STEPHEN HAWKING sering disamakan dengan Dr.
Strangelove, tokoh menyeramkan dalam film
klasik Kubrick. Dan memang ada lebih dari sekadar
beberapa kemiripan luar. Hawking tentu saja bukan
seorang Nazi. Namun semua orangyang pernahbekerja
bersamanya bicara tentang adanya energi intelektual
yang tertekan. Dr. Strangelove yaitu parodi atas suatu
kehendak yang kuat — namun dari varietas yang cukup
kompleks, berwawasan jauh, dan sangat berkaitan de
ngan kemampuan otak. Namun dia juga seorang manu-
sia, yang memiliki perasaan dan kelemahan-kelemahan
— dan cacat yang dialaminya sama sekali tidak ber-
pengaruh. Hawking selalu bersikeras bahwa dia juga
hams dianggap sebagai manusia normal, dan tindakan-
tindakannya sepenuhnya membenarkan pandangan ini.
Dalam film di atas, kita tidak pernah melihat kantor
Dr. Strangelove. Dan apabila kantor ini perlu
di tunjukkan, mungkin kan tor Dr. Hawking di
Cambridge merupakan pilihan yang ideal — dengan
suasana yang sunyi dan hanya terdengar suara saklar-
saklar kecil yang digerakkan oleh seorang yang duduk
di atas kursi roda. Di sekelilingnya terdapat beberapa
layar komputer, cermin, dan sebuah poster Marilyn
Monroe berukuran besar di dinding.
Pikirannya berkelana jauh ke kedalaman semesta.
Dan pikiran ini jugalah yang telah menciptakan sejum-
lah gagasan kosmologis paling menarik sepanjang masa.
Seluruh pandangan kita tentang kosmos mengalami
perubahan drastis selama era Hawking. Gambaran yang
diciptakan Hawking dan rekan-rekannya memiliki
tingkat imajinatif dan keindahan yang setara dengan
sebuah karya seni agung. Namun juga tidak masuk akal
seperti layaknya mimpi, serta rumit dan berada jauh
di luar pemahaman sehari-hari. Hawking menciptakan
gagasan-gagasan baru dan sensasional tentang Black
Holes (Lubang Hitam), dan "teori tentang segala
sesuatu", serta asal-usul semesta.
Namun semua ini dipertanyakan oleh beberapa
pihak. Kosmologi yaitu ilmu tentang semesta —
namun apakah kosmologi benar-benar merupakan ilmu
pengetahuan? Dengan semua perhitungan matematika
yang sangat rumit dan sebagian besar tidak bisa di-
buktikan. Apakah kosmologi memang benar-benar ber-
arti atau bermanfaat? Atau mungkin seperti dongeng-
dongeng, seperti layaknya dongeng tentang dewa-dewa
Yunani kuno? Prestasi Hawking bisa dilihat sebagai
tambahan penting bagi pemahaman kita atas hidup ini,
atau sebagai usaha intelektual yang penuh dengan hingar-
bingar namun tidak menandakan apa-apa. Silakan baca
terus, dan tentukan sendiri.
STEPHEN HAWKING lahir saat Perang Dunia II tengah
seru-serunya. Orangtuanya tinggal di Highgate,
London utara. Suasana malam hanya diisi oleh suara
burung hantu, sirine serangan udara, kerlip-kerlip
lampu sorot, dan suara gemuruh bom-bom Jerman.
Untuk memastikan keselamatan kelahiran anak
pertama mereka, Frank dan Isobel Hawking memutus-
kan untuk sementara pindah ke Oxford beberapa hari
sebelum Hawking lahir. Tentara Jerman setuju untuk
tidak membom Oxford dan Cambridge, sebab kedua
tempat ini memiliki kekayaan arsitektur yang tak
ternilai; sebagai gantinya, pasukan Sekutu setuju untuk
tidak membom kota-kota historis Jerman: Heidelberg
dan Gottingen. Seperti kata Isobel Hawking: "Sayang
sekali, persetujuan yang beradab seperti ini tidak
diperluas ke tempat-tempat lain." Dia melahirkan anak
laki-laki di Oxford tanggal 8 Januari 1942, yang
bertepatan dengan peringatan hari kematian Galileo,
yang terjadi tepat tiga ratus tahun sebelumnya, yaitu
tahun 1642. Kebetulan yang lainnya, Newton juga
dilahirkan pada tahun ini . Pertanda astrologis
semacam ini bagi seorang astronom dianggap sangat
baik — jika kita mempertimbangkan fakta bahwa
kedua bidang ini sama-sama eksklusif.
Frank dan Isobel Hawking pernah belajar di Oxford.
Frank yaitu seorang dokter yang terlibat dalam pene-
litian medis, dan sering ke luar negeri. Sementara di
lain pihak, karier Isobel secara perlahan surut sebab
tidak adanya kesempatan — dimulai dari pekerjaan
sebagai petugas pajak, lalu menjadi sekretaris di se-
jumlah tempat. Beberapa tahun kemudian Maggie
Thatcher mengambil alih Oxford University Conser
vative Association. Selama perang, kaum wanita dipe-
kerjakan dalam urusan pemerintah. Yang lain melarikan
diri dan bekerja di perkebunan, atau merasakan "ke-
bebasan" dengan bekerja di pabrik-pabrik dan melaku-
kan pekerjaan kaum pria.
Saat bertemu Frank Hawking yang baru saja pulang
dari tugas penelitian medis di Afrika, Isobel bekerja
sebagai sekretaris. Mereka lalu menikah, dan selanjut-
nya memiliki empat anak. Isobel masih tetap seperti
KEHIDUPAN DAN KARYANYA
dulu, dan tujuan dalam hidupnya yaitu untuk mem-
berikan pengaruh formatif pada anak-anaknya.
Namun demikian, kehidupan Isobel masih belum
terpenuhi. Dia menemukan salah satu penyaluran dalam
idealisme. Dia pada awalnya yaitu orang yang percaya
pada komunisme, namun kemudian memperlunak
pendiriannya, tapi tetap berkomitmen pada pandangan
sosialis. Selanjutnya, dia ikut serta dalam kampanye
perlucutan senjata nuklir dengan melakukan long march
dari Aldermaston sampai London, di mana saat itu
usaha untuk menyelamatkan manusia dari bencana
nuklir dianggap merupakan suatu kegiatan yang sangat
antisosial.
Tahun 1950 keluarga Hawking pindah ke St. Albans,
tiga puluh mil utara London, sebuah kota katedral
yang menyenangkan (atau mungkin juga bisa dianggap
sebuah kota terpencil yang menyeramkan). Di kota
itu, Frank menjadi kepala divisi parasitologi di National
Institute for Medical Research. Keluarga Hawking
terus mempertahankan kehidupan intelektual ortodoks,
yang selanjutnya oleh orang-orang lain dianggap sangat
eksentrik. Rumah mereka penuh dengan buku; pera-
botan rumah tangga dipilih yang benar-benar nyaman
digunakan, bukan digunakan untuk menunjukkan
status; gorden tidak pernah dicuci dan kadang bahkan
tidak ditutup saat malam hari. Dan beberapa orang
tetangga mereka memperhatikan bahwa keluarga
ini mendengarkan Third Programme (acara drama
dan musik klasik yang disiarkan khusus bagi kaum
awam di pembuangan). Di waktu senggang, Frank bah-
kan menulis beberapa novel (yang tidak pernah dipubli-
kasikan, dan diejek oleh istrinya sebagai hasil bualan
belaka). Dan tokoh idola Stephen muda yaitu Bertrand
Russell dan Gandhi, bukan bintang olah raga atau
bintang film.
