah bintang dihasilkan oleh penyerapan gas oleh 

bintang neutron yang ada di dalamnya. 

Paper Landau ditulis dengan terburu-buru, dan di­

terbitkan sebelum dia sempat memikirkannya kembali 

secara menyeluruh. Paper ini dibaca oleh pakar fisika 

kuantum Amerika, Robert Oppenheimer dan asisten-

nya, Hartland Snyder, yang sebelumnya bekerja sebagai 

sopir truk di Utah. 

Oppenheimer dan Snyder menemukan banyak 

kelemahan dalam paper Landau, namun menerima 

gagasan dasarnya. Menurut Oppenheimer dan Snyder, 

saat sebuah bintang berukuran besar kehabisan bahan 

bakar nuklirnya dan mati, bintang ini  selanjutnya 

menyusut disebab kan gaya gravitasinya sendiri. Pada 

titik tertentu, bintang ini menyusut sampai pada radius 

kritis, di mana bahkan cahaya tidak mampu lolos dari 

permukaannya. Pada titik ini bintang ini  menjadi 

terisolasi dari benda-benda langit lainnya, dan "horizon 

peristiwa satu-arah" terbentuk. Partikel dan radiasi bisa 

masuk, tapi tidak ada yang bisa keluar. Singularitas 

ruang-waktu terbentuk, di mana dimensi-dimensi ruang 

dan waktu lenyap. Tidak ada apa pun yang bisa dipakai 

untuk menjelaskan apa yang terjadi dalam horizon ini; 

dan Oppenheimer bahkan menolak untuk berspekulasi. 

Oppenhe imer dan Snyder mempublikasikan 

temuan-temuan mereka di Physical Review tanggal 1 

September 1939, bertepatan dengan saat Hitler 

menginvasi Polandia, yang menjadi awal Perang Dunia 

II. Dalam terbitan Physical Review yang sama, Niels 

Bohr dan John Wheeler, fisikawan Amerika, mener-

bitkan sebuah artikel tentang fisi nuklir (yakni, meka-

nisme yang diperlukan untuk membuat bom atom). 

Kebetulan saat itu Oppenheimer menjadi pimpinan 

Manhattan Project, proyek pembuatan bom atom 

pertama. Bertepatan dengan hari pertama Perang Dunia 

II, metode penyelesaian pembuatan bom atom diter-

bitkan — beserta sebuah paper lain. Namun saat itu 

paper Oppenheimer tidak banyak mendapat perhatian: 

Dunia tengah menghadapi sesuatu yang lebih penting 

untuk dipikirkan. 

Wheeler akhirnya mengalihkan perhatian pada pem­

buatan bom hidrogen, namun saat dia selesai mencari 

cara bagaimana menghancurkan bumi ini, dia sekali 

lagi mengalihkan perhatian pada alam semesta. Untung-

nya kosmologi lebih berhubungan dengan holisme 

dibandingkan dengan bencana pembasmian, meskipun 

Wheeler masih mengajukan beberapa pemikirannya 

dari bidang sebelumnya. Wheeler yaitu  seorang eks-

tremis sayap-kanan, seorang Amerika ortodoks di era 

anti-komunis McCarthyite tahun 1950-an. Sementara 

itu Oppenheimer pernah tidur dengan seorang komunis 

— yang berarti bahwa meskipun dia memenangkan 

perang sebab  membuat bom atom, namun dia tetap 

seorang mata-mata komunis. Wheeler juga tidak setuju 

dengan gagasan-gagasan kosmologis Oppenheimer, 

namun akhirnya terpaksa mengakui bahwa mungkin 

ada sesuatu dalam gagasannya tentang singularitas 

ruang-waktu yang terdapat dalam horizon peristiwa 

satu-arah. Dan dia melangkah lebih jauh dan menama-

kannya "objek yang runtuh sepenuhnya sebab  gaya 

gravitasinya sendiri": Dia bermaksud menamakannya 

"lubang hitam". Mungkin ini sebab  dia merasa tidak 

boleh setuju dengan semua yang dikatakan Oppen­

heimer. Wheeler menyatakan bahwa ada kemungkinan 

untuk menjelaskan apa yang terjadi dalam lubang hitam, 

yaitu perpaduan antara relativitas dengan fisika kuan-

tum. 