Di musim panas, keluarga Hawking berlibur dengan
mengendarai mobil (bekas taksi London) sambil
membawa trailer mereka. Trailer ini biasanya diparkir
di lapangan Osmington di Dorset, dekat Ringstead
Bay. (Tidak perlu dikatakan bahwa trailer mereka juga
bukan trailer biasa: sebuah trailer Gypsy kuno, dengan
cat ala Gypsy yang mencolok). Keluarga Hawking
bukan termasuk keluarga kaya, tapi juga tidak miskin.
Demikian juga, mereka terlihat tidak lebih bahagia
atau lebih sengsara dibandingkan sebagian besar ke
luarga kelas menengah di masa itu.
Dari keluarga "rata-rata" ini, terlahir seorang anak
yang juga "rata-rata". Saat berumur sepuluh tahun,
Stephen disekolahkan di sekolah terbaik: St. Albans
School, dengan SPP sebesar lebih dari lima puluh
pound per semester, atau sekitar seratus lima puluh
dollar. Stephen yaitu seorang siswa bertubuh kecil,
kikuk, dan secara fisik tak terkoordinasi: jenis siswa
yang sangat mudah dikenali di antara berbagai siswa
lain di sekolah ini .
Selanjutnya Stephen mulai tertarik dengan kegiatan
laboratorium, dan bahkan memiliki laboratorium sen-
diri di rumahnya. Kamarnya penuh dengan tabung uji,
sisa-sisa berbagai macam eksperimen, serta berbagai
petunjuk sederhana cara membuat bubuk mesiu, racun
sianida, dan gas air mata.
Secara bertahap mulai terlihat jelas bahwa Stephen
cukup cerdas, namun apa yang dimilikinya tidak di-
dukung oleh standar-standar akademik di sekolahnya
yang terbilang cukup bergengsi. Dia tidak pernah
belajar secara serius namun tetap memperoleh nilai
yang baik di sekolah, meskipun tidak pernah menjadi
juara. Otaknya tajam, namun bicaranya terlalu cepat
untuk bisa dipahami. Di rumah, saat berada di "sarang-
nya" bersama beberapa teman sekolahnya, dia men-
ciptakan beberapa permainan. Namun permainan-
permainan ini jarang ada yang bisa diselesaikan dalam
waktu lima jam, dan bahkan kadang memerlukan waktu
selama seminggu penuh. Dan tidaklah mengejutkan
bila teman-temannya cepat bosan dan akhirnya dia ber-
main sendirian, melawan dirinya sendiri. Baik teman-
temannya ataupun keluarganya tercengang oleh ke-
mampuannya dalam memikirkan beberapa permasa-
lahan yang sangat rumit, yang kadang berlangsung
selama berjam-jam, sampai akhirnya dia mampu
memecahkannya. Menurut sang ibu: "Permainan itu
hampir menjadi pengganti hidupnya."
Stephen terlihat menikmati hidup dalam dunia yang
tertata secara teoretis, dan selalu berusaha menantang
struktur dunia ini sampai batasnya. Dia mungkin
tidak terlihat seperti seorang anak yang tidak bahagia,
namun yang pasti dia bukan anak biasa. Fokus mental-
nya sangat abstrak, dan kelihatannya didorong oleh
sesuatu yang lebih kuat dari sekadar kecenderungan
alami.
Juara kelas di sekolah Stephen, temannya bernama
Michael, menganggapnya sebagai seorang "jenius kecil
yang aneh". Suatu hari, saat berada di laboratorium
Stephen, mereka mulai berbicara tentang "hidup dan
filsafat".
Michael mengatakan bahwa Stephen sangat tertarik
dengan filsafat, namun saat percakapan mereka ber-
langsung, dia menyadari bahwa Stephen secara sengaja
mendorongnya untuk mempermainkan dirinya sendiri.
Itu merupakan saat-saat yang sangat membingungkan
bagi Michael, yang tiba-tiba merasa dirinya tengah
dilihat oleh seorang pengamat. "Saat itu aku menyadari
untuk yang pertama kalinya bahwa dia tidak hanya
cerdas, tidak hanya pintar, namun luar biasa." Dia juga
menyadari tentang "adanya semacam arogansi, jika bisa
dikatakan demikian, semacam gagasan tentang apa yang
disebut sebagai dunia." Jenius kecil yang aneh itu
tampaknya telah menghabiskan waktu cukup lama
untuk memikirkan segala sesuatu: berusaha mencari
arti tentang dunia.
Itulah tugas yang sesungguhnya dari filsafat: kosmologi.
Kata Yunani kuno untuk semesta yaitu kosmos, yang
juga berarti "tatanan". Kata "kosmetik" juga berasal
dari akar kata yang sama. Bagi orang-orang Yunani kuno,
tatanan dunia merupakan sesuatu yang dianggap indah.
Namun sekarang, kosmologi melepaskan aspek-aspek
filsafat ini , dan membatasi diri pada usaha untuk
mempelajari struktur semesta. Tapi penemuan tatanan
dalam semesta yang maha luas ini masih mampu men-
ciptakan suatu kekaguman akan keindahan dan filsafat.
Hal ini bisa terjadi khususnya pada pikiran para remaja
yang sering merenung dan tertarik pada masalah
abstraksi serta ingin memikirkan segala sesuatu sampai
ke akarnya.
Bakat tersembunyi Hawking memerlukan sebuah
"pemicu" untuk bisa berkembang. Ini terjadi saat dia
berumur enam belas tahun, saat dia belajar untuk meng-
hadapi ujian masuk sekolah lanjutan. Tahun 1958, ayah
Stephen memperoleh tugas penelitian di India.
Keluarga ini memutuskan untuk melakukan
petualangan dengan mengendarai mobil ke India
(sebuah pengalaman yang cukup berani untuk masa
itu). Namun tidak seluruh anggota keluarga ikut.
Stephen hams tinggal sebab hams mempersiapkan
diri menghadapi ujian masuk sekolah lanjutan, dan
dititipkan ke tetangga mereka, keluarga Humphrey.
Sikap yang ditunjukkan Ny Hawking sangat khas
"Inggris". "Dia senang tinggal dengan keluarga
Humphrey dan kami juga senang sekali di India." Dan
memang begitulah kelihatannya. Meskipun ada bebe-
rapa orang yang menceritakan tentang Stephen yang
dianggap agak aneh. Misalnya cerita tentang saat ke
luarga Humphrey kehilangan kereta dorong yangberisi
barang-barang tembikar. Ny. Humphrey mengatakan:
"Semua orang tertawa, namun sesudah beberapa saat,
Stephen tertawa paling keras."
Apa pun pengaruh lain dari peristiwa ditinggalkan
keluarga, namun peristiwa ini sudah cukup untuk
"menghidupkan" bakat intelektual Hawking. Ayahnya
sebetulnya ingin dia belajar biologi, dengan tujuan agar
dia bisa menjadi dokter seperti dirinya. Namun Stephen
lebih tertarik dengan matematika, dan memang dia
yang terbaik dalam matematika — walaupun ayahnya
menganggap matematika sebagai jalan buntu, di mana
tidak ada pekerjaan lain bagi ahli matematika selain
menjadi gum. Akhirnya mereka berkompromi: Stephen
belajar matematika, fisika, serta kimia di sekolah
lanjutan, dan selanjutnya memperoleh kesempatan
untuk mengikuti ujian masuk Oxford di tahun beri-
kutnya. Yang mengejutkan, Stephen mampu menger-
jakan ujian ini dengan sangat baik dan langsung
memperoleh beasiswa.
Pada usia tujuh belas tahun, Stephen Hawking
masuk University College, Oxford, fakultas ilmu
pengetahuan alam, jurusan fisika. Namun dia sama
sekali tidak melupakan matematika. Sebaliknya, dia
menganggap bahwa matematika yaitu satu-satunya
kunci dalam memahami semesta. Dan kosmos masih
tetap menjadi perhatian utamanya.
Sebagian besar mahasiswa bam seangkatan Stephen
usianya rata-rata satu setengah tahun di atas Stephen,
sementara yang lainnya ada yang sampai tiga tahun
lebih tua, sesudah menyelesaikan wajib militer selama
dua tahun. Mahasiswa kurus berkacamata ini merasa
canggung dan tidak punya tempat. Dia menghabiskan
sebagian besar masa kuliah tahun pertama di kamarnya
— bukan belajar tapi hanya merasa bosan dan bertanya-
tanya bagaimana caranya agar bisa diterima oleh
mahasiswa lain. Dia bahkan masih terlalu muda untuk
diizinkan pergi ke pub. Di malam hari dia suka minum
bir sambil membaca berbagai buku fiksi ilmiah. Ke-
giatan ini memperkenalkannya pada berbagai pandangan
merupakan keyakinan diri yang dibentuk oleh suatu
kehendak yang kuat.
Namun fokus dari kehendak ini masih sempit.
I lawking tidak banyak memperoleh perkembangan
dari kuliahnya, dan masih tetap belajar maksimal satu
jam dalam satu hari. Namun demikian, dosen fisikanya,
Dr. Robert Berman pernah mengatakan: "Dia yaitu
mahasiswa paling cerdas yang pernah saya temui." Serta
menambahkan: "Saya tidak merasa cukup sombong
untuk berpikir bahwa saya pernah mengajarinya
sesuatu." Komentar-komentar semacam ini mungkin
pernah ada sebelumnya. Namun hampir tidak ada
keraguan bahwa Hawking dianggap sebagai mahasiswa
yang luar biasa, hanya sebab dia muncul dan
menentang hukum kekekalan energi (jumlah yang anda
peroleh tidak bisa lebih besar dari jumlah daya yang
anda berikan).
Hawking memang penuh percaya diri—baik secara
sosial ataupun intelektual. Dia menganggap tidak ada
gunanya menyembunyikan kemampuan mentalnya yang
luar biasa: Arogansi semacam ini hanya menambah
pujian pada dirinya. Meskipun dia malas-malasan ku
liah, namun dia tetap memutuskan untuk melanjutkan
studi, dan memilih program pasca-sarjana bidang
kosmologi. Lalu dia mendaftar di Cambridge untuk
"berguru" pada Hoyle, pakar kosmologi terkemuka
yang imajinatif, lucu, dan bahkan membingungkan
tentang semesta, namun jarang ada yang mampu
menstimulasi minat akademiknya. Sudan terbilang
bagus jika dia menghabiskan waktu selama satu jam
dalam sehari untuk belajar.
Minat Hawking terfokus pada dunia yang lebih luas
di sekitarnya, dan ini dipelajarinya dengan tekun, di
mana hampir tiap malam dia melakukan observasi. Dia
tidak mampu menghindari rasa ingin tahunya akan sifat-
sifat dunia ini , serta cara kerja dan berbagai ke-
mungkinan yang menakjubkan. Menjelang awal tahun
kuliah kedua, dia telah siap memasuki dunia ini.
Rambutnya dibiarkan tumbuh sangat panjang (untuk
ukuran tahun 1950-an), berusaha lebih lucu; dan tampil
lebih gaya. Si "bebekburuk rupa" ini mulai memasuki
dunianya, tampil dalam berbagai pesta, dengan ke-
yakinan diri yang tinggi. Dia bahkan ikut klub dayung
dan menjadi pengemudi sekoci.
Saat Hawking memutuskan untuk melakukan se-
suatu, dia akan melakukannya dengan sungguh-sungguh.
Sekali lagi, dia tampaknya menunjukkan "semacam
arogansi... semacam perasaan yang sangat kuat tentang
apa yang dianggap sebagai dunia" — seperti yang
dirasakan Michael, yang dalam hal ini menunjukkan
ada sesuatu yang luar biasa dalam karakternya. Namun
itu bukanlah "arogansi yang berlebihan", tapi lebih
kan sebagai pengawasnya. Kebanggaan-diri Hawking
hancur: ini yaitu penghinaan yang tidak akan pernah
dilupakannya. Di Cambridge, Hawking tidak lagi
menjadi bintang. Cambridge memiliki bintang-bintang
sejati lain, dan sudah biasa menjadi tempat dilang-
sungkannya peristiwa-peristiwa ilmiah besar. Crick dan
Watson menemukan struktur DNA di Cavendish
Laboratory di Cambridge, dan mereka memperoleh
hadiah Nobel dalam waktu beberapa minggu sesudah
kedatangan Hawking. Pada saat yang sama, Kendrew
dan Perutz, juga dari Cavendish (dan masih di sana),
memperoleh Nobel untuk bidang kimia. Bahkan di
Fakultas Matematika Terapan dan Fisika Teoretis
(Department of Applied Mathematics and Theoretical
Physics/DAMTP), Hawking mulai merasa bahwa
segala sesuatunya sangat sulit. Satu jam belajar setiap
hari terbukti tidak cukup, dan kurangnya pemahaman
matematika yang dimilikinya semakin jelas.
Namun ini hanya satu bagian kecil dari sebuah
bencana besar. Saat masih di Oxford, selama tahun
terakhirnya, Hawking pernah terjatuh dari tangga dan
kepalanya membentur lantai. Akibatnya dia mengalami
kehilangan ingatan sementara. Teman-temannya ada
yang mengatakan bahwa peristiwa itu terjadi sebab
dia mabuk. Namun itu tidak hanya terjadi satu kali.
Dan kadang-kadang Hawking kesulitan memasang tali
sepatu. Dia berusaha berhati-hati saat berjalan di tangga,
saat itu; dan diterima dengan syarat dia lulus peringkat
pertama. Gampang, tidak masalah.
Hanya pada saat-saat terakhir keyakinan-diri
Hawking mengecewakannya. Dia tidak tidur pada
malam menjelang ujian akhir, dan saat ujian ada
beberapa pertanyaan yang tidak dijawabnya dengan
benar. Nilai akhir yang diperolehnya berada di batas
antara peringkat pertama dan kedua. Dan seperti biasa,
dalam kasus semacam ini, dia dipanggil wawancara
untuk menentukan nasibnya. Namun saat itu keyakin-
an-dirinya telah kembali. Saat dia ditanya tentang renca-
nanya, dia menjawab: "Jika say a memperoleh peringkat
pertama, saya akan ke Cambridge, jika kedua, saya
akan tetap di Oxford. Namun saya berharap anda akan
memberi saya peringkat pertama." Menurut Dr. Berman:
"Mereka cukup cerdas untuk menyadari bahwa mereka
tengah berbicara dengan seseorang yang jauh lebih
cerdas dari mereka." Hawking memperoleh peringkat
pertama, dan pada musim semi 1962, pada usia dua
puluh tahun, dia tiba di Trinity Hall, Cambridge.
Kedatangannya di Oxford dianggap sebagai peristiwa
buruk; tapi di Cambridge bahkan lebih buruk lagi.
Sebagai awalnya, dia mendapati bahwa Hoyle tidak
mempedulikannya sama sekali. Asisten Hoyle ditugas-
ingin menemui spesialis terkemuka di London Clinic.