Namun di awal tahun 1960-an, banyak orang yang 

masih meragukan keberadaan lubang hitam itu sendiri. 

Dan memang, kecurigaan politik Wheeler terbukti 

saat sekelompok ilmuwan Soviet menyatakan telah 

berhasil membuktikan bahwa singularitas ruang-waktu 

(lubang hitam) sesungguhnya tidak mungkin ada. 

Menurut mereka, singularitas ruang-waktu semacam 

ini hanyalah dugaan teoretis yang salah dan muncul 

sebab  ada yang mengasumsikan bahwa bintang-bintang 

besar yang runtuh menyusut secara simetris. Hanya 

dengan cara inilah medan gravitasi akan terfokus pada 

satu titik, dan mengakibatkan singularitas ruang-waktu. 

Tanpa adanya penyusutan atau pengerutan simetris ini, 

tidak akan ada singularitas. Dan simsalabim: lubang 

hitam juga tidak ada. 

Seperti yang bisa kita lihat, kosmologi di awal tahun 

1960-an, saat Hawking masuk, tengah berada dalam 

keadaan yang sangat tidak tetap. Dan "ajaran" yang 

masih diyakini di Cambridge yaitu  teori tentang 

semesta yang dalam kondisi tetap, tidak berubah, yang 

diusulkan oleh Hoyle. Menurut teori ini, semesta tidak 

memiliki awal dan tidak memiliki akhir, tapi selalu 

ada — tingkat kepadatan rata-ratanya juga konstan 

(atau dengan kata lain, tetap atau statis). Dan Hoyle 

jugalah yang pada tahun 1950-an memelopori peno-

lakan terhadap teori big bang [yakni, ledakan kosmik 

yang menandai asal muasal alam semesta, peny.], dan 

mengejek gagasan tentang penciptaan semesta dan 

menyamakannya dengan "seorang gadis yang gemar 

pesta yang meloncat keluar dari kue." 

Namun teori Hoyle juga bermasalah. Bagaimana dia 

hisa menjelaskan tentang semesta yang meluas, seperti 

yang diamati oleh Hubble? Untuk menjawab pertanya-

an ini, Hoyle mengusulkan gagasan bahwa bintang dan 

galaksi secara terus-menerus tercipta di angkasa. Bagai­

mana? Menurut Hoyle, sebab  itu memang sudah men-

jadi properti semesta. (Dan untuk melengkapinya, dia 

menambahkan bahwa bintang dan galaksi secara terus-

menerus juga menghilang ke dalam kegelapan jauh di 

sana.) 

Hoyle yaitu  seorang yang ulet dan kadang terlalu 

terburu-buru dalam mengemukakan pendapatnya untuk 

mendukung teori statis. Dalam salah satu ceramah di 

Royal Society London, dia menyampaikannya tanpa 

terlebih dahulu melakukan perhitungan-perhitungan 

untuk mendukung pendapatnya. Tanpa sepengetahuan 

Hoyle, Hawking memperoleh informasi tentang 

perhitungan-perhitungan awal Hoyle dari asistennya, 

dan menemukan beberapa  keanehan. Hawking memu-

tuskan untuk datang, dan melihat bahwa ceramah Hoyle 

disambut dengan antusias. Hoyle lalu bertanya apakah 

ada yang ingin mengajukan pertanyaan. Seorang maha-

siswa kurus berkacamata dan memakai  tongkat 

berdiri dengan susah payah. Ratusan peserta ceramah, 

termasuk beberapa  ilmuwan terkemuka, berpaling 

untuk melihat si pendatang baru yang dengan sembrono 

berani bertanya kepada sang pakar. 

"Jumlah yang anda kemukakan menyimpang," kata 

Hawking. 

Semua orang berbicara sambil bergumam: Jika benar 

demikian, apa yang disampaikan Hoyle berarti hanya 

omong kosong. 

"Tentu saja tidak menyimpang/' jawab Hoyle dengan 

nada mengejek. 

"Tapi menyimpang," kata Hawking bersikeras. 