Namun Hawking dengan tenang mengatakan padanya:
" Sebenarnya tidak ada yang bisa kita lakukan. Kurang
lebihnya begitu."
Meskipun kata-katanya cukup berani, namun se-
sungguhnya dia sangat terpengaruh. Seorang gadis yang
ditemuinya di pesta Tahun Baru, beberapa waktu sebe-
lum dia masuk rumah sakit, tampaknya sangat kagum
pada sikapnya yang tegas. Saat dia bertemu Hawking
beberapa waktu kemudian, "Keadaannya benar-benar
menyedihkan. Menurutku dia sudah kehilangan ke-
inginan untuk hidup." Hawking kembali ke Cambridge,
dan terjebak dalam depresi akut. Selama beberapa bulan
dia tidak keluar rumah. Hanya suara keras rekaman
karya-karya Wagner dan botol-botol vodka kosong yang
keluar dari kamarnya.
Namun secara bertahap depresi tragis ini mulai
hilang. Gadis yang ditemuinya di pesta malam Tahun
Baru datang untuk mengunjunginya di Cambridge. Saat
itu gadis ini baru berusia delapan belas tahun,
namanya Jane Wilde. Dia sekolah di St. Albans High
School, dan berencana melanjutkan pendidikan ke
London University di tahun berikutnya.
Jane yaitu seorang pemalu. Saat Hawking pertama
kali memberitahunya bahwa dia mengambil jurusan
kosmologi, Jane perlu mencari kamus terlebih dulu
namun dia kadang tetap merasa kesulitan memasang
tali sepatu.
Suatu hari saat pulang ke rumah dari Cambridge,
di akhir semester pertama, ayahnya memutuskan untuk
mengajaknya ke rumah sakit untuk diperiksa. Hasilnya
sungguh di luar dugaan semua orang. Dia didiagnosa
menderita amyotrophic lateral sclerosis (ALS), atau
yang lebih dikenal sebagai penyakit Lou Gehrig.
ALS yaitu sebuah penyakit degeneratif progresif
pada sel syaraf di tulang belakang dan otak. Sel-sel ini
mengendalikan aktivitas otot, dan saat penyakit ini
semakin berkembang, otot-otot tubuh mengecil se-
hingga menyebabkan seseorang tidak bisa bergerak,
bahkan berbicara. Tubuh menjadi berada dalam keadaan
vegetatif, namun otak masih tetap jelas dan berfungsi
sepenuhnya. Dan proses komunikasi sama sekali tidak
bisa dilakukan. Penyakit ini biasanya berakhir dengan
kematian dalam beberapa tahun. Pada tahap-tahap akhir,
pasien diberi morfin untuk menetralkan pengaruh
depresi kronis dan teror.
Reaksi Hawking persis dengan karakter dan lingkup
perkembangannya. "Fakta bahwa aku menderita pe
nyakit yang tidak bisa disembuhkan dan kemungkinan
besar aku akan mati dalam beberapa tahun memang
cukup mengejutkan. Bagaimana mungkin ini bisa
terjadi?" Reaksi ibunya kurang begitu menerima. Dia
KEHIDUPAN DAN KARYANYA
memakai tongkat untuk berjalan. Para dokter
selanjutnya memperkirakan bahwa harapan hidupnya
tinggal dua tahun. Saat itu, Hawking merasa tidak ada
gunanya mulai menulis tesis untuk gelar Ph.D., jika
dia harus mati sebelum sempat menyelesaikannya.
Hawking terus bertemu dengan Jane, namun ber-
usaha agar segala sesuatu yang sentimental tidak masuk
ke dalam hubungan mereka. Dia tidak suka dikasihani,
dan berusaha untuk tetap mandiri semampu mungkin.
Dia merasa seperti manusia normal, dan dia ingin
diperlakukan sebagai manusia normal. Dia menganggap
Jane sebagai "gadis yang sangat baik", dan Jane sendiri
diam-diam mengagumi keberaniannya. Dari perasaan
saling-kagum ini, bukan sentimental, dalam diri mereka
muncul pemahaman bahwa yang tidak mungkin yaitu
mungkin. Seperti kata Jane, mereka mulai menyadari
"bahwa kami bisa melakukan sesuatu yang berguna
dalam hidup ini."
Akhirnya mereka bertunangan. Bagi Hawking, inilah
"yang paling penting". Dia sekarang memiliki sesuatu
yang layak diperjuangkan. Namun jika dia mau meni-
kah, dia tentu butuh pekerjaan, dan untuk memperoleh
pekerjaan dia butuh gelar Ph.D.
Keyakinan-diri Hawking kembali, dan dia mulai
berpikir tentang permasalahan yang tepat untuk tesis
Ph.D.-nya. Dia merasa beruntung. Kosmologi tidak
untuk mengetahui artinya. (Orang jenius memang tidak
menjelaskan hal-hal semacam ini.) Jane yaitu seorang
yang optimistik dan percaya pada Tuhan. Segala sesuatu
pasti ada tujuannya; dan seburuk apa pun yang kita
alami, pasti akan ada hikmahnya. Hawking sudah lama
"meninggalkan" kepercayaannya pada Tuhan, namun
sikap Jane membuatnya menyadari sesuatu. Dia me-
miliki kemauan yang kuat, dari dulu sudah begitu:
Dan itulah rahasia keberhasilannya. Mengapa pula harus
diubah sekarang?
"Sebelum didiagnosa, aku merasa sangat bosan dalam
hidup ini," katanya. "Tampaknya tidak ada sesuatu pun
yang layak dilakukan." Tapi sekarang semuanya berbeda.
"Aku bermimpi akan dieksekusi," katanya, "lalu tiba-
tiba aku sadar bahwa banyak sekali hal yang bisa aku
lakukan, jika saja hukuman itu ditangguhkan." Dalam
hal ini dia secara mental mengalami "penyembuhan".
Namun secara fisik, kondisinya tidak begitu baik.
ALS tidak berkembang dalam cara yang biasa. Setiap
gejala kenaikan biasanya diikuti dengan penurunan,
semacam proses stabilisasi yang bisa berlangsung dalam
jangka waktu cukup lama. beberapa dokter mengatakan
pada Hawking bahwa penyakitnya tengah memasuki
salah satu periode "datar" ini; namun ternyata perkiraan
mereka meleset. Penyakit ini terus berkembang,
dan sesudah beberapa bulan, Hawking terpaksa harus
Selama bertahun-tahun kosmologi dianggap sebagai
ilmu-semu, dan secara otomatis juga banyak menarik
minat para ilmuwan-semu. Gagasan-gagasan besar
tentang semesta yang didukung dengan berbagai
pcrhitungan rumit telah berhasil menarik perhatian
publik (dan juga membingungkan mereka). Gagasan-
gagasan semacam ini layaknya dinosaurus ilmu
pengetahuan modern: besar, sederhana, dan hampir
punah. Beberapa pertanyaan tajam diajukan. Para
ilmuwan lain lebih menyukai ilmu pengetahuan murni,
yang bisa dibuktikan melalui eksperimen. Orang-orang
hanya diharapkan menerima dengan penuh kekaguman
berita-berita terkini tentang alam semesta. Tidak ada
keberatan yang perlu diajukan.