"Bagaimana anda tahu?" 

"sebab  saya telah menghitungnya," kata Hawking 

dengan datar. 

Beberapa orang tertawa kecil. Hoyle terbakar oleh 

rasa marah. Siapa anak kurang ajar ini? 

Hawking mengumumkan kedatangannya ke pang-

gung kosmologi dengan membawa misi balas dendam. 

Namun masalah tentang apa yang terjadi dalam 

lubang hitam masih ada. Mereka yang memilih pan-

dangan non-simetris tentang bintang yang runtuh, 

seperti para ilmuwan Soviet, mulai mengembangkan 

sebuah gambaran baru. Menurut gambaran ini; bintang-

bintang menyusut secara tidak beraturan dan sangat 

kuat, sehingga "terbang" dan mengembang kembali. 

Masalah ini ditangani oleh seorang matematikawan 

muda dari Inggris bernama Roger Penrose. Dia me-

nerapkan metode-metode matematika baru pada 

masalah tentang runtuhnya bintang dan menyampaikan 

hasil-hasil yang menarik. Menurut teorema singu­

la ritasny a, sebuah bintang yang runtuh akan mengalami 

persis seperti yang diperkirakan Wheeler. Bintang 

ini  akan membentuk sebuah singularitas di mana 

waktu dan hukum-hukum fisika tidak berlaku lagi. 

Dan sekalipun menyusut secara tidak beraturan, namun 

materi-materinya tidak terbang dan berkembang 

kembali. Sebuah bintang besar yang runtuh akan 

menyusut sampai pada radius horizon peristiwa dan 

menjadi lubang hitam. (Untuk bintang yang ukurannya 

sepuluh kali lebih besar dari matahari, radius horizon 

peristiwanya yaitu  30 km.) Penrose juga menyatakan 

bahwa di luar titik ini, bintang ini  akan terus 

menyusut. Ini sejalan dengan gambaran yang dibentuk 

oleh teori relativitas. Saat medan gravitasi semakin 

menguat, semua cahaya; materi, dan ruang-waktu akan 

tertarik ke dalamnya dengan intensitas yang semakin 

besar. Dan memang, bintang itu akan terus menyusut 

dengan intensitas yang semakin besar sehingga akhirnya 

memiliki volume nol dengan tingkat kepadatan tak 

berhingga. Dengan kata lain, bintang ini  menen-

tang hukum gravitasi dalam artian memiliki massa 

namun tidak memiliki dimensi. Demikian juga, ruang-


waktu dan cahaya tidak ditarik menuju ke sebuah 

lubang; namun berputar-putar selamanya sampai 

akhirnya hilang. 

Semua ini terjadi dalam horizon peristiwa, dan 

tentu saja tidak bisa diamati. Namun horizon peristiwa 

tidak menyusut atau runtuh dalam cara apa pun: tapi 

tetap sama — pada titik di mana sebuah bintang ber-

ubah menjadi lubang hitam. (Sebagai contoh, horizon 

peristiwa untuk bintang dengan ukuran sepuluh kali 

lipat matahari, radius horizon peristiwanya tetap 30 

km sementara bintang itu sendiri menyusut sampai 

tak berhingga.) 

Hawking mulai mempelajari gagasan-gagasan 

Penrose secara lebih cermat, dan saat dia melakukan-

nya, sebuah gagasan menakjubkan mulai terbentuk 

dalam pikirannya. Seperti halnya gagasan-gagasan besar 

lainnya, gagasan ini cukup sederhana (meskipun per-

hitungan matematis yang dipergunakan untuk mendu-

kungya tidak bisa dibuktikan). Hawking bertanya pada 

dirinya sendiri apa yang terjadi jika sebuah lubang hitam 

mampu membalikkan keadaannya. Dia selanjutnya 

menerapkan gagasan ini pada seluruh semesta. Mung-

kinkah semesta yang meluas ini tidak lebih dari sebuah 

bintang raksasa yang runtuh lalu membalikkan keada­

annya. Waktu lenyap dalam lubang hitam: jika proses 

ini dibalik, maka waktu berarti diciptakan. Demikian 

juga dengan ruang. Materi berasal dari sebuah objek 

dengan kepadatan yang tak berhingga namun tidak 

memiliki dimensi. Dan ini pasti yaitu  big bang — 

penciptaan pertama, tidak ada yang lain. 

Teori relativitas berlaku dalam kedua cara ini . 

Saat medan gravitasi menguat, ruang-waktu, materi, 

radiasi, semuanya terkonsentrasi. Saat medan gravitasi 

meluas dan melemah, ruang-waktu menjadi terbentang, 

radiasi dan materi tersebar. Hawking berhasil menun-

jukkan bahwa pasti ada sebuah singularitas jauh di masa 

lalu yang menciptakan waktu. Dan jika semesta ber-

henti meluas dan mulai menyusut, pada akhirnya ia 

akan meledak dan berakhir menjadi singularitas — 

atau yang disebut big crunch. Tidak ada pertanyaan 

yang perlu diajukan tentang apa yang terjadi sebelum 

semesta berawal, atau apa yang terjadi sesudah  berakhir 

— sebab  dalam situasi semacam ini tidak ada yang 

namanya waktu. Ruang juga tidak ada, apalagi materi. 

Hawking menjelaskan bagaimana semesta berawal. 

Dia menunjukkan bagaimana proses terjadinya big 

bang, bagaimana semua itu berasal dari sebuah lubang 

hitam yang membalik keadaannya. (Meskipun para 

ilmuwan Soviet tetap bersikeras bahwa lubang hitam 

tidak ada dan Hoyle terus mempertahankan teori 

statisnya.) Pembicaraan tentang teori Hawking yang 

menakjubkan mulai tersebar dan diterima secara luas 

kecuali oleh orang-orang Soviet dan orang-orang dari 

Namun kosmologi tetap merupakan dunia yang kecil, 

dan kejayaan Hawking terbatas hanya pada hal-hal yang 

berkaitan dengan masalah semesta. Di dunia yang lebih 

besar di kampus Cambridge, dia hanyalah seorang jenius 

pinggiran (dan banyak yang seperti ini). Namun legenda 

terus berkembang. Para mahasiswa di DAMTP mulai 

terbiasa bertemu dengan seorang tokoh kurus berkaca-

mata dengan tongkatnya, yang dengan kasar selalu me-

nolak apabila ada yang menawarkan bantuan. Seringkali 

dia harus berhenti selama beberapa menit sambil ber-

sandar di dinding ketika menaiki tangga. Saat itu sudah 

empat tahun berlalu semenjak dia divonis hidupnya 

hanya tinggal dua tahun, dan semakin banyak orang 

yang menyarankannya untuk memakai kruk. Namun 

dia menolak: Kruk tidak hanya membuatnya terlihat 

seperti cacat namun juga lebih susah memakai nya. 

Hawking masih sama dengan yang dulu, dan 

tubuhnya masih jauh dari tidakberdaya. Tahun 1967, 

anaknya, Robert, lahir; dan meskipun saat itu sudah 

memakai  kruk namun dia masih meluangkan 

waktu berjam-jam pada pekerjaannya. Dia merasa 

sangat antusias dengan apayang dilakukannya. Ironis-

nya, dia merasa lebih bahagia dibandingkan sebelum 

sakit, begitulah kira-kira menurutnya. 

Namun semua itu tidak mungkin terjadi tanpa ada-

nya dukungan penuh dari istrinya, Jane. Hidup dengan 

seorang yang "kurang-lebih jenius", yang memiliki 

keistimewaan tertentu, memang tidak mudah. Saling 

marah sudah menjadi hal biasa, dan Hawking tetap 

lebih dari sekadar mampu dalam mengekspresikan 

kepribadiannya. Meskipun dia jenius dan cacat, namun 

dia tetap bersikeras untuk diperlakukan sebagai manusia 

biasa. Dan meskipun mengalami berbagai kesulitan, 

dia masih mampu melakukannya. Perkawinannya tidak 

sepenuhnya terlepas dari apa yang dia lakukan. Jane 

bertugas mengetik papernya dari berbagai catatan serta 

dengan cara didikte, namun tidak berlangsung lama 

sebab  suaminya mulai mengalami kesulitan bicara. 