Menjelang awal tahun 1960-an, semuanya mulai
berubah. Penemuan-penemuan besar di awal abad ke-
20 —teori relativitas dan kuantum —telah mengubah
pandangan kita tentang dunia subatom dan semesta
raya. Relativitas berarti bahwa ruang yaitu meleng-
kung (kurva) dan semesta memiliki batas. Namun
hanya belakangan ini saja teori relativitas dan kuantum
banyak diterapkan dalam berbagai detail tentang
semesta, baik dalam skala subatom atau galaksi. Apa
saja pengaruh gagasan-gagasan ini pada berbagai eks
perimen yang membentuk semesta? Jawabannya lebih
gila dibandingkan dengan imajinasi fiksi-ilmiah paling
gila. Siapa yang bisa memahami tentang adanya lubang
hitam, sebuah lubang yang tak terlihat di mana ruang
dan waktu tidak ada?
memerlukan apa-apa selain teleskop, dan tidak perlu
eksperimen yang mengharuskan keahlian fisik atau
manipulatif. Satu-satunya yang jelas diperlukan yaitu
otak, dan otaknya yaitu salah satu bagian yang tidak
terpengaruh oleh penyakit yang dideritanya.
Tahun 1965, saat berusia dua puluh tiga, Hawking
mulai mengawali tesis Ph.D., dan bulan Juli dia me-
nikahi Jane. Pada musim semi tahun ini , Jane
pindah ke London untuk menyelesaikan kuliahnya di
universi tas , dan setiap akhir pekan pulang ke
Cambridge. Hawking pindah ke rumah kecil berteras
yang jaraknya hanya seratus yard dari Fakultas
Matematika Terapan dan Fisika Teoretis, serta membeli
mobil kecil roda tiga yang digunakan untuk pergi ke
observatorium yang berada di luar kota.
Hawking semakin termotivasi, dan pikirannya
terfokus, tanpa banyak hambatan yang berarti. Dan
itu memang perlu. sebab persoalan-persoalan yang
akan dia pecahkan termasuk di antara persoalan paling
kompleks dan ambisius dalam kosmologi.
Hawking mencatat bahwa relativitas tidak sejalan
dengan fisika pada tingkat mekanika kuantum, jadi
otomatis tidak cukup untuk menjelaskan tentang lubang
hitam. Penyelidikannya atas hal ini selanjutnya mem-
berikan hasil-hasil yang sensasional.
Yang mengejutkan, keberadaan lubang hi tam
(meskipun dulu tidak disebut sebagai lubang hitam)
telah diprediksi jauh sebelumnya, yakni tahun 1783,
oleh seorang Inggris bernama John Michell, yang
kebetulan juga pemikir dan astronom terkemuka saat
itu. (Selain lubang hitam, dia juga menyatakan tentang
keberadaan bintang ganda, dan memberikan beberapa
prediksi yang mengagumkan tentang jarak antar
bintang.)
Michell mengatakan bahwa jika sebuah bintang
memiliki ukuran dan kepadatan yang cukup besar, maka
tidak ada sinar yang bisa memancar dari permukaan
bintang ini . Pengamatan yang dilakukannya
mendorongnya berteori bahwa semesta memiliki
bintang-bintang semacam ini dalam jumlah yang cukup
banyak, yang keberadaannya hanya bisa dideteksi dari
pengaruh gravitasi pada bintang atau planet-planet lain
yang terlihat di dekatnya.
Gagasan ini diperbaharui pada tahun-tahun pertama
abad ke-20 oleh astronom Jerman, Karl Schwarzschild.
Selama menjalani tugas militer di Rusia tahun 1916,
dia mulai memikirkan tentang implikasi-implikasi teori
relativitas Einstein yang baru saja diterbitkan saat itu.
teori ini menyatakan bahwa cahaya bisa dibelok-
kan oleh gaya tarik gravitasi. (Kehidupan di medan
perang di Rusia bisa dipastikan sama berbahayanya
dengan dalam perang-perang lain [di Eropa Barat], na-
mun kemungkinan pada saat itu ada sesuatu yang secara
intelektual menstimulasikan pikiran orang-orang: Pada
saat yang bersamaan, di Austria, Ludwig Wittgenstein
memikirkan tentang gagasan-gagasan yang selanjutnya
mengubah filsafat abad ke-20.)
Schwarzschild menunjukkan bahwa ada hal-hal
tertentu yang terjadi saat sebuah bintang runtuh oleh
gaya gravitasinya sendiri. Menurut teori Einstein ten
tang pengaruh gaya gravitasi pada cahaya, sesudah
melewati titik tertentu pengaruh gaya gravitasi akan
sedemikian besar sehingga tidak ada sesuatu pun,
bahkan cahaya yang bisa lolos dari medan gravitasi
ini . Titik ini tercapai saat bintang runtuh sampai
radius tertentu, bergantung pada massanya. Radius ini
yaitu titik di mana bintang yang runtuh berubah
menjadi lubang hitam. Matahari kita, yang radiusnya
saat ini yaitu 700.000 km, akan menjadi lubang hitam
saat radiusnya menyusut menjadi 3 km. [Di USA,
satuan ukuran panjang biasa memakai mil, 8 k m =
5 mil, peny.] Schwarzschild dengan memakai
27
relativitas telah berhasil membuktikan apa yang
diperkirakan oleh Michell.
Yang agak mengejutkan, Einstein menolak menerima
hasil-hasil temuan Schwarzschild -— meskipun temuan-
temuan itu didasarkan pada teorinya. Namun sampai
saat ini kita mengenali radius kritis di mana sebuah
b in tang menjad i lubang h i t am sebagai radius
Schwarzschild.
Satu tahun kemudian, Einstein mendapati bahwa
gagasan-gagasan kosmologisnya sekali lagi ditentang
kali ini dari astronom Rusia, Aleksandr Friedmann,
yang bekerja di St. Petersburg, yang selanjutnya disebut
Petrograd. Meskipun saat itu tengah berlangsung
Revolusi Rusia, Friedmann masih meluangkan waktu
untuk memikirkan bahwa gambaran Einstein tentang
semesta yang statis tidak benar. Dalam perhitungannya,
Einstein memasukkan sebuah "konstanta kosmologis"
yang disebutnya sebagai lamda. Hal ini memunculkan
pertanyaan apakah semesta yaitu statis. Friedmann
menunjukkan bahwa tidak ada pembenaran yang bisa
diberikan dalam membuat asumsi semacam itu.
Friedmann mengambil langkah berani dalam meng-
asumsikan bahwa semesta dipenuhi dengan awan
materi tipis. (Hasil-hasil temuan modern menegaskan
bahwa asumsi yang sembrono ini terbukti dalam ber-
bagai perhitungan makrokosmos, meskipun tentu saja
ada yang tidak cocok.) Dari model ini, dan dari versi
modifikasi dari perhitungan Einstein, Friedmann mampu
menunjukkan bahwa semesta meluas atau memuai.
Sekali lagi, Einstein memilih untuk tidak setuju.
Asumsi-asumsi teoretis Friedmann memperoleh
penegasan dari pengamatan praktis tahun 1928 oleh
astronom Amerika Edwin Hubble (yang kemudian
namanya diabadikan sebagai nama teleskop ruang
angkasa). Tanpa mengetahui tentang teori-teori Einstein
ataupun Friedmann, Hubble mulai mempelajari red
shift atau geseran merah atas lebih dari selusin galaksi
yang berbeda, dengan memakai teleskop seratus
inci di Mount Wilson. (Red shift yaitu perubahan
garis dalam spektrum cahaya yang menunjukkan kece
patan yang relatif terhadap pengamat.) Hubble mene-
mukan bahwa kecepatan surut galaksi-galaksi ini
semakin besar jika jaraknya semakin jauh dari bumi.