Hawking sekarang semakin kuat melakukan per-

hitungan matematika secara mental (tanpa alat bantu), 

melatih diri untuk mencapai keterampilan otak yang 

luar biasa sehingga mampu mengakomodir [perhitung-

an-perhitungan rumit). Demikian juga, Hawking mulai 

terbiasa mengomunikasikan pemikiran-pemikiran 

intelektualnya hanya bila sudah dalam bentuk yang 

meyakinkan. Kekuatan daya ingat, konsentrasi dan 

kemampuan mental memang sangat diperlukan dalam 

pekerjaannya. Sebuah penjelasan dari kehendak yang 

kuat. Dan yang paling penting yaitu  kemampuan 

semesta "dunia-datar". Hawking telah menunjukkan 

dirinya sebagai bintang utama di panggung kosmologi. 

kreatif dalam menciptakan pemikiran-pemikiran baru 

dalam tataran tertinggi. Dan dia terus melakukannya. 

Saat ketenaran Hawking mulai tersebar, dia mem-

bentuk sebuah kelompok yang terdiri dari beberapa  

peneliti berbakat dan mereka bekerja sama dalam 

melakukan penyelidikan atas lubang hitam. Pada tahun 

1971, Hawking memperoleh gagasan bahwa sesudah  

peristiwa big bang, beberapa  "lubang hitam berukuran 

mini" terbentuk. Lubang hitam ini sedemikian padat 

dengan massa satu milyar ton namun ukurannya tidak 

lebih besar dari sebuah photon, partikel elementer 

yang memancarkan cahaya. Hawking menunjukkan 

bahwa lubang hitam mini ini cukup unik — ia memiliki 

massa dan gaya berat yang sangat besar sehingga tunduk 

pada hukum relativitas, namun sebab  ukurannya yang 

sangat kecil maka ia juga tunduk pada hukum mekanika 

kuantum. Ini menunjukkan bahwa kedua hukum yang 

sering konflik ini "pada awalnya" yaitu  satu. Dalam 

hal ini ada kemungkinan bahwa di masa mendatang 

kita bisa mengembangkan sebuah teori terpadu yang 

mencakup hukum-hukum teori relativitas dan meka­

nika kuantum. Namun untuk saat ini, kemungkinan 

sensasional semacam ini bahkan masih cukup aneh 

untuk bisa diterima. 

Dan memang, yang terjadi yaitu  sebaliknya. Sebuah 

singularitas yang diciptakan oleh runtuhan gravitasional 

memiliki arti bahwa semua hukum fisika tidak berlaku. 

Mengejutkan, menakutkan, gilal Namun sebab  peris­

tiwa ini terjadi dalam lubang hitam, maka kita tidak 

bisa mengamati: kita tidak diizinkan mengamati peris­

tiwa ini  oleh semacam "badan sensor kosmik". 

Namun jika hukum fisika tidak berlaku, ini berarti 

kita tidak bisa memprediksi apa yang mungkin akan 

terjadi di masa mendatang. Dengan kata lain, ilmu 

pengetahuan memiliki lubang yang sangat besar di 

dalamnya. 

Secara filosofis, ilmu pengetahuan saat ini tengah 

dihadapkan pada dua kemungkinan yang sensasional 

sekaligus saling berkonflik satu sama lain, dan keduanya 

bisa disebut sebagai "akhir dari ilmu pengetahuan". 

Lubang hitam mini mengisyaratkan bahwa suatu had 

nanti kemungkinan akan ada sebuah teori yang mampu 

menjelaskan segala sesuatu. Pada saat yang sama, lubang 

hitam yang lebih "biasa" mengisyaratkan bahwa semesta 

mungkin tidak bisa dijelaskan secara ilmiah — dan 

mungkin memang tidak ilmiah sama sekali. Saat ini, 

ilmu pengetahuan telah mencapai tahap filosofis 

terakhir. Ia tengah hidup dalam ancaman besar — ada 

dua kemungkinan dari apa yang ada di hadapannya: 

menjadi sempurna atau hancur. Akhir dari ilmu penge­

tahuan telah berada di ambang pintu!