Ini yaitu bukti praktis pertama atas semesta yang
meluas.
Perkembangan teoretis besar selanjutnya terjadi lima
tahun kemudian, masih dari Rusia. Aksi pembersihan
yang dilakukan Stalin dilangsungkan secara besar-
besaran. Mungkin ilmuwan yang berdedikasi tinggi
mampu mengabaikan Revolusi Rusia yang tengah ber
langsung saat itu, namun teror Stalin yaitu hal lain.
Para tentara dengan mengenakan mantel panjang me-
ngetuk pintu rumah-rumah dan memaksa masuk —
meskipun anda saat itu tengah super sibuk dengan
perhitungan-perhitungan kosmologis. sesudah para
jenderal dan pemimpin partai ; para ilmuwan tengah
dicari untuk menjadi saksi ahli dalam persidangan.
Fisikawan teoretis Lev Landau tahu bahwa dia berada
dalam masalah besar: bukan hanya sebab dia baru saja
pulang dari luar negeri, namun sebab dia juga seorang
Yahudi. Landau memutuskan bahwa harapan satu-
satunya yaitu dengan menjadi terkenal di seluruh
dunia sehingga perannya sebagai saksi terbukti akan
memalukan bagi Utopia Soviet. Lalu dengan cepat dia
menulis beberapa gagasan kosmologis sensasional yang
telah lama dipikirkannya; dan dikirim ke sahabatnya,
fisikawan besar Niels Bohr di Kopenhagen. Dalam
surat pengantarnya, Landau meminta bantuan Bohr.
Jika Bohr merasa gagasan-gagasan ini cukup
bermanfaat, dia meminta agar Bohr memakai
"pengaruhnya" agar bisa terbit di Nature, jurnal ilmiah
internasional terkemuka.
Beberapa waktu kemudian Bohr menerima telegram
dari surat kabar resmi Izvestia yang bertanya apakah
gagasan-gagasan Landau cukup bermanfaat. Bohr sendiri
tidak puny a waktu untuk mempelajarinya, namun
dengan cepat dia memperoleh gambarannya. Dia
mengirim pesan yang penuh pujian ke Moskow, dan
memastikan bahwa paper Landau diterbitkan di
Nature. (Landau ditangkap tahun 1938 — namun
dilepaskan kembali sebab dianggap sebagai suatu
"kesalahan".)
Landau selama beberapa tahun berspekulasi tentang
bagaimana bintang-bintang menghasilkan energi yang
cukup besar untuk memancarkan panas. Dalam paper
yang diterbitkan Nature, dia mengajukan teori bahwa
inti bintang terdiri dari sebuah bintang lain yang super-
padat dan terbentuk dari partikel-partikel subnuklir
tak bermuatan, yang disebut sebagai neutron. (Sebuah
bintang seperti matahari diperkirakan memiliki bintang
neutron yang berukuran sekitar sepersepuluh dari
massanya, namun sangat padat dan hanya memiliki
radius 1 km.) Energi panas yang luar biasa besar dari
sebuah bintang dihasilkan oleh penyerapan gas oleh
bintang neutron yang ada di dalamnya.
Paper Landau ditulis dengan terburu-buru, dan di
terbitkan sebelum dia sempat memikirkannya kembali
secara menyeluruh. Paper ini dibaca oleh pakar fisika
kuantum Amerika, Robert Oppenheimer dan asisten-
nya, Hartland Snyder, yang sebelumnya bekerja sebagai
sopir truk di Utah.
Oppenheimer dan Snyder menemukan banyak
kelemahan dalam paper Landau, namun menerima
gagasan dasarnya. Menurut Oppenheimer dan Snyder,
saat sebuah bintang berukuran besar kehabisan bahan
bakar nuklirnya dan mati, bintang ini selanjutnya
menyusut disebab kan gaya gravitasinya sendiri. Pada
titik tertentu, bintang ini menyusut sampai pada radius
kritis, di mana bahkan cahaya tidak mampu lolos dari
permukaannya. Pada titik ini bintang ini menjadi
terisolasi dari benda-benda langit lainnya, dan "horizon
peristiwa satu-arah" terbentuk. Partikel dan radiasi bisa
masuk, tapi tidak ada yang bisa keluar. Singularitas
ruang-waktu terbentuk, di mana dimensi-dimensi ruang
dan waktu lenyap. Tidak ada apa pun yang bisa dipakai
untuk menjelaskan apa yang terjadi dalam horizon ini;
dan Oppenheimer bahkan menolak untuk berspekulasi.
Oppenhe imer dan Snyder mempublikasikan
temuan-temuan mereka di Physical Review tanggal 1
September 1939, bertepatan dengan saat Hitler
menginvasi Polandia, yang menjadi awal Perang Dunia
II. Dalam terbitan Physical Review yang sama, Niels
Bohr dan John Wheeler, fisikawan Amerika, mener-
bitkan sebuah artikel tentang fisi nuklir (yakni, meka-
nisme yang diperlukan untuk membuat bom atom).
Kebetulan saat itu Oppenheimer menjadi pimpinan
Manhattan Project, proyek pembuatan bom atom
pertama. Bertepatan dengan hari pertama Perang Dunia
II, metode penyelesaian pembuatan bom atom diter-
bitkan — beserta sebuah paper lain. Namun saat itu
paper Oppenheimer tidak banyak mendapat perhatian:
Dunia tengah menghadapi sesuatu yang lebih penting
untuk dipikirkan.
Wheeler akhirnya mengalihkan perhatian pada pem
buatan bom hidrogen, namun saat dia selesai mencari
cara bagaimana menghancurkan bumi ini, dia sekali
lagi mengalihkan perhatian pada alam semesta. Untung-
nya kosmologi lebih berhubungan dengan holisme
dibandingkan dengan bencana pembasmian, meskipun
Wheeler masih mengajukan beberapa pemikirannya
dari bidang sebelumnya. Wheeler yaitu seorang eks-
tremis sayap-kanan, seorang Amerika ortodoks di era
anti-komunis McCarthyite tahun 1950-an. Sementara
itu Oppenheimer pernah tidur dengan seorang komunis
— yang berarti bahwa meskipun dia memenangkan
perang sebab membuat bom atom, namun dia tetap
seorang mata-mata komunis. Wheeler juga tidak setuju
dengan gagasan-gagasan kosmologis Oppenheimer,
namun akhirnya terpaksa mengakui bahwa mungkin
ada sesuatu dalam gagasannya tentang singularitas
ruang-waktu yang terdapat dalam horizon peristiwa
satu-arah. Dan dia melangkah lebih jauh dan menama-
kannya "objek yang runtuh sepenuhnya sebab gaya
gravitasinya sendiri": Dia bermaksud menamakannya
"lubang hitam". Mungkin ini sebab dia merasa tidak
boleh setuju dengan semua yang dikatakan Oppen
heimer. Wheeler menyatakan bahwa ada kemungkinan
untuk menjelaskan apa yang terjadi dalam lubang hitam,
yaitu perpaduan antara relativitas dengan fisika kuan-
tum.
Namun di awal tahun 1960-an, banyak orang yang
masih meragukan keberadaan lubang hitam itu sendiri.
Dan memang, kecurigaan politik Wheeler terbukti
saat sekelompok ilmuwan Soviet menyatakan telah
berhasil membuktikan bahwa singularitas ruang-waktu
(lubang hitam) sesungguhnya tidak mungkin ada.
Menurut mereka, singularitas ruang-waktu semacam
ini hanyalah dugaan teoretis yang salah dan muncul
sebab ada yang mengasumsikan bahwa bintang-bintang
besar yang runtuh menyusut secara simetris. Hanya
dengan cara inilah medan gravitasi akan terfokus pada
satu titik, dan mengakibatkan singularitas ruang-waktu.
Tanpa adanya penyusutan atau pengerutan simetris ini,
tidak akan ada singularitas. Dan simsalabim: lubang
hitam juga tidak ada.
Seperti yang bisa kita lihat, kosmologi di awal tahun
1960-an, saat Hawking masuk, tengah berada dalam
keadaan yang sangat tidak tetap. Dan "ajaran" yang
masih diyakini di Cambridge yaitu teori tentang
semesta yang dalam kondisi tetap, tidak berubah, yang
diusulkan oleh Hoyle. Menurut teori ini, semesta tidak
memiliki awal dan tidak memiliki akhir, tapi selalu
ada — tingkat kepadatan rata-ratanya juga konstan
(atau dengan kata lain, tetap atau statis). Dan Hoyle
jugalah yang pada tahun 1950-an memelopori peno-
lakan terhadap teori big bang [yakni, ledakan kosmik
yang menandai asal muasal alam semesta, peny.], dan
mengejek gagasan tentang penciptaan semesta dan
menyamakannya dengan "seorang gadis yang gemar
pesta yang meloncat keluar dari kue."
Namun teori Hoyle juga bermasalah. Bagaimana dia
hisa menjelaskan tentang semesta yang meluas, seperti
yang diamati oleh Hubble? Untuk menjawab pertanya-
an ini, Hoyle mengusulkan gagasan bahwa bintang dan
galaksi secara terus-menerus tercipta di angkasa. Bagai
mana? Menurut Hoyle, sebab itu memang sudah men-
jadi properti semesta. (Dan untuk melengkapinya, dia
menambahkan bahwa bintang dan galaksi secara terus-
menerus juga menghilang ke dalam kegelapan jauh di
sana.)
Hoyle yaitu seorang yang ulet dan kadang terlalu
terburu-buru dalam mengemukakan pendapatnya untuk
mendukung teori statis. Dalam salah satu ceramah di
Royal Society London, dia menyampaikannya tanpa
terlebih dahulu melakukan perhitungan-perhitungan
untuk mendukung pendapatnya. Tanpa sepengetahuan
Hoyle, Hawking memperoleh informasi tentang
perhitungan-perhitungan awal Hoyle dari asistennya,
dan menemukan beberapa keanehan. Hawking memu-
tuskan untuk datang, dan melihat bahwa ceramah Hoyle
disambut dengan antusias. Hoyle lalu bertanya apakah
ada yang ingin mengajukan pertanyaan. Seorang maha-
siswa kurus berkacamata dan memakai tongkat
berdiri dengan susah payah. Ratusan peserta ceramah,
termasuk beberapa ilmuwan terkemuka, berpaling
untuk melihat si pendatang baru yang dengan sembrono
berani bertanya kepada sang pakar.
"Jumlah yang anda kemukakan menyimpang," kata
Hawking.
Semua orang berbicara sambil bergumam: Jika benar
demikian, apa yang disampaikan Hoyle berarti hanya
omong kosong.
"Tentu saja tidak menyimpang/' jawab Hoyle dengan
nada mengejek.
"Tapi menyimpang," kata Hawking bersikeras.
"Bagaimana anda tahu?"
"sebab saya telah menghitungnya," kata Hawking
dengan datar.
Beberapa orang tertawa kecil. Hoyle terbakar oleh
rasa marah. Siapa anak kurang ajar ini?
Hawking mengumumkan kedatangannya ke pang-
gung kosmologi dengan membawa misi balas dendam.
Namun masalah tentang apa yang terjadi dalam
lubang hitam masih ada. Mereka yang memilih pan-
dangan non-simetris tentang bintang yang runtuh,
seperti para ilmuwan Soviet, mulai mengembangkan
sebuah gambaran baru. Menurut gambaran ini; bintang-
bintang menyusut secara tidak beraturan dan sangat
kuat, sehingga "terbang" dan mengembang kembali.
Masalah ini ditangani oleh seorang matematikawan
muda dari Inggris bernama Roger Penrose. Dia me-
nerapkan metode-metode matematika baru pada
masalah tentang runtuhnya bintang dan menyampaikan
hasil-hasil yang menarik. Menurut teorema singu
la ritasny a, sebuah bintang yang runtuh akan mengalami
persis seperti yang diperkirakan Wheeler. Bintang
ini akan membentuk sebuah singularitas di mana
waktu dan hukum-hukum fisika tidak berlaku lagi.
Dan sekalipun menyusut secara tidak beraturan, namun
materi-materinya tidak terbang dan berkembang
kembali. Sebuah bintang besar yang runtuh akan
menyusut sampai pada radius horizon peristiwa dan
menjadi lubang hitam. (Untuk bintang yang ukurannya
sepuluh kali lebih besar dari matahari, radius horizon
peristiwanya yaitu 30 km.) Penrose juga menyatakan
bahwa di luar titik ini, bintang ini akan terus
menyusut. Ini sejalan dengan gambaran yang dibentuk
oleh teori relativitas. Saat medan gravitasi semakin
menguat, semua cahaya; materi, dan ruang-waktu akan
tertarik ke dalamnya dengan intensitas yang semakin
besar. Dan memang, bintang itu akan terus menyusut
dengan intensitas yang semakin besar sehingga akhirnya
memiliki volume nol dengan tingkat kepadatan tak
berhingga. Dengan kata lain, bintang ini menen-
tang hukum gravitasi dalam artian memiliki massa
namun tidak memiliki dimensi. Demikian juga, ruang-
waktu dan cahaya tidak ditarik menuju ke sebuah
lubang; namun berputar-putar selamanya sampai
akhirnya hilang.
Semua ini terjadi dalam horizon peristiwa, dan
tentu saja tidak bisa diamati. Namun horizon peristiwa
tidak menyusut atau runtuh dalam cara apa pun: tapi
tetap sama — pada titik di mana sebuah bintang ber-
ubah menjadi lubang hitam. (Sebagai contoh, horizon
peristiwa untuk bintang dengan ukuran sepuluh kali
lipat matahari, radius horizon peristiwanya tetap 30
km sementara bintang itu sendiri menyusut sampai
tak berhingga.)
Hawking mulai mempelajari gagasan-gagasan
Penrose secara lebih cermat, dan saat dia melakukan-
nya, sebuah gagasan menakjubkan mulai terbentuk
dalam pikirannya. Seperti halnya gagasan-gagasan besar
lainnya, gagasan ini cukup sederhana (meskipun per-
hitungan matematis yang dipergunakan untuk mendu-
kungya tidak bisa dibuktikan). Hawking bertanya pada
dirinya sendiri apa yang terjadi jika sebuah lubang hitam
mampu membalikkan keadaannya. Dia selanjutnya
menerapkan gagasan ini pada seluruh semesta. Mung-
kinkah semesta yang meluas ini tidak lebih dari sebuah
bintang raksasa yang runtuh lalu membalikkan keada
annya. Waktu lenyap dalam lubang hitam: jika proses
ini dibalik, maka waktu berarti diciptakan. Demikian
juga dengan ruang. Materi berasal dari sebuah objek
dengan kepadatan yang tak berhingga namun tidak
memiliki dimensi. Dan ini pasti yaitu big bang —
penciptaan pertama, tidak ada yang lain.
Teori relativitas berlaku dalam kedua cara ini .
Saat medan gravitasi menguat, ruang-waktu, materi,
radiasi, semuanya terkonsentrasi. Saat medan gravitasi
meluas dan melemah, ruang-waktu menjadi terbentang,
radiasi dan materi tersebar. Hawking berhasil menun-
jukkan bahwa pasti ada sebuah singularitas jauh di masa
lalu yang menciptakan waktu. Dan jika semesta ber-
henti meluas dan mulai menyusut, pada akhirnya ia
akan meledak dan berakhir menjadi singularitas —
atau yang disebut big crunch. Tidak ada pertanyaan
yang perlu diajukan tentang apa yang terjadi sebelum
semesta berawal, atau apa yang terjadi sesudah berakhir
— sebab dalam situasi semacam ini tidak ada yang
namanya waktu. Ruang juga tidak ada, apalagi materi.
Hawking menjelaskan bagaimana semesta berawal.
Dia menunjukkan bagaimana proses terjadinya big
bang, bagaimana semua itu berasal dari sebuah lubang
hitam yang membalik keadaannya. (Meskipun para
ilmuwan Soviet tetap bersikeras bahwa lubang hitam
tidak ada dan Hoyle terus mempertahankan teori
statisnya.) Pembicaraan tentang teori Hawking yang
menakjubkan mulai tersebar dan diterima secara luas
kecuali oleh orang-orang Soviet dan orang-orang dari
Namun kosmologi tetap merupakan dunia yang kecil,
dan kejayaan Hawking terbatas hanya pada hal-hal yang
berkaitan dengan masalah semesta. Di dunia yang lebih
besar di kampus Cambridge, dia hanyalah seorang jenius
pinggiran (dan banyak yang seperti ini). Namun legenda
terus berkembang. Para mahasiswa di DAMTP mulai
terbiasa bertemu dengan seorang tokoh kurus berkaca-
mata dengan tongkatnya, yang dengan kasar selalu me-
nolak apabila ada yang menawarkan bantuan. Seringkali
dia harus berhenti selama beberapa menit sambil ber-
sandar di dinding ketika menaiki tangga. Saat itu sudah
empat tahun berlalu semenjak dia divonis hidupnya
hanya tinggal dua tahun, dan semakin banyak orang
yang menyarankannya untuk memakai kruk. Namun
dia menolak: Kruk tidak hanya membuatnya terlihat
seperti cacat namun juga lebih susah memakai nya.
Hawking masih sama dengan yang dulu, dan
tubuhnya masih jauh dari tidakberdaya. Tahun 1967,
anaknya, Robert, lahir; dan meskipun saat itu sudah
memakai kruk namun dia masih meluangkan
waktu berjam-jam pada pekerjaannya. Dia merasa
sangat antusias dengan apayang dilakukannya. Ironis-
nya, dia merasa lebih bahagia dibandingkan sebelum
sakit, begitulah kira-kira menurutnya.
Namun semua itu tidak mungkin terjadi tanpa ada-
nya dukungan penuh dari istrinya, Jane. Hidup dengan
seorang yang "kurang-lebih jenius", yang memiliki
keistimewaan tertentu, memang tidak mudah. Saling
marah sudah menjadi hal biasa, dan Hawking tetap
lebih dari sekadar mampu dalam mengekspresikan
kepribadiannya. Meskipun dia jenius dan cacat, namun
dia tetap bersikeras untuk diperlakukan sebagai manusia
biasa. Dan meskipun mengalami berbagai kesulitan,
dia masih mampu melakukannya. Perkawinannya tidak
sepenuhnya terlepas dari apa yang dia lakukan. Jane
bertugas mengetik papernya dari berbagai catatan serta
dengan cara didikte, namun tidak berlangsung lama
sebab suaminya mulai mengalami kesulitan bicara.
Hawking sekarang semakin kuat melakukan per-
hitungan matematika secara mental (tanpa alat bantu),
melatih diri untuk mencapai keterampilan otak yang
luar biasa sehingga mampu mengakomodir [perhitung-
an-perhitungan rumit). Demikian juga, Hawking mulai
terbiasa mengomunikasikan pemikiran-pemikiran
intelektualnya hanya bila sudah dalam bentuk yang
meyakinkan. Kekuatan daya ingat, konsentrasi dan
kemampuan mental memang sangat diperlukan dalam
pekerjaannya. Sebuah penjelasan dari kehendak yang
kuat. Dan yang paling penting yaitu kemampuan
semesta "dunia-datar". Hawking telah menunjukkan
dirinya sebagai bintang utama di panggung kosmologi.
kreatif dalam menciptakan pemikiran-pemikiran baru
dalam tataran tertinggi. Dan dia terus melakukannya.
Saat ketenaran Hawking mulai tersebar, dia mem-
bentuk sebuah kelompok yang terdiri dari beberapa
peneliti berbakat dan mereka bekerja sama dalam
melakukan penyelidikan atas lubang hitam. Pada tahun
1971, Hawking memperoleh gagasan bahwa sesudah
peristiwa big bang, beberapa "lubang hitam berukuran
mini" terbentuk. Lubang hitam ini sedemikian padat
dengan massa satu milyar ton namun ukurannya tidak
lebih besar dari sebuah photon, partikel elementer
yang memancarkan cahaya. Hawking menunjukkan
bahwa lubang hitam mini ini cukup unik — ia memiliki
massa dan gaya berat yang sangat besar sehingga tunduk
pada hukum relativitas, namun sebab ukurannya yang
sangat kecil maka ia juga tunduk pada hukum mekanika
kuantum. Ini menunjukkan bahwa kedua hukum yang
sering konflik ini "pada awalnya" yaitu satu. Dalam
hal ini ada kemungkinan bahwa di masa mendatang
kita bisa mengembangkan sebuah teori terpadu yang
mencakup hukum-hukum teori relativitas dan meka
nika kuantum. Namun untuk saat ini, kemungkinan
sensasional semacam ini bahkan masih cukup aneh
untuk bisa diterima.
Dan memang, yang terjadi yaitu sebaliknya. Sebuah
singularitas yang diciptakan oleh runtuhan gravitasional
memiliki arti bahwa semua hukum fisika tidak berlaku.
Mengejutkan, menakutkan, gilal Namun sebab peris
tiwa ini terjadi dalam lubang hitam, maka kita tidak
bisa mengamati: kita tidak diizinkan mengamati peris
tiwa ini oleh semacam "badan sensor kosmik".
Namun jika hukum fisika tidak berlaku, ini berarti
kita tidak bisa memprediksi apa yang mungkin akan
terjadi di masa mendatang. Dengan kata lain, ilmu
pengetahuan memiliki lubang yang sangat besar di
dalamnya.
Secara filosofis, ilmu pengetahuan saat ini tengah
dihadapkan pada dua kemungkinan yang sensasional
sekaligus saling berkonflik satu sama lain, dan keduanya
bisa disebut sebagai "akhir dari ilmu pengetahuan".
Lubang hitam mini mengisyaratkan bahwa suatu had
nanti kemungkinan akan ada sebuah teori yang mampu
menjelaskan segala sesuatu. Pada saat yang sama, lubang
hitam yang lebih "biasa" mengisyaratkan bahwa semesta
mungkin tidak bisa dijelaskan secara ilmiah — dan
mungkin memang tidak ilmiah sama sekali. Saat ini,
ilmu pengetahuan telah mencapai tahap filosofis
terakhir. Ia tengah hidup dalam ancaman besar — ada
dua kemungkinan dari apa yang ada di hadapannya:
menjadi sempurna atau hancur. Akhir dari ilmu penge
tahuan telah berada di ambang pintu!